Monday, April 16, 2012

Dibalik Keajaiban Pernikahan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirahmanirahim
Kali ini aku tidak akan menulis tentang hukum-hukum yang berkenaan dengan sebuah pernikahan seperti yang pernah aku tulis diposting sebelumnya, tapi aku mencoba share tentang pengalamanku pada saat-saat pra nikah. Banyak diantara teman-teman khususnya kaum pria yang masih gamang dan bimbang saat menghadapi pernikahan, seperti apa yang terjadi pada si Dody salah satu teman tapi sudah seperti adikku sendiri. Kemaren dia datang kerumah untuk curhat tentang itu.

Dody bercerita panjang lebar tentang kegelisahannya karena dari pihak keluarga calonnya menanyakan tentang keseriusan hubungannya. Wah jadi inget lagunya Armada, "mau dibawa kemana hubungan kita..." Pada intinya ketidak siapan para pria kebanyakan alasannya adalah pada masalah materi. Well aku tersenyum sendiri mendengar ceritanya si Dody, karena apa yang di hadapi persis dengan apa yang aku rasakan beberapa tahun yang lalu, akhirnya mau tidak mau aku harus cerita juga tentang masa laluku, agar sekali mendayung tiga atau empat pulau terlampaui maka apa yang aku sampaikan ke Dody, aku share juga disini, siapa tau ada manfaatnya bagi pembaca blog ini..., ceilleh.. ge-er.

Sungguh beruntung disaat-saat terakhir masa kuliahku aku sudah mendapatkan kerja dibidang graphic design di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang packaging, setidak-tidaknya bisa mengurangi beban orang tua untuk urusan biaya kuliah. Memang agak ribet juga membagi waktu antara kuliah dan bekerja, terlebih pada saat menghadapi ujian tapi alhamdulillah walau agak pontang panting akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku di fak Hukum di salah satu universitas di Surabaya. Walau hasilnya masih kurang memuaskan tapi juga tidak jeblok-jeblok amat.

Sama seperti yang dihadapi si Dody akupun mengalami hal yang serupa. Setahun setelah kelulusanku dengan tanpa sepengetahuanku ternyata orang tuaku dan orang tua calon istriku telah melakukan kesepakatan untuk segera meresmikan pernikahanku dengan istriku. Karena istriku keturunan dari jawa dan Arab sedangkan adat dan kebiasaan orang Arab tidak boleh berlama-lama menjalin hubungan atau istilahnya berpacaran. Kalau memang sudah saling suka harus segera diresmikan, memang benar sih Islam sangat menganjurkan untuk menyegerakan pernikahan apabila syarat-syaratnya sudah terpenuhi agar tidak menimbulkan fitnah.

pict taken here
Sungguh di luar dugaanku ketika ayah menyampaikan agar kami segera meresmikan pernikahan, padahal usiaku waktu itu masih kurang lebih duapuluh dua tahun. Haruskah aku menikah di usia yang relatif muda? sebagai manusia normal tentu berpikir seribu kali, berbagai pertanyaan datang dari hatiku, sanggupkah aku menjadi imam bagi keluargaku sedangkan untuk mengatur diri sendiri aja masih acak-acakan, dan sanggupkah aku memberikan nafkah bagi keluarga baruku.

Jangankan untuk menafkahi istri dan anak yg kelak akan lahir, untuk beaya hidup sendiri aja masih pas-pasan bahkan kadang masih tekor. Apalagi ada beberapa cicilan yang harus menjadi tanggunganku, salah satunya cicilan terbesar adalah motor yang menjadi teman setiaku waktu itu. Apakah aku sanggup?, apakah aku bisa..? itulah pertanyaan dalam hati yang tidak mampu kujawab. Apa harus mendompleng ke orang tua ?. Sebenarnya bisa tapi tidak mungkin itu kulakukan, karena sudah menjadi kesepakatan antara aku dan kakak-kakak apabila sudah berkeluarga harus berani ambil keputusan keluar dari rumah entah bagaimanapun caranya.

Aku merenung dalam kesendirian, aku percaya dan yakin bahwa keinginan orang tua adalah untuk kebaikanku, akupun punya filosofi bahwa segala sesuatu tindakan akan lebih nyaman dan afdhol apabila ada restu dari orang tua termasuk dalam hal pernikahan. Belajar dari pengalaman sang kakak rasanya akan sulit membangun mahligai rumah tangga tanpa restu sepenuhnya dari orang tua. Kali ini orang tua sudah memberi lampu hijau padaku maka tidak ada alasan menolak keinginan mereka. Tapi kenapa keraguan ini masih menghantui, rasa bimbang makin menghadang. Di bawah pohon mangga depan rumah aku masih duduk diam sendiri dengan berbagai kebimbangan yang tak berujung, aku masih ingat ketika Ayah memberikan nasihat atas kebimbanganku, beliau dengan diplomatis mengatakan

"Ayah bukan ahli dalam agama, tapi ayah yakin jika pernikahan akan menjadi penyebab kemiskinan maka sedari awal Islam tidak akan menyuruh umatnya menikah"  

Masuk akal juga sih apa yang disampaikan ayah tapi ternyata belum juga bisa meredam ketakutanku, ketakutan akan bayanganku sendiri. Aah...!! kepalaku mulai pusing kusandarkan kepala ini di kursi, kupandangi ranting dan dedaunan pohon mangga yang makin lama makin lebat, kulihat ada buah mangga yang menyembul diantara dedaunan. Warnanyapun mulai menguning, dalam hati ku berkata "jika aku punya istri mangga itu tidak bisa kumakan sendiri tapi harus kubagi berdua, berarti jatahku berkurang!". Ohw, pikiran bodohku tiba-tiba muncul, aku tersadar..! betapa tololnya aku ini kenapa aku tidak memohon kepada yang menciptakan mangga agar berbuah lebih banyak..? agar sekeluarga bisa menikmatinya bahkan bisa berbagi dengan orang-orang disekitarku..! Astagfirullah, setan mana yang merasuki pikiranku, sehingga aku melupakan yang menciptakan mangga, melupakan yang memberi rezeki padaku, padahal semua sudah diatur oleh Allah sang Maha pengatur kehidupan

Malamnya seusai sholat Isya’ aku sholat istiqoroh, memohon bimbingan pada pemilik jiwa dan ragaku, Ya Allah, jika yang diinginkan orang tuaku adalah baik bagiku yang bisa menambah keimanan kepada-Mu, maka segerakanlah dipertemukan dalam ikatan suci tali pernikahan, jika yang diinginkan orang tuaku tidak baik bagiku dan akan menjauhkan dari-Mu, maka bimbinglah aku untuk menuju jalan yang Engkau ridhoi. Tunjukkan jalan yang terbaik untukku, hanya Engkaulah yang maha tahu atas segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidupku. Subhanallah disuatu ketika aku seperti diingatkan dengan sebuah firman-Nya
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nur :32)

Coba kita garis bawahi firman ini "Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui"  berarti pernikahan bukanlah penyebab dari suatu kemiskinan, karena Allah sendiri yang berjanji akan memberikan rezeki bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh menikah untuk ibadah dan mencari ridhanya, seperti sabda Rasulullah kepada salah satu sahabat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridha-Nya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.(HR. Thabrani)

Alhamdulillah, Akhirnya aku bisa memenangkan atas diri-sendiri, menjadi yakin bahwa pernikahan bukanlah suatu beban, tapi suatu fase kehidupan yang harus dilalui, sebuah solusi bagi suatu kehidupan menuju muslim yang paripurna, sebagai pagar penjaga agar terhindar dari kemaksiatan. Dengan mengucap Bismillah kumantapkan hatiku, kubuang jauh-jauh rasa takut dan akan kuhadapi hidup dengan semangat baru seperti layaknya seorang mujahid yang hendak berangkat berjihad.

Tiba juga saat pernikahanku, dengan resepsi yang sederhana tanpa mengurangi kesakralan sebuah pernikahan. Statuskupun berubah, bukan lagi seorang laki-laki yang sendiri tapi jadi seorang imam bagi istriku. Aku menjadi suami bagi istriku yang bertanggung jawab sepenuhnya atas baik buruknya keluargaku. Aku bukan lagi laki-laki yang bisa bebas pergi kemana saja, bebas menentukan apapun yang diinginkan tapi harus juga memikirkan seorang pendamping dan berbagi serta berdiskusi untuk memutuskan sesuatu. Pada awalnya memang terasa berat tapi Alhamdulillah semua berjalan baik-baik karena semua aku jalani dengan perasaan enjoy bukan menjadi sebuah beban melainkan menjadkan sebuah ibadah.

***

Suatu hari telpon di meja kerjaku berdering, ternyata Bapak Direksi perusahaan meminta aku untuk datang diruang kerjanya, dengan hati penuh tanya kudatangi ruangannya. Direksi mempersilakan aku duduk, kamipun terlibat dalam sebuah pembicaraan serius tentang seputar pekerjaanku. Kujawab semua pertanyaannya dengan mantab dan diakhir pertemuan beliau mengatakan sesuatu kepadaku, dengan senyum beliau mengucapkan, "Selamat ! Karena kondite kerja anda bagus dan masa percobaan sudah lewat maka kami akan menaikkan salary anda terhitung mulai depan", katanya sambil menunjukkan sebuah angka padaku.

Alhamdulillah kenaikannya sangat diluar dari prediksiku, menjadi dua kali lipat, "Ya Allah, benarkah ini?", syukur Alhamdulillah kupajatkan kepada-Nya. Sebuah keajaiban telah kuterima dibalik pernikahanku. Terbukti benar bahwa Istri membawa rejeki tersendiri, saat ini aku telah membuktikan sendiri, belum genap tiga bulan pernikahanku ternyata Allah membalas tuntas keyakinanku akan janji-Nya yang tidak akan meleset. Bukan itu saja banyak keajaiban-keajaiban lain yang aku terima baik itu secara material ataupun sepiritual, dari sisi kehidupanpun aku menjadi lebih teratur dan terkontrol.

Setahun kemudian lahirlah seorang bayi mungil yang menjadikan kehidupan keluargaku, makin terasa lengkap dan indah. Lagi-lagi dengan kehadiran seorang anak juga membawa rezeki tersendiri. Allah memberikan limpahan rezekinya dari arah yang tidak terduga. Alhamdulillah bisnis yang kami jalankan ada progress yang cukup signifikan, suatu janji Allah yang tidak pernah luput. Tetapi sesungguhnya dengan kehadiran seorang bayi yang sehat di tengah-tengah keluargaku adalah suatu rezeki yang tidak bisa dibandingkan dengan nominal uang. Kami sungguh bahagia dengan rezeki tersebut dan masih banyak rezeki yang lain, salah satunya adalah telah berubahnya pola pikirku, telah berubah menjadi seorang ayah bagi seorang bayi dan harus mendidiknya dengan baik serta menjadi contoh yang baik pula.

Demikianlah sedikit yang bisa aku sampaikan tentang yang kurasakan pada saat-saat pra nikah. Dan kesimpulan yang dapat diambil adalah tidak ada yang perlu ditakuti, jangan pernah menganggap pernikahan adalah beban karena dengan menghindari pernikahan bukan berarti akan terhindar dari beban. Justru malah sebaliknya, hanya akan menambah beban baru sedang beban yang paling berat adalah adzab dari Allah Ta'ala. Pernikahan adalah sebuah kebutuhan fitrah bagi manusia, sebuah solusi atas dampak terjadinya perzinahan. Memang Rasulullah menganjurkan untuk berpuasa sebagai alternatif untuk menghindari kemaksiatan tapi bukankah puasa hanya solusi yang sifatnya sementara, sedangkan solusi utama tetap harus menikah sebagai sunatullah sekaligus sebagai sarana ibadah, yakinlah akan janji Allah

"Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki." (QS. Saba : 39)

"…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…." (QS. ath-Thalaaq : 2–3)

"…Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. ath-Thalaaq : 4)

Tidak ada dalam sejarah pernikahan sebagai penyebab kemiskinan,  janganlah hanya karena belum siap dalam hal materi kalian menunda-nunda pernikahan. Belum pernah kutemukan sebuah riwayat bahwa Rasulullah menanyakan "Berapa penghasilanmu dalam sebulan?" berapa kekayaanmu di tabungan.? tetapi yang ditanyakan adalah "apa yang engkau punya untuk dijadikan mahar ? mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran".

Jadi jika kalian beralasan belum siap karena dalam hal materi sedangkan kalian sudah mempunyai penghasilan, maka alasan itu sudah terbantahkan dalam Islam. Apakah masih ragu dengan janji Allah bahwa "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.." ingat ini adalah janji Allah yang tersurat dalam kitab Suci-Nya, dan ingatlah bahwa janji Allah akan selalu ditepati.

Yang terakhi. Jangan pernah merasa takut untuk berbuat kebaikan, jangan  pernah takut melakukan amalan yang benilai ibadah kepada Allah. Berikhtiarlah dan berikhtiarlah selalu untuk kemudian bertawakal kepada-NYA. Dan pesanku kepada orang tua yang mempunyai putra-putri yang sudah memenuhi syarat untuk menikah. Permudahlah, jangan karena silau dengan materi kalian mengingkari perintah Allah, janganlah hanya karena derajad dan pangkat kalian meninggalkan Sunnah Rasul. Semoga Allah merahmati kalian semua.

Wasssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
 

59 comments

April 17, 2012 at 4:09 PM

Saya merinding banget pas baca bagian ini mas "belum genap tiga bulan pernikahanku ternyata Allah membalas tuntas keyakinanku akan janji-Nya yang tidak akan meleset"

Do'akn saya utk bisa segera menunaikan pernikahan itu mas :)

Nice share, so nice so nice so nice ^^d

April 17, 2012 at 5:26 PM

nice post..
saya percaya dengan hal tersebut..
sayapun yakin Allah mengatur rezeki setiap orang sejak dia lahir. Tak seorangpun akan mati kelaparan berusaha dijalannya..seperti halnya tak seorangpun mati karena puasa..#dongeng masa kecil

April 17, 2012 at 7:20 PM

@Yudhi E. PutrantoInsya Allah saya berdoa untukmu, jangan menunda-nunda lagi, menikah memang berat, tapi menahan agar tdk bermaksiat jauh lebih berat

April 17, 2012 at 7:23 PM

@hafsariBetul Hapsari..., seekor cecak yang merayap tdk mengeluh walau makanannya binatang yg bisa terbang seprti nyamuk ataupun laron, rejeki sudah disediakan, tinggal mau apa tidak kita meraihnya.

April 17, 2012 at 8:38 PM

pertama saya mau tanya akhi menyampaikan itu semua ke Dody? ngga tidur tuh dia ngedengerinnya? :D *afwan*

kalau boleh share saya juga menikah muda, dan saat itu tidak ada sedikitpun rasa takut tidak bisa makan atau kelangsungan hidup selanjutnya, bukankah menikah malah membawa rizki? bukankah menikah menyempurnakan iman? apa yang lebih menyenangkan daripada bersama orang yang kita cintai setiap saat setiap waktu, tanpa ada rasa takut akan murka Allah karena mendekati zina. Bersegera menikah itu.. cool :D

April 17, 2012 at 8:48 PM

@NFhahahaha... ya tidurlah mbak

memang seharusnya begitu, mungkin kasus kita serupa tapi tak sama, sebagai laki2 memang di tuntut wajib untuk memberi nafkah keluarga, saya berpkir wktu itu sangat sederhana dan bodoh. lupa bahwa ada rezeki lain dibalik itu semua, pada intinya wktu itu takut dgn bayangan sendiri

makasih ya mbak udh share juga

April 17, 2012 at 9:16 PM

Pintu rezeki Allah senantiasa terbuka bagi orang yang telah menikah ..dan saya yakin itu, insyaallah segera menggenapkan setengah din :)...great kak insan postingan jadi motivasi bagi yg lain ckckkckkkckck..kompor meleduk duk..duk...duarrrrrrrrrr

April 17, 2012 at 9:51 PM

Subhanallah... Semoga Allah memantapkan hati mereka yang masih ragu akan keajaiban ini,, ^^

Nice share mas, gak nyangka mas Insan nikahnya lebih muda dari saya,, hehehe... :D

April 17, 2012 at 10:19 PM

mas insan terus terang ane udah komen panjang bgt disini saat publish trus error ni koneksinya..alhasil...ilang deh...wkwkk...#alibi

tulisannya mantep mas, hanya saja ada beberapa kasus di masyarakat dimana persyaratan menikah ala manusia itu masih banyak...mis. syaratnya harus memberikan duit 1 milyar (lebay.com)ke salah satu pihak...sementara dalam islam mahar dalam bentuk hapalan saja sudah cukup...bisa dibayangkan orang yg awalnya berpikir bagaimana kehidupan setelah menikah sudah kesandung duluan dengan hal2 pra nikah seperti ini... semoga bisa menjadi renungan bagi semua saudara2 muslim untuk tidak membuat aturan diluar tuntunan Rasul dan mendekatkan pada bid'ah...

April 17, 2012 at 10:27 PM

@meutia rahmahterimakasih ditambahin Tia, ini bukan ngomporin loh, cuman sedikit memprovokasi... hehehehe...
sama ya...?

biar pada meleduk spt kompor gas.

April 17, 2012 at 10:34 PM

@Miftahul Jannahloh benerkah..?? saya malah baru tau kalo adik Emje udah nikah...

April 17, 2012 at 10:45 PM

@NIT NOTmanteb sekali curcolnya, betul sekali masih banyak orang gagal menikah hanya karena tidak mampu membayar mahar yg kelewat tinggi, sehingga ada kesan jual beli barang, barang yg bagus harganya makin mahal, itu yg masih byk dialami saudara2 kita yg masih dibawah kungkungan adat setempat, saya berharap juga semoga para ortu memberi kemudahan putra/i nya menjalankan sunnah Rosul.

April 18, 2012 at 12:16 AM

Wew...
Postingan yang sangat menginspirasi, mas Insan..
Saya udah 22 tahun nih belum menikah :D
Targetnya sih umur 24, insya Allah..

April 18, 2012 at 7:59 AM

wedew.... di tonjok lagi sama kang insan....
sebenarnya sudah sangat ingin menikah kang, sekarang sedang berusaha menata diri dan pikiran untuk siap dalam menghadapi pernikahan dan rumah tangga. yang sempat baca komentarku ini, mari sama sama berdoa untuk aku dan mereka yang belum dibukakan jalan untuk menikah semoga di mudahkan jalannya ke sana dan dilapangkannya segala urusan yang akan di hadapinya ...

makasih kang sudah selalu mengingatkan...

April 18, 2012 at 9:54 AM

huuhuhu..tidak ada solusi yg paling konkrit bagi insan yg ingin menjaga hati selain dengan pernikahan yang berkah.. ya Alloh berikan disaat yg tepat,diwaktu yg telah Engkau gariskan untuk diriku,dirinya,diri kita semua,aamiin :)

April 18, 2012 at 11:41 AM

sebenarnya keinginan menikah sudah ada mas (apalagi dikompori teman2 dan lingkungan), tapi kesiapan batin yang belum di dapat, ketakutan pada lelaki asing yang akan jadi imam pun merajai hati. itu buat aku jadi takut dan lum siap untuk nikah..

Om Ridwan: aamiin ya RAhman ya Rohim, semoga ALLOH bukakan jalan menikah, melapangkan dan prmudah segalanya untuk aku, Om dan seluruh saudara seiman

April 18, 2012 at 12:21 PM

wuihh keren juga ya ya cerita masa lalunya mas...
suka yang ini "Ayah bukan ahli dalam agama Islam, tapi ayah yakin jika pernikahan akan menjadi penyebab kemiskinan maka sedari awal Islam tidak akan menyuruh umatnya menikah"
he he he

April 18, 2012 at 7:28 PM

Yaaa... Mas Insan ketinggalan berita nih, padahal aku udah posting diblog dan udah share di bloof lho mas,,,

Buruan kesini deh mas http://emjeaje.blogspot.com/2012/04/minggu-pertama.html

April 18, 2012 at 7:53 PM

@Sri Efriyanti az-Zahra Harahapmakasih Efriyanti, 22usia yg sdh lumayan dewasa, yah semoga bisa mendapat Imam yg baik, yg bisa membimbing menuju Jannah

April 18, 2012 at 7:56 PM

@MUHAMMAD RIDWANwah ketonjaok ya kang..?? biarin emang sengaja dipanas2in..

woke kang saya akan selalu mengaminkan doanya, selama itu untuk kebaikan

April 18, 2012 at 7:58 PM

@Nurul Inayah JoisangadjiInuy komentarmu sangat Diplomatis, saya juga mengaminkan doamu

April 18, 2012 at 8:01 PM

@Rima Auliasaya dulu mengalami hal yang sama, berbagai ketakutan, terutama ketakutan akan bayangan sendiri, akhirnya saya redam ketakutan itu dengan kalimat "Saya berjalan dijalannya Alloh, saya akan dijaga dan dibimbing Alloh, apa yang musti ditakutkan bila bersama Alloh.."

April 18, 2012 at 8:03 PM

@Ndeartapi masuk akal juga logika yang disampaikan Ayah, sangat tidak mungkin Islam menganjurkan hal2 yang buruk

April 18, 2012 at 8:06 PM

@Miftahul Jannahwahahahaha... maaf adik Emje.., woke biar gak di bilang ketinggalan berita langsung meluncur ke tekape deh...

April 19, 2012 at 6:28 AM

sekarang itu yang saya rasakan mas, mungkin karena jarak yang jauh jadi agak sulit. ditambah lagi karena kerja yang tidak mengenal waktu break, padahal sudah ingin sekali untuk menikah (bukan menunda). Tapi saat ini mulai terbendung oleh persaan antara anak yang ingin membahagiakan orang tuanya dulu, mungkin dari segi materi ditambah jarak hehe. Mudahan-mudahan Tahun Depan Jadi ah :D

April 19, 2012 at 8:17 AM

saya dulu juga menikah muda dengan keyakinan, 'carilah rezeki dalam pernikahan' ... dan memang seperti itulah adanya :)

April 19, 2012 at 8:39 AM

masya Alloh ...
subhanallah...
nikah itu indah... dan takkan bangkrut heheh..
sgala sswtunya berniat lebih indah dan mengikuti jejak sunnah ROsulNYA...
smoga menjadi keluarga samarah..aamiin...

saya dlu punya target 22 tahun menikah, tapi itu tak bsa menjadi patokan kakakkak.

postingannya bagus ^,^

April 19, 2012 at 7:31 PM

cukup panas nih postingannya mas.. bahkan saya pun merasakan panasnya.. :D
Masyarakat telah terkontaminasi gaya hidup yang matrealistis, bahkan terkadang kemiskinan seorang anak ketika telah menikah lebih dirasakan oleh orang tua dan keluarganya, padahal anak tersebut bahagia-bahagia aja.. kebahagiaan hanya diukur dari yang tampak2 aja.. makanya mahar makin mahal mas.. biar orang2 pada tau kalo menantunya orang berada.. -_-

April 19, 2012 at 11:16 PM

@auramanMas Aulia membahagiakan ortu kan tidak harus dengan materi, bahkan bisa melihat anaknya bahagia dan bisa menggendong cucu juga suatu kebahagiaan bagi ortu, percayalah mas

April 19, 2012 at 11:18 PM

@risabetul sekali, kenyataannya banyak orang yg berkecukupan setelah menikah

April 19, 2012 at 11:20 PM

@Annur EL- Kareemmakasih Adik Annur, semoga Allah segera memberikan seorang imam yg baik, yg bisa membimbing ke surga

April 19, 2012 at 11:23 PM

@Andro BhaskaraTidak bisa dipungkiri, jika masyarakat kita sdh terjangkit virus materialisme, segalanya di ukur dgn nominal harga, memang segalanya butuh duit, tp duit bukanlah segala2nya

April 20, 2012 at 2:03 PM

Ehm... Aku sih kapan ajha boleh kang.. tinggal nunggu calonnya yang cocok neh... wkwkwkwkwk #jawabanku OK kan? kalau gag bagus, minta solusi kakek insan...a..hihihi (ketawa ala Bernard Bear)

April 23, 2012 at 8:36 PM

@Latifah Ratihmasa kapan aja.. ya paling gak direncanakan dong, selanjutnya terserah yg pemilik jiwa

April 29, 2012 at 9:08 PM

Wow... postinganx inspiratif mas...
Terkadang kita menilai segalax dari materi. Laki-laki ragu2 menikah karena kurangx materi yang dimilikix.
Perempuan ragu2 menikah karena pekerjaan sang calon masih tidak tetap, dll (saya ngerasa nih)
pengaruh film drama kali ya, sampai2 perempuan zaman skrng matre2. Saya ingat dalam sebuah drama korea yg saya tonton ada kata2 seperti ini "masa depan seorang wanita tergantung pada laki2 yang akan dinikahinya" ckckckck... itulah pengaruh tontonan bisa memperngaruhi mindset.

Astagfirullah kenapa kt harus ragu dgn rezki di masa depan?? kan ada Allah yg menjaminx selama kita berusaha keras dan memohon kepadanya.

Alhamdulillah saya dapat hidayah lagi. Terima kasih mas ^^

April 29, 2012 at 9:53 PM

Subhanllah.. Makin memantapkan hati Ini.. untuk segera menyempurnakan agam syukran...mas postingannya begitu menyentuh.. :)

April 30, 2012 at 10:59 PM

aku merasa speechless, orang yang action lebih mantap dah "like this", semakin orang itu tau tentang agama insyAlloh semakin banyak yang mendukung pendapat tersebut :)

May 1, 2012 at 7:15 PM

@Nunumakasih Nunu, memang byk hal yang membuat org ragu utk menikah, sejujurnya semua rizki sdh disediakan tinggal bersediakah menggapainya. manusia dibayangi rasa takut, sehingga lupa bahwa rasa was-was adalah perasaan yg sdh di rasuki oleh setan yg bernama was-wasa, yakinlah akan janjinya Allah.

May 1, 2012 at 7:16 PM

@Berin Al-FatihAlhamdulillah mas Berin, kalau sdh waktunya bersegeralah, insya Allah akan lbh baik

May 1, 2012 at 7:18 PM

@Amalul A. Sudirasyukron mas Amalul, semoga saya menjadi bagian orang yg mendukung pendapat tsb

May 5, 2012 at 7:02 PM

Suka banget dengan statement ayah Anda "Ayah bukan ahli dalam agama, tapi ayah yakin jika pernikahan akan menjadi penyebab kemiskinan maka sedari awal Islam tidak akan menyuruh umatnya menikah"

jadi pingin segera nikah tapi hambatannya satu calonnya gak ada.

May 5, 2012 at 10:22 PM

Buzzzz Buzzz Buzzz
Asalam Mualaikum

Seperti di fb saya mengamati saja, keren tulisannya,

Salam Madu juga Sengat

May 6, 2012 at 5:01 PM

iya .............
ajaib deh......haha

June 20, 2012 at 3:08 PM

Pengalaman masa lalu yang Indah Mas..
Suka banget..

Jadi kalo dah merasa cukup umur dan siap, harus segera di nikahkan ya Mas..
Aku dulu perasaan paling telaat deh nikah usia 26 tahun hhehe...

June 20, 2012 at 3:23 PM

Aku jadi ingat masa pra nikah juga nih...
Waktu itu orangtua mau berangkat haji. Karena punya anak gadis yang sdh cukup usia nikah (24th) maka dgn persiapan yang ngebut Alhamdulillah aku dinikahkan sblm bapak ibu berangkat. Kata orang tua...supaya tenang beribadah di sana dan tidak ingin mempersulit aku dan calonku mewujudkan tujuan kami berhubungan.
Kalau ditanya siap atau tidak siap scr materi... ya jelas sama dgn mas Insan. Tapi ilmu matematika blm tentu sama dgn ilmu kehidupan. Rejeki bisa dari mana saja dan tdk selalu berwujud uang.
Alhamdulillah skrg sdh 17 thn dan dipercaya mendidik 5 org anak. Rasanya luar biasa anugrah Allah kpd kami.
*sekian curhatnya...qiqiqi*

June 20, 2012 at 3:54 PM

@juan matayupsungkapan yang diplomatis, tapi bener adanya

June 20, 2012 at 3:56 PM

@lebah Jakartawaalaikumsalam
terimakasih udah berkunjung

salam Buaya mematok aja deh.. xixixi

June 20, 2012 at 3:56 PM

@yishaTunggu apalagi..??

June 20, 2012 at 3:58 PM

@Nchie HanieSepertinya harus beggitu mbak Hanie, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan

June 20, 2012 at 4:02 PM

@nikenwah luar biasa, sangat luar biasa kedua ortu mbak Niken, salut juga buat mbak Niken yang berani mengambil keputusan besar, walau dengan persiapan singkat.

skrg sdh 17 thn bukan waktu yg singkat itu, semoga ttp rukun slalu dan tercipta keluarga samara

June 20, 2012 at 8:08 PM

Terkadang logika terlalu bermain ya mas
Tapi janji Allah nyata
Hitungan matematis jadi tidak berlaku kalau kita percaya

June 20, 2012 at 10:46 PM

@Esti SulistyawanBetul, terkadang kita2 ini takut dengan bayangan sendiri, padaha jelas2 Allah sdh menjanjikan melapangkan rezeki bg yang mau beriman

November 23, 2012 at 12:12 PM

Subhanallah..
saya terharu sekali membaca blog ini, terimakasih mas atas sharenya..

March 8, 2013 at 3:14 PM

ingin segera menikah. tapi bentrok di keinginan orang tua. orang tua sy ingin AKAD di tempat laki2, sdgkan pihak perempuan inginnya di tempat perempuan. :(

Anonymous
April 3, 2013 at 10:58 PM

Rico,

Masya Allah..terimakasih mas postingnnya..jujur aja, ane ada rencana mw menikah pd tahun ini..pikiran utama yg mengganggu sampai saat ini ya itu dy, materi mas..bgmn ya memantapkan hati spya yakin & berani melangkah maju k jenjang pernikahan itu sndiri?

April 24, 2013 at 8:20 AM

subahanallah :)
setiap makhluk sudah ditur rizkinya oleh Allah

September 27, 2013 at 5:19 AM

Umur q skrg 19thn. Sudah ingin menikah. Selalu di ejek oleh orang lain.. Tu membuat q sedih. Padahal aq mng percaya sm jnji allah. Dan ingin mndpt ridho allah.

September 27, 2013 at 5:21 AM

Umur q skrg 19thn. Sudah ingin menikah. Selalu di ejek oleh orang lain.. Tu membuat q sedih. Padahal aq mng percaya sm jnji allah. Dan ingin mndpt ridho allah.

Anonymous
September 28, 2013 at 4:46 PM

izin share ya gan, terimakasih ats informasinya. sungguh sangat bermanfaat.

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes