Friday, July 6, 2012

Bangganya Menjadi Muslim


Oleh: Rima Aulia Alkhonsha

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Apakah menjadi muslim bukan suatu kebanggaan? Apakah jadi muslim sebuah aib? Atau menjadi muslim itu sebuah kekeliruan atau musibah? Ada yang bisa ngejawab?? Gimana sih, baru awal baca aja udah bikin jidat berkerut! *huft…

Tapi betul sobat muslim, itu pertanyaan yang penting. Kalo sobat bisa menjawab, itu nunjukin kualitas sobat sebagai muslim. Kualitas keimanan, pemahaman dan juga kualitas dari segi kebanggaan sebagai seorang muslim. Pasti timbul pertanyaan deh, emang ada gitu orang yang ga bangga jadi muslim?

Wedew….buanyak buanget *bukan lebay yak.. banyak banget kalangan pemuda muslim yang tidak mencerminkan diri sebagai muslim yang baik dan benar. Dengan alasan gaul, apapun mereka lakukan. Rambut di cat warna-warni sampai ada nyang bentuknya kaya kulit durian.  #eh….. ada juga yang pengen ikut-ikutan begaya ala Mohawk. Telinga ditindik kulit bertatto, hmm…. Mulut dirantai, *eh gak ding. Rantai melintang segede kapal di pinggang* apa ga berat yak?. Gelangnya gigi roda. Wualah!. Yah, kenapa yak, di zaman sekarang label sebagai muslim begitu ga ngebanggain untuk disandang, sehingga banyak kaum muslim yang enggan untuk menampakkannya.

“Muslim mas?”

“eh, anu…di KTP sih iya mba”

“muslim mbak? Kok pake' rok mini ?”

“aduh.. iya ngikutin trend mode…”

Nah loh, kenapa malu ngakuin jati diri sebagai muslim, kenapa tidak mengikuti trend berbusana ala muslim dan muslimah, bukannya menutup aurat akan lebih indah dan cantik. Jagalah kepribadian, jagalah harga diri dan jagalah izzah sebagai muslim. Kalo muslim ya bilang muslim ajah. Kalo muslim ya ngaku muslim ajah. Kalo muslim ya tunjukkan dong kalo kita adalah muslim untuk nambah semangat. Yuk kita simak kisah Syeikh Abbas As-sisi.

Saat di Jerman, saya bersama beberapa orang ikhwan menaiki trem ekspress. Kebetulan di samping kami duduk seorang tentara Amerika berkulit merah. Ketika ia mendengar kami masing-masing berbincang dengan bahasa Arab. Tentara itu berkata, ”Anda muslim?”

Kami menjawab, “Ya, kami muslim, Alhamdulillah.” Tiba-tiba saja ia berteriak keras. “ saya juga seorang muslim, dan nama saya adalah Muhammad!” kemudian, ia merogoh tasnya dan menawarkan kepada kami sebungkus rokok. Tapi kami menolaknya dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Kemudian ia berdiri dan menyalami kami dengan kehangatan dan getar rindu yang sangat kuat. Dan dengan agak sedikit kesulitan ia mengatakan sebuah sabda Rosulullah, 

“barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” Ia mengatakan sambil menoleh kearah orang-orang Jerman yang ada di dalam trem. Ketika trem sampai ke terminal yang di tujunya, sebelum turun ia kembali menyalami kami dengan penuh gembira dan rasa senang. Kami sempat mencatat alamatnya, bahkan setelah itu kami sempat megirimkan surat kepadanya.”

Hemm, bisa niru kaya gitu ga? I am muslim, and I proud to be great Muslim! Tak berbeda dengan itu, ketika telah mengetahui hakikat dirinya sebagai muslim. Di manapun, kapanpun. Tugas sebagai pengemban amar ma’ruf alias menyeru pada kebaikan  dan mencegah kepada yang munkar akan selalu berusaha untuk dilaksanakan seoptimal mungkin. Dan inilah yang menunjukkan kualitas keimanan sekaligus kebanggaan sebagai seorang muslim. Sebuah harga diri yang tak bisa dibeli dengan apapun, termasuk sekalipun dihadiahi matahari di tangan kanan dan rembulan di tangan kiri. Harga diri itu adalah harga diri yang udah Alloh berikan kepada hamba-NYA yang mengerti betul akan hakikat hadirnya di dunia ini.

~ I am muslim, and I proud to be great muslim ~
Nyok sama-sama kita cermati dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya *eh…emang proklamasi. Kisah dari Imam Hasan Al-Banna, semoga kita bisa mengambil hikmahnya, begini ceritanya: 

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, saya mengunjungi rumah seorang hakim Agung Ismailiyah. Pada kesempatan itu juga sudah berkumpul beberapa tamu, antara lain pegawai kantor pusat, Hakim Sipil, Kepala Sekolah Dasar, Pengawas Departemen Penerangan, beberapa Sastrawan ternama, pengacara dan sebagainya. Pertemuan itupun menjadi sangat menarik.

Sang Hakim, sebagai tuan rumah tersebut. Kemudian meminta kepada pembantunya agar menyiapkan teh kepada para tamunya. Tak lama kemudian gelas-gelas terbuat dari perak pun diletakkan di hadapan kami. Ketika gelas tersebut tiba di hadapanku. Aku segera menolaknya dan meminta gelas yang biasa saja. Sambil tresenyum tuan rumah tersebut berkata kepadaku, “ saya sudah mengira kalau engkau takkan minum, karena gelas ini terbuat dari perak.” Lalu saya berkata, “benar, apalagi kita berada di rumah Sang Hakim.”

Ia kemudian berkata, “Sesungguhnya ini adalah masalah khilafiyah dan butuh waktu panjang untuk membahasnya. Sementara kita tidak melakukan apapun sehingga harus kaku menerapkan  masalah seperti ini.”

Saya kembali berkata, “masalah khilafiyah memang ada, tapi pada masalah ini, tentang makan dan minum dari tempat yang terbuat dari emas dan perak, maka haditsnya sangat jelas dan mutaffaq’alaihi, larangan keras telah disampaikan Rosululloh dalam sabdanya, 

“janganlah kalian minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak, dan jangan makan dari piring yang terbuat dari keduanya.” Beliau juga bersabda, “adapun orang meminum dari bejana emas dan perak, maka ia seakan menyalakan dalam perutnya api yang membara.” Tak ada qiyas terkait dengang nash ini, sehingga tak ada peluang sedikitpun bagi kita untuk mengikutinya. Adalah lebih baik tuan memerintahkan kami agar kami semua dapat minum dari gelas yang terbuat dari kaca.”

Sebagian yang hadir di tempat itu juga ada yang menimpali dan berkata bahwa apabila ini adalah masalah kilafiyah maka kita tidak dapat mengingkarinya (dapat di ikuti). Hakim Sipil kemudian juga melibatkan diri dan berkata kepada Hakim Agama, “ wahai tuan Hakim, apabila nash ini melarang menggunakan benda tersebut, maka nash itu harus dihormati, dan kita tidak diharuskan untuk mengetahui hikmah yang ada di balik pengaharaman tersebut atau kita harus tetap mengikutinya dan bila akhirnya kita mengetahui hikmah yang ada di dalamnya, maka itu adalah pengetahuan bagi kita, bila tidak, maka itu adalah salah satu bentuk dari kelalaian kita. Namun, kita harus tetap melaksanakan hal itu bagaimanapun kondisi dan situasinya.”

Ucapan Hakim Sipil tersebut membuatku senang. Setelah berterimakasih kepadanya, saya kemudian menunjuk jari tangannya yang di lingkari cincin emas, “apabila anda telah menyatakan kalimat seperti itu, maka seharusnya anda juga harus mencopot cincin emas yang melingkar di jemari anda. Karena ada nash atau dalil yang secara jelas mengharamkannya.” Sambil tersenyum ia berkata, “wahai Ustadz Hasan!, saya adalah Hakim Sipil yang menghukum dengan Undang-undang Napoleon. Sementara Hakim Agama berhukum dengan Kitabulloh dan sunnah Rosululloh. Dan setiap kita harus berpegang teguh kepada syariatnya masing-masing, maka biarkanlah saya seperti adanya!”

Saya lalu berkata bahwa perintah ini (larangan memakai emas) diperuntukkan bagi seluruh kaum muslimin dan anda salah satu dari mereka. Tak lama kemudian ia pun segera melepas cincin tersebut dan pertemuan tersebut tetap berjalan dengan meriah dan semarak, seakan tak ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Walaupun peristiwa ini diketahui oleh masyarakat luas dan dipahami secara positif oleh mereka. Ini adalah realisasi dari amar ma’ruf nahi munkar.

Subhanalloh, luar biasa bukan? Kebangaan sebagai muslimlah yang membuat seorang muslim begitu percaya diri untuk selalu ber-amar ma’ruf nahi munkar sekalipun terhadap para penguasa dan pejabat. Everywhere and anywhere! Dan kita pun bisa melakukannya. Karena mereka yang melakukannya telah menjadikan Islam sebagai fikhrah satu-satunya. Karena fikrah Islam adalah hakikat-hakikat yang tidak bertentangan dengan pemikiran yang bersih ketika ia menggunakan potensi fitrahnya dengan pemikiran dan perenungan. Bangga atuh dengan agama sendiri, karena sebagai muslim kita harus tahu kalo Islamlah agama yang di Ridhoi Alloh dan kita adalah umat terbaik yang diciptakan Alloh, seperti dala surat cinta-NYA: 

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh…” (QS Al-Imran: 110)

Wokey…saatnya kita aplikasikan ayat diatas dan saatnya kita katakana “I am muslim, and I proud to be great muslim”.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Kontributor:

 

20 comments

July 6, 2012 at 8:19 PM

wajib dong bangga sebagai muslim dan semoga bisa selalu menjalankan semuaperintahNya

July 6, 2012 at 8:28 PM

@Lidya - Mama Cal-Vinwuih mbak Lidya cepet amat...

makasih mbak, harus dong bangga sbg muslim

July 6, 2012 at 9:04 PM

meski belum semua ajaran islam dan syariat islam saya laksanakan tapi saya selalu siap menolong sesama muslim yang kesulitan dan selalu senantiasa merubah setiap kesalahan yang diperbuat dan memperbaikinya, meluruskan setiap langkah yang telah berbelok.

July 6, 2012 at 9:05 PM

*ralat :

laksanakan menjadi belum dilaksanakan. :D

July 6, 2012 at 9:16 PM

@auramanuntuk melaksanakan syariat secara kaffah di sini memang susah mas, tapi minimal sdh ada niatan kearah itu dgn sebatas kemampuan

July 6, 2012 at 9:22 PM

#BelajarTentangIslam lagi dengan lebih tekun, #NasihatDiri, :)

Like this, terkesan dengan certia Tentara tadi, :D

July 6, 2012 at 9:38 PM

@auramanRalat diterima... wkwkwkw

July 6, 2012 at 9:39 PM

@Gandimakasih mas Gandi.. sama-sama belajar ya

July 6, 2012 at 10:15 PM

Suka baca judulnya. Suka baca kisah tentara Amerika. Selalu suka baca kisah2 muallaf, selalu menggetarkan ...
Terimakasih sharingnya ya ayah Devon ^^

July 6, 2012 at 10:52 PM

Untuk bisa menjadi bangga dengan Islam, kita tidak bisa hanya melihat Islam dari permukaan saja.Untuk menyadari keindahan Islam kita harus mendalami Islam secara kafah.

July 7, 2012 at 12:26 AM

Hebat nih mbak rima tulisannya...

Saya bangga banget jadi muslim. :D

July 7, 2012 at 8:50 AM

semoga aku bukan hanya islam ktp *nundukmalu*

July 7, 2012 at 11:33 AM

jazakillah khoir ya telah menerima tulisan q dan berkenan mem-publish di media Ilmu ini. semoga bisa memberikan manfaat dan penyemangat untuk meningkatkan kualitas diri qt

July 7, 2012 at 2:57 PM

jadi ingat film india dengan kata2nya yang terkenal "I'm a muslim n i'm not a terrorist" :D

tapi.. jujur saya sempat malu deh waktu melihat debat antara Imam Masjid Istiqlal dengan Ustad Salim (Wakil dari FPI) yang waktu di TV One membahas tentang jadi tidaknya Lady Gaga datang, mereka berdua memegang 2 Kitab dan saling mempertahankan argumen, yang 1 bersikap untuk bertindak permisif akan kedatangan sang lady, yang satunya jelas2 menolak dan mengancam akan melakukan tindakan anarkis kalo lady itu datang, jujur saya gemas melihatnya.. dua orang yang pastinya mengerti agama tetapi sangat berbeda pendapa, seharusnya itukan ga terjadi, hal2 seperti itu cuma bikin umat bingung, kalo muslim aja bingung apalagi non muslim ya? *ga OOT kan? :D

July 7, 2012 at 7:54 PM

@Mugniarterimakasih Bunda Niar, untuk kunjungannya, terimakasih utk Rima yg sdh share tulisannya

July 7, 2012 at 7:57 PM

@nikentepat sekali mbak Niken..., tidak boleh puas dgn yg sdh kita ketahui, hrs di gali lbh dalam, krn Islam itu luas.. seluas langit dan bumi..

harus mendalami Islam Secara kaffah.. jadi inget group Mengenal Islam Secara Kaffah... hihihi

July 7, 2012 at 7:59 PM

@karyakuumySetuju sama Rizki

July 7, 2012 at 8:00 PM

@Ila Rizky NidianaInsya ALlah bukanlah..

July 7, 2012 at 8:00 PM

@Rima AuliaTerimakasih juga Rima yg sdh bersedia jadi Kontributor

July 7, 2012 at 8:02 PM

@NFmemang bener mbak Nurul... beda kepala kadang beda pemahaman jika Islam dipolitisir, maka supaya aman kembalikan kepada Allah dan Rasulnya yaitu Al Qur'an dan As-sunnah...

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes