Saturday, July 14, 2012

Sebuah Sentilan* Tentang “Halalan Thayyibah”


Oleh: Bundanya Fiqthiya


Ibu tersenyum melihat mimik wajah Koko, kemudian melanjutkan penjelasannya.
 “Nah, sebetulnya puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus saja. Puasa juga berarti menahan nafsu.”

“Menahan nafsu itu apa, Bu?” tanya Bebe.

“Nafsu adalah keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan untuk melakukan sesuatu. Pada saat berpuasa, kita harus menahan nafsu yang mendorong kita untuk makan,  minum, marah, bertengkar, membicarakan kekurangan atau keburukan orang lain, melakukan hal-hal yang merugikan atau menyakiti orang lain, serta melakukan hal-hal yang tidak berguna bagi diri kita sendiri maupun orang lain.”(1)

Itu sepenggal dialog dalam buku cerita “Mengenal Puasa” milik anak saya. Ah, ideal sekali. Memang seperti itu seharusnya puasa kan?

Thersiah L. Lubis-Dahlan, “Mengenal Puasa”, CV. Penerbit Diponegoro, 2001

Buku setebal 34 halaman ini mengajak anak untuk mengenal puasa dan menjalankannya. Bercerita tentang percakapan sebuah keluarga kecil yang memiliki dua orang anak. Kedua orangtua secara bergantian menurunkan ilmu tentang puasa kepada anak-anak mereka.

☼☼☼

Seorang bapak yang saya kenal baik mengatakan, “Zaman sekarang, banyak orang yang berpuasa bagai ‘balas dendam’. Kalau buka puasa dan sahur, maunya makan dan minum yang istimewa. Pengeluaran justru jadi lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Habis puasa, berat badan justru naik, kantong pun kempes, penyakit berdatangan. Padahal kalau mau dijalankan dengan sebaik-baiknya, puasa itu sangat bagus. Bukankah Islam mengajarkan kita untuk makan-minum yang halal dan thayyibah. Halal dan baik. Makanan, walaupun halal tapi berlebihan dan menimbulkan penyakit, tidaklah baik! Katanya puasa mengajarkan kita untuk berempati kepada orang yang kurang mampu. Tapi dengan pola seperti ini, apa iya kita ikut merasakan penderitaan mereka?”

Perkataan bapak itu membuat saya merenung.

Okelah, harga barang biasanya naik menjelang lebaran. Tapi kalau dimisal-misal, harga barang tetap. Dan kalau mau jujur, apa iya pengeluaran pada bulan-bulan selain Ramadhan sama dengan pengeluaran pada bulan Ramadhan?

Saat puasa, seringkali kita terbayang-bayang makanan dan minuman yang enak-enak. Yang jarang disajikan di bulan-bulan lain. Buka puasa dan sahur menginginkan menu yang spesial karena sudah berlapar-lapar, berhaus-haus, dan berletih-letih seharian.

Belum lagi pengeluaran menjelang lebaran. Bagi banyak orang, penting menyiapkan budget untuk aneka makanan, minuman, pakaian baru, alat shalat baru, gorden baru, pun kursi tamu baru.

Apakah ini memperturutkan hawa nafsu atau tidak?
Apakah seperti ini puasa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?

Satu lagi perkataan bapak itu yang membuat saya merenung. “Saya suka menegur istri saya ketika ia mengiming-imingi anak-anak kami dengan makanan berbuka dan sahur yang enak-enak. Saya katakan padanya supaya tak mengajar anak berpuasa dengan iming-iming seperti itu. Ajar anak-anak untuk berpuasa karena takut pada Allah!”

Betul juga, ini yang sering terlupa. Saking maunya anak-anak belajar berpuasa, trik yang dilakukan adalah menjamu mereka dengan menu spesial. Memanjakan lambung mereka!

Padahal dalam al-Qur’an, mengenai “makanan halal” sering disandingkan dengan kata “thayyibah” yang berarti baik, seperti dalam ketiga ayat berikut:

Makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (Q.S. An Nahl (16): 114)

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (Q.S. Al-Maa’idah (5): 88).

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q. S. Al Anfal (8): 69)

Ini berarti walaupun halal, makanan itu belum tentu baik bagi kita.
Tentu tidak baik segala yang berlebihan, termasuk makanan.
Tentu tidak baik segala yang mendatangkan penyakit, termasuk makanan.

Semua kita tentu tahu bahwa banyak penyakit datang melalui makanan. Sebut saja kolesterol, asam urat, diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit lever. Kita sering tak mampu menakar bahwa tubuh kita sudah jenuh dengan karbohidrat, lemak, ataupun protein yang terkandung dalam berbagai makanan.

Sebuah acara kesehatan di TVRI yang dipandu oleh artis yang berprofesi sebagai dokter: Lula Kamal menampilkan seorang ahli dalam bidang kesehatan. Ketika itu Lula Kamal bertanya, “Usia berapa kita harus mulai hati-hati memilah makanan, mempertimbangkan untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi gula dan lemak misalnya?”

Saya sempat mengira sang ahli akan menjawab “Usia 30” atau “Usia 40”. Ternyata dugaan saya salah, sang ahli itu menjawab, “Sedini mungkin.” Lula Kamal sampai mengulangi lagi pertanyaannya yang tetap dijawab dengan mantap oleh sang ahli: “Sedini mungkin.”

Berarti, anak-anak saja harus sejak dini dibiasakan mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik. Apalagi kita.


Makassar, 9 Juli 2012

*Sentilan buat diri saya sendiri. Semoga berguna bagi yang membacanya.



Kontributor:




(1) Thersiah L. Lubis-Dahlan, “Mengenal Puasa”, CV. Penerbit Diponegoro, 2001

23 comments

July 14, 2012 at 5:37 PM

Kalau kita sudah fokus pada makanan halal dan toyibah pasti Allah memberi jalan. Seperti membiasakan membaca komposisi pada makanan kemasan, bertanya kepada penjual kue tart atau sus atau kue lain apakan mengandung rum. Dan lain2. Kalau kita memberi contoh itu kepada anak2, Insya Allah anak2 pun akan melakukan hal yang sama.
Jelaskan kpd mrk apa yg dimaksud dgn angciu, rum, whey, gelatin dan lainnya. Jadi tanpa kita pun, mereka waspada dgn makanan yg mrk konsumsi.
Alhamdulillah anak2 tidak pernah menuntut buka puasa dan sahur yg berlebihan.

July 14, 2012 at 8:46 PM

Halal belum tentu baik,,ya perlu direnungi nih Bos

July 14, 2012 at 10:33 PM

@DangstarsSetuju Sangat

July 14, 2012 at 10:36 PM

@nikenYang punya Resto hafal dengan istilah2 makanan

July 15, 2012 at 12:45 AM

Halal itu puannnjang ya ternyata :D

July 15, 2012 at 3:57 AM

Halal itu pilihan mutlak

July 15, 2012 at 8:46 AM

Betul Pak, sebaiknya pilih makanan yg halalan Thayyibah, walaupun air putih itu "halal" tapi klo minum sampe 1 galon jadinya apa ya hehehehe xD

July 15, 2012 at 10:57 AM

tertarik di paragraf terakhir yg seering kali di'lupa'kan..bahwa pola makan sehat harus dibiasakan sejak dini. banyak yg berpresepsi bahwa harus hati-hati dengan pola makan ketika usai sekian atau sekian...

DEngan puasa juga merupakan salah satu upaya utk bisa 'turun mesin' bagi alat-alat pencernaan. Ya ibarat mesin kan perlu ada masa ukk cooling down juga agar daya operasionalnya bisa dalam kondisi prima utk jangka waktu yg lebih lama..

July 15, 2012 at 11:56 AM

Maaf kepada teman-teman yang sudah berkomentar, juga kepada mas Insan. Internet saya sedang bermasalah, saya kesulitan mengakses internet akhir-akhir ini.

Terimakasih telah membaca tulisan saya dan terimakasih atas komentarnya.

July 15, 2012 at 12:50 PM

wahh.. memang penting tuh mengetahui terlebih dulu nutrisi yang masuk dalam tubuh :) terimakasih artikelnya mas :)

July 15, 2012 at 1:16 PM

jadi pingin beli bukuna deh, aku suka kewalahan menjawab pertanyaan2 pascal

July 15, 2012 at 1:23 PM

memang banyak makanan halal...
tapi benar juga.... baiknya ini yg jadi masalah...

July 15, 2012 at 2:06 PM

:)

July 15, 2012 at 5:30 PM

@Stupid monkeySepanjang apa mas..?? hihihi

July 15, 2012 at 5:32 PM

@Goparsetuju...

July 15, 2012 at 5:33 PM

@Rumah Al BannaSetuju jawabannya terurai diatas

July 15, 2012 at 5:35 PM

@Ririe KhayanRirie harus belajar pada ibu-ibu bila nanti sdh keluarga

July 15, 2012 at 5:37 PM

@Majalah Masjid Kitasepertinya begitu, sngat penting mengetahui apa yg dikonsumsi sendiri dan keluarga

July 15, 2012 at 5:38 PM

@Lidya - Mama Cal-Vinbetul mbak Pascal mulai masa2 kritis

July 15, 2012 at 5:39 PM

@JeQ the ShadowZ Knightsebaiknya yang halal dan thayyibah

July 15, 2012 at 5:40 PM

@Annur EL- Kareemkok senyum..??

July 15, 2012 at 5:41 PM

@Mugniarsudah saya wakili mbak Niar

July 16, 2012 at 10:41 PM

Tulisan yang menarik k' niar...
itulah fenomena yg t'jadi d bulan ramadhan, selalu menginginkan menu spesial...
penjual minuman dan kue-kue dadakan b'munculan d bulan ramadhan...
dan pengeluaran di bulan ramadhan mmg lbh besar d banding bulan2 yg lain.
Subhanallah, Ramadhan memang bulan penuh berkah selalu saja ada rezky utk mencukupi sgl kebutuhan d bulan t'sebut...

*tulisan k' niar, sentilan buat sy jg sih

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes