Tuesday, July 3, 2012

Arti Sebuah Kehilangan


Oleh: Titie Surya


                Dalam alur titian kehidupan yang kita jalani, selalu ada yang datang dan pergi sesuka hati. Seperti halnya pergiliran malam dan siang. Beredarnya rembulan dan matahari. Maka begitupun kematian adalah sisian jiwa kehidupan, yang tak pernah menyelisih waktu barang sedetik jika sudah tiba saatnya.

            Detik-detik menjelang Ramadhan, adalah saat di mana aku bermuhasabah karena diingatkan pada momen-momen kehilangan. Peristiwa yang satu persatu datang menghampiri jalinan cerita hidup yang kuanyam. Kematian yang selalu datang seiring tibanya Ramadhan. Ramadhan adalah dzikrul maut buatku. 

            Ramadhan selalu mengingatkanku saat usia 23 tahun pertama kali merasai sebuah kehilangan seorang lelaki yang kukagumi. Lelaki yang memberi pijakan pelajaran hingga aku menjadi penggila buku dan gemar menulis. Lelaki hebat yang kukagumi seumur hidupku, almarhum ayahku. Kapal yang kutumpangi serasa kehilangan nahkoda. Nyaris patah layar jika tidak dengan segala kesadaran, aku dan tujuh orang adikku bersepakat mengayuh bersama kapal yang kami tumpangi hingga mencapai sebuah pulau impian.

             Kedua kalinya kehilangan, aku bahkan tak sempat melihat jasad Ibunda. Disebabkan pesawat yang kutumpangi dari Singapura, di mana waktu itu aku kuliah dan bekerja, mengalami keterlambatan lima jam. Keterlambatan karena padatnya traffic udara di saat Ramadhan. Aku cuma bisa tergugu di sisi gundukan tanah merah basah. Tak sempat kubasuh kaki bunda dan kucium kerut di pipi dan matanya yang senantiasa berbinar tulus dalam lantun dzikir dan doa. Ketulusan yang mengantarkan delapan putra putrinya meraih sukses satu persatu. Aku cuma bisa memenuhi sebuah wasiat untuk segera menikah di usiaku yang ketiga puluh empat saat itu. Pernikahan dengan seorang lelaki berhati malaikat yang memberiku sebuah kehidupan yang sangat berharga.

            Pernikahan seumur jagung kujalani dengan lelaki terkasih. Imam yang mumpuni. Tak cuma menjadikan aku sebagai istri dan ratu di istana hatinya, melainkan diberikannya aku bekal ilmu yang tak pernah habis. Bersamanya aku menemukan bingkai sebagai seorang muslimah seutuhnya. Manisnya berumah tangga yang kucecap selama satu tahun dan sembilan bulan, menjadi sebuah kenangan indah tiada tara. Satu pesannya yang selalu kuingat saat sakaratul maut menggamitnya, “Dik, kamu sudah melewati banyak kehilangan, maka jika sekali lagi atau berkali-kali lagi kamu kehilangan, kuyakin kamu kuat. Kamu bukan perempuan cengeng. Aku bangga menjadi suamimu. Aku akan bersaksi kelak di hadapan Allah dan para malaikat, bahwa kamu adalah perempuan dan istri sholihah.”

           Duhai … perempuan mana yang tidak bahagia memiliki seorang suami sedemikian rupa. Ketika akhirnya maut memisahkan kami, lagi-lagi di bulan Ramadhan, ada yang kudekap erat di hati, kebahagiaan hakiki memiliki lelaki sejati dalam hidupku. Juga seorang bayi mungil yang saat kepergian Abi-nya masih berupa janin tiga bulan dalam kandunganku. 

            Aku berkarib duka dalam menjalani kehamilan putraku. Duka yang menoreh hati disebabkan kehilangan suamiku tercinta. Tapi kehadiran lelaki mungil dalam hidupku, sanggup menepis kelam yang kadang memagut jiwa. 

image dari sini
Namun rupanya Allah begitu sayang padaku. Sekali lagi diberinya aku “hadiah” berupa janji indah saat sekali lagi kematian menyapa hidupku. Kali ini putraku semata wayang, permata hati, sibiran tulang, pelipur laraku, diambil oleh Sang Empunya. Mataku sembab, hari-hariku berpayung awan kelabu. Berbuku-buku kubaca demi mencari sebuah pencerahan atas sekali lagi maut yang tak pernah menyalahi titah Sang Raja. Tahukah apa janji indah yang Allah berikan saat putraku diambil kembali? "Sesungguhnya bila seorang ibu mendapatkan kematian putranya, lalu ia mengucapkan hamdalah dan istirja, maka Allah akan membangunkan Baitul-Hamd baginya di surga" ( HR: Tirmidzi dan Ahmad). Subhanallah … ibu mana yang tak bahagia memiliki sebuah Baitul Hamd di surga? 

              Ramadhan selalu datang dan pergi. Seperti halnya kematian yang selalu menghampiri hidupku seiring datangnya Ramadhan. Hidup adalah sebuah anugerah terindah di atas dunia. Disebabkan karena hidup maka kehidupan terjadi. Pun bermula dari kehidupan maka kematian adalah suatu yang niscaya. Takdir yang tak bisa ditolak dengan cara apapun tidak juga dengan bersembunyi di manapun. Karena cepat atau lambat ia kan menghampiri tanpa pernah bisa kita duga bila datang menjemput. Setiap yang berjiwa akan berjumpa dengan takdir kematiannya masing-masing tanpa pernah bisa berlari darinya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Walan yuakh khirallahu idza jaa a ajaluha" yang artinya "dan Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah tiba ajalnya" (Qs Al-Munafiqun:11).
            Kita tidak pernah tahu bilakah tahun ini bisa berjumpa dan bercumbu dengan Ramadhan. Tapi kita tahu satu hal, bagaimana cara mengumpulkan bekal untuk menemui sebuah kematian, sebuah kehilangan. Kita juga seharusnya tahu bagaimana bersikap atas rasa kehilangan, apapun itu. Karena sesungguhnya jika kita kehilangan apapun, akan selalu ada gantinya. Tapi percayalah, takkan pernah kita mendapat ganti, jika kehilangan Allah. Karena itu, bersiaplah menghadapi apapun. Karena sesungguhnya setiap kejadian dalam hidup manusia memiliki takaran yang sesuai dengan kadar kemampuan kita masing-masing. Jika kalian bertanya padaku, apa makna kehilangan bagiku? Jawabku, kehilangan adalah hadiah yang kelak akan kuambil jika waktuku tiba. Lalu jika kalian bertanya apa makna kesedihan bagiku? Kesedihan itu adalah keindahan yang akan kupakai kelak sebagai pakaianku di yaumul hisab

                 Mari sambut Ramadhan dengan selaksa upaya. Agar ketika saatnya berpisah di awal Syawal, kita nyata-nyata kembali fitri. Ingatlah sahabat, bahwa perpisahan bagaimanapun membutuhkan sebuah persiapan. Mari mulai dari sekarang.


*Ditulis untuk blog Media Robbani. Medokan Ayu, 2 Juli 2012. Pukul 23.11 WIB.



Kontributor :


49 comments

July 3, 2012 at 5:57 AM

Innalillahiwa'innaillahi rojiuun...
Terharu membaca kisah ini. Kehilangan demi kehilangan justru makin mendekatkan diri kepada Allah.
"Kesedihan itu adalah keindahan yang akan kupakai kelak sebagai pakaianku di yaumul hisab." Merinding membaca bagian itu. Sebuah kedalaman iman yang sungguh telah berserah diri kepada Allah.
Saya langsung merenung setelah membaca ini. Trimakasih utk tulisan yang luar biasa ini mbak Titie...

July 3, 2012 at 7:03 AM

tulisannya bagus sekali, semiga kita bisa menjalankan ramadhan tahun ini dengan baik. siap tidak siap kita harus bisa menghadapi sebuah kehilangan ya

July 3, 2012 at 7:38 AM

apa yang kan datang dan pergi semuanya sudah ada dibuku rahasia Allah.
dan semoga di Ramadhan yang tinggal berapa hari ini datangnya kita bisa menjalankannya dengan baik :)

July 3, 2012 at 7:53 AM

inna lillahi wainna ilaihi rojiun
turut berduka mbak
terima kasih sudah berbagi
semoga Ramadhan tahun ini bisa kita lewati dengan syukur dan iman kepada-Nya

July 3, 2012 at 8:21 AM

Innalillahi Wa innailaihi Rajiun..

*Aku nangis bacanya...:'(

July 3, 2012 at 10:39 AM

Terharu bacanya, kehilangan banyak orang, dari bapak, ibu, suami, bahkan anak lelaki semata wayangnya... cobaan yang sangat berat yaa om :(

July 3, 2012 at 10:44 AM

Bagiku tidak ada "kehilangan". karena semua milik Allah. Dan semua itu sudah Allah atur. ^_^
Ramadhan. Can't wait..! ^_^

Anonymous
July 3, 2012 at 10:54 AM

jadi ingat almarhumah ibu...6 tahun silam di awal bulan ramadhan..."dan Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah tiba ajalnya" (Qs Al-Munafiqun:11).

July 3, 2012 at 10:56 AM

@Erlangga KusumawijayaSecara hakekatnya memang betul demikian, tapi secara syar'i dan sbg manusia biasa tentu nya rasa kehilangan itu pasti ada seperti halnya para sahabat yg merasa kehilangan sosok Rasulullah

July 3, 2012 at 11:01 AM

@Niar Ci Luk Baahe-eh... ikut terharu..

kapan giliran Niar,..?

July 3, 2012 at 11:04 AM

@niken Sepakat dengan mbak Niken...

July 3, 2012 at 11:05 AM

@Lidya - Mama Cal-VinSetuju mbak Lidya, siap tidak siap harus siap

July 3, 2012 at 11:06 AM

@Sarnisa Anggriani KadirAmin Ya robbal Alamin...
Marhabban ya Ramadhan

July 3, 2012 at 11:10 AM

@Esti SulistyawanAmin.. berharap kita di beri kesehatan dan iman utk menghadapi Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan..

July 3, 2012 at 11:12 AM

@Nuraeni Ratnawatihmm...
mbak Titie surya masih ada tissue gak..??

July 3, 2012 at 11:15 AM

@AnonymousInnalillahiwa'innaillahi rojiuun...
ikut berduka, berharap Almarhumah sdh berbahagia di sisi-Nya

July 3, 2012 at 12:08 PM

Sungguh sebuah tulisan yang dituturkan sepenuh hati, berbagi dengan sesama akan sebuah pembelajaran dalam kehidupan.
Allah menyayangi dan memberi cobaan terhadap umatNya memang dengan cara yang berbeda-beda ya? Subhanallah... Ujian seperti ini diberikan kepada mba Titie, karena Allah Maha Tahu akan kekuatan mba Titie dalam menghadapi cobaan ini.... semoga Allah senantiasa memberi ketabahan, kekuatan dan kedekatan hati yang semakin dekat kepadaNya di hati mba Titie yaa... amin.

trims telah berbagi kisah yang penuh pembelajaran ini ya mba... selamat menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah....

July 3, 2012 at 3:41 PM

innalillahi wa'innailaihi raji'uun..
Subhanalloh, betapa Alloh menyayangimu bunda.. Ana turut kagum melihat begitu tegarnya dirimu bunda.. Semoga engkau tetap istiqomah hingga hadiah dariNya benar2 engkau rasakan nikmatnya.. Aamiin..
Salam hormat dan terimakasih banyak teruntuk bunda dan ka insan yg telah memberikan suatu yang berharga lagi untuk ana :')

July 3, 2012 at 6:00 PM

Innalillahiwa'innaillahi rojiuun....turut berduka cita.
mbak titie, hebat banget...super duper sabar bin ikhlas, aku sj yang hanya ditinggal teman kembali ke kampung halamannya bisa mewek nda karuan...salut mbak, aku harus belajar dari kisahnya

salam ukhuwah^^

July 4, 2012 at 8:14 AM

@niken Jeng Niken, terima kasih. Saya masih terus belajar memaknai kesedihan yang tersampir dalam lembaran hidup. Belajar hingga nafas terputus.

Read more: http://www.mediarobbani.com/2012/07/arti-sebuah-kehilangan.html#ixzz1ziLa2NDc

July 4, 2012 at 8:17 AM

@Lidya - Mama Cal-Vin Lidya-Mama Calvin, betul bua siap tidak siap kita harus siap. Karena itu mari bersama kumpulkan bekal untuk menyambut kematian atau apapun yang akan terjadi pada kita. Salam kenal ya ....

July 4, 2012 at 8:19 AM

@Sarnisa Anggriani Kadir
Sarnisa Anggraini Kadir. Salam kenal ... :)

July 4, 2012 at 8:20 AM

@Esti Sulistyawan
Esti Sulistiawan, salam kenal :)

July 4, 2012 at 8:22 AM

@Nuraeni Ratnawati
Nuraeni Ratnawati, butuh tissue? *sodorin segulung tissue :) salam kenal ya .

July 4, 2012 at 8:23 AM

@Niar Ci Luk Baa
ci luk baaa ... salam kenal ya :)
Terima kasih untuk simpatinya.

July 4, 2012 at 8:25 AM

@Erlangga Kusumawijaya
Erlangga Kusumawijaya, segala sesuatu memang milik Allah. Tapi rasa kehilangan adalah rasa yang manusiawi karena memang kita manusia yang dititipi untuk menjaga segala yang dititipkan. Salam kenal ....

July 4, 2012 at 8:27 AM

@Anonymous
eh namamu siapakah? turut berduka atas wafatnya ibumu ya. Salam kenal

July 4, 2012 at 8:28 AM

@alaika abdullah
Amiiin ... selamat menyambut Ramadhan mbak ... *peluk sayang

July 4, 2012 at 8:29 AM

@Anna AQyuan
Amiiin ... terima kasih ya *peluk sayang

July 4, 2012 at 8:30 AM

@Phuji Astuty Lipi
Mari belajar bersama ... Salam ukhuwah ... :)

July 5, 2012 at 7:46 PM

Sebuah kisah yang mengharukan, seperti yang pernah saya alami.
hanya sabar dan syukur yang menjadi senjata andalan orang beriman.

Salam hangat dari Surabaya

July 7, 2012 at 1:39 PM

subhanalloh, terharu bacanya. kehilangan yang menjadikan berfikir dan menggapai hikmah dari setiap kejadian sehingga membuat semakin dekat dengan Sang Pemberi Kehidupoan. terimakasih atas ilmunya bunda Titie, semoga saya bisa secerdas bunda dalam menyingkap hikamh dari setiap kejadian

July 9, 2012 at 11:00 PM

Masya Allah.
Berkah Allah bersama mbak Titie. Saya terharu sekali membacanya. Mbak diberi-NYA ujian ini PASTI karena mbak Titie kuat. Subhanallah ...

July 17, 2012 at 12:26 PM

@Pakde Cholik

Ya betul Pakde cuma sabar, ikhlas dan syukur senajta andalan kita :)

July 17, 2012 at 12:27 PM

@Rima Aulia

Terima kasih Rima Aulia. Semoga kita bisa selalu belajar menyingkap hikmah dari setiap kejadian, Apapun itu

July 17, 2012 at 12:27 PM

@Mugniar
Terima kasih. Semoga Muqniar juga menjadi kuat dalam segala hal :)

Anonymous
February 25, 2013 at 8:52 PM

Q bangga mengenalmu......q bahagia bisa dekat denganmu......q percaya..bahagiamu kelak lebih besar dr apa yg sdh di ambil darimu saat ini...(budi).

February 25, 2013 at 9:50 PM

@Anonymous

Terima kasih mas budi. Senang bisa mengenalmu, mbak ana dan ketiga permata hatimu. Bangga bisa menjadi bagian dari keluarga kalian/

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes