Saturday, April 13, 2013

Tetap Bening Ditempat Bersih


Bismillahirrahmanirahiim
Perseteruan antara guru spiritual Eyang Subur dan mantan muridnya Adi Bing Slamet makin hari terasa makin gencar di media. Dalam hati kadang timbul pertanyaan apa ada yang salah dari hasil belajar dan mengajarnya. Tapi disini aku tidak akan membahas siapa yang benar atau yang salah diantaranya karena sangat riskan apabila memvonis sesuatu tanpa data dan fakta yang jelas, bukannya menyelesaikan masalah justru akan menambah masalah baru dan ujung-ujungnya akan timbul fitnah. Semoga semua ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih hati-hati dan lebih jeli terhadap seseorang untuk dijadikan guru apalagi guru spiritual.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dari guru spiritual. Aku mencoba sedikit menukil dengan apa yang disampaikan Al Imam Ghozali di buku Ihya ulumuddin tentang adab seorang guru terhadap muridnya:

  1. Guru harus belas-kasih kepada muridnya serta memperlakukan sebagai anak sendiri dengan tujuan menyelamatkannya dari api neraka

  2.  Meneladani sikap Rasulullah dengan tidak meminta upah dalam mengajar tapi semata hanya untuk menggapai ridho dan bertaqarub kepada-Nya. Juga tidak merasa berjasa atas para murid sekalipun jasa itu memang dirasakan karena akan menghilangkan nilai keikhlasan.

  3. Tidak memaksa untuk menguasai semua disiplin ilmu sekaligus melainkan secara bertahap dan berdasarkan kemampuan yang ada pada diri seseorang.Tidak mendalami ilmu yang tersembunyi sebelum mendalami ilmu yang jelas, karena tujuan menuntut ilmu adalah untuk taqarrub kepada Allah.

  4. Mencegah murid-muridnya dari akhlak yang tercela dengan penyampaian yang lemah-lembut, kasih-sayang atau dengan uswatun hasanah. Karena cara yang keras serta celaan hanya akan meurunkan kewibawaan guru dan menciptakan terjadinya pembangkangan.

  5. Guru tidak boleh mencela suatu disiplin ilmu yang tidak ditekuninya karena cara itu sebagai gambaran akhlak yang tercela, melainkan harus berusaha mempelajarinya sebatas kemampuan.

  6. Membatasi kemampuan pemahaman sang murid dengan cara tidak menyampaikan suatu ilmu yang belum bisa dijangkau oleh kemampuan akalnya

  7. Bisa mengetahui kemampuan muridnya, bagi yang kemampuannya terbatas sebaiknya disampaikan kepada hal-hal yang jelas dan cocok dengannya dan tidak memberikan ilmu yang perlu pendalaman yang belum bisa disampaikan kepadanya.

  8. Hendaknya guru mengamalkan ilmunya, yakni perbuatannya tidak mendustakan perkataannya sendiri. Karena ilmu diketahui dengan mata hati sedang amal diketahui dengan mata inderawi.

Itulah beberapa adab guru kepada muridnya dan dalam penerimaannya maka murid harus membersihkan jiwanya dahulu dari akhlak yang hina dan tercela karena menuntut ilmu merupakan ibadah hati maka jika hati tidak disucikan dan masih bercabang-cabang maka penerimaan hakikat ilmu akan sangat terbatas.

Sebenarnya pada awalnya ilmu Allah tidak mengenal ilmu hitam atau ilmu putih semuanya netral, bening dan suci karena pengaruh sifat, sikap dan akhlak manusia maka seolah ilmu menjadi terpecah menjadi ilmu hitam sebagai symbol keburukan dan ilmu putih sebagai symbol kebaikan. Rasanya sangat naib jika menisbatkan ilmunya Allah sebagai ilmu yang menggambarkan keburukan.

Ditempat yang bersih airpun tetap bening
Aku mencoba menganalogikan secara sederhana. Ilmu Allah adalah ibarat air yang bening dan suci sedangkan para ulama dan guru diibaratkan sebuah bejana tempat penampungan sementara air dan murid adalah ibarat gelas tempat dituangkannya air. Jadi air yang bening jika ditempatkan dibejana yang kotor maka air yang bening juga akan menjadi keruh maka dituangkan kedalam gelas juga akan keruh. Jika airnya bening dimasukkan kebejana bersih maka air yang dituangkan juga akan tetap bersih. Dan akan tetap bening jika gelas yang dituangi juga bersih dari noktah-noktah kotoran, sebaliknya jika gelasnya kotor air  dari bejana juga akan menjadi keruh juga.

Itu artinya untuk mendapatkan sesuatu yang suci maka harus diimbangi dengan hati dan jiwa yang suci dari noda-noda tercela. Maka untuk itu perlu adanya tazkiyatun nafs agar terjadinya sinergi antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Sebenarnya sangat gampang mendeteksi ilmu yang baik dan buruk. Ilmu yang baik merupakan kebenaran hakiki dari Allah, akan terasa indah ditangkap dengan inderawi, menghadirkan kesejukan dalam hati dan bisa memberikan perubahan akhlak menjadi lebih baik serta menambah tebal keimanan kepada Allah Ta’ala.

Dari sedikit tulisan ini harapanku untuk saudaraku muslim semua hendaklah selalu waspada dalam mencari guru pembimbing jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari, karena hidup hanya sekali manfaatkan sebaik-baiknya. Sebaik-baik guru adalah Rasulullah dan sang Maha Guru adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.


51 comments

April 13, 2013 at 10:53 PM

Kalau melihat berita tentang eyang Subur dan Adi Bing Slamet saya geregeten sendiri. Saling menyalahkan, terus siapa yang benar siapa yang salah ya? *ngapain juga ikut mikir* hikz

Alhamdulillah suami punya guru yang bener2 bisa menuntun kami ke arah yang lebih baik. Meskipun sekarang sudah tidak mondok lagi tapi tetap datang ke rumah beliau untuk belajar. Dan saya juga ikut belajar lewat suami :)

April 13, 2013 at 11:21 PM

Saya tidak update berita tentang ini mas :)
Oh ya terkadang murid yang berguru pada seorang guru yang mempunyai akidah yang agak menyimpang suka susah dikasih tahu kenapa ya mas? Adalah seseorang yang sudah kami beritahu tapi tidak mempan,

April 14, 2013 at 12:32 AM

@Lidya - Mama Cal-VinYa begitulah mbak, lebih mudah mengisi gelas yang kosong ketimbang gelas yang ada isinya tetapi isinya keruh, bagaimanapun setiap manusia punya sifat daya tolak atau tidak terima apabila yang dimiliki terusik entah miliknya bener atau salah, cara yang mudah dengan cara hikmah lemah lembut dan uswatun hasanah.

April 14, 2013 at 12:36 AM

@Tarry KittyHolicSaya juga berpikir ini hasil proses belajar dan mengajar yang bagaimana kok berakhir dgn perseteruan.

Alhamdulillah jika Suami mbak Tarry mendapat guru yang baik, tentunya syaratnya harus cinta pada Al Qur'an dan Sunnah Rasul ya mbak

April 14, 2013 at 5:34 AM

Guru tidak boleh mencela suatu disiplin ilmu yang tidak ditekuninya

Pernah saya membaca fatwa dari sekelompok orang yang mengatakan dirinya ulama (bukan dari MUI tapi dari lembaga2 yang cenderung eksklusif) yang mengharamkan sesuatu. Tetapi saat meneliti poin2 alasannya, nyata sekali kalo mereka merasa seolah2 amat tahu apa yang mereka haramkan itu padahal. Nyata sekali kalau mereka tidak begitu tahu, hanya meganalogikan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Ini saya simpulkan setelah berdiskusi dengan suami karena suami menguasai bidang itu. Jadi, sebenarnya bisa dibilang seperti pisau. Kalau dipakai membunuh kan haram, tapi kalo dipakai potong2 sayur kan boleh malah wajib kalo istri yang mau memasak sayur untuk suaminya.

Nah, sekelompok orang ini langsung seolah2 mengatakan bahwa pisau itu haram. Ini bahayanya kalau mereka tak benar2 menguasai ilmunya tapi seenaknya memberi fatwa.

Sayangnya lagi mas Insan, banyak orang yang menganulir ulama2 lain seperti imam Al Ghazali ini, hanya mau mendengarkan seruan ulama golongannya. Padahal imam Al Ghazali kan ahli fiqh juga, selain ahli tasawuf. Ini dianut oleh orang2 yang mengharamkan tasawauf. Padahal ... orang2 yang dikenal ahli2 tasawuf biasanya ahli fiqh/syariat juga lho.

Yah, beginilah warna-warni dunia Islam. Dalam keluarga saya pun warna-warni mas Insan. Tapi mudah2an kami tidak saling mengganggu :)

Pa kabar mas Insan, baru main ke sini lagi saya ...

April 14, 2013 at 6:07 AM

Dan guru harus menjadi teladan bagi murid dan masyarakat... heee

gitu juga ya bosss? :D

salam kenal :D

April 14, 2013 at 7:34 AM

sy suka analogi air, bejana dn gelasnya...
intinya kalo smw yg trlibt dlm proses itu baik, insyaAlloh hasilnyapun akn baik.

April 14, 2013 at 8:00 AM

Menjadi bening ditempat yg bersih, perjuangannya sama dengan menjadi bersih di tempat kotor ya Mas...

April 14, 2013 at 9:23 AM

@Mugniar MarakarmaDijaman Rasulullah memang tidak ada yang nama2 pemecahan ilmu seperti syariat ataupun hakikat yang kemudian terppecah kembali menjadi fiqh, filsafat, tasawuf dll..

Sedikit kita bahas tentang tasawuf. Imam Al Ghazali pernah mengatakan bahwa terjun di dunia ruhani (tasawuf) ibarat berada didalam tabir yang sangat tipis antara kebenaran dan kesesatan. artinya jika kita salah melangkah maka akan jatuh ke jurang kesesatan akan tetapi sebaliknya jika bisa menempatkan pada porsi yang benar maka insya Allah akan menjadi hamba yang tawadhu' bertaqarrup kepada Robb. sebelum belajar tasawuf harus terlebih dahulu mengenal ilmu fiqh atau hukum2 Islam agar tidak salah langkah bagaimanapun sumber hukum yg menjadi pijakan real adalah Al Quran dan As-Sunnah bukan bisikan hati. Secara pribadi saya kurang setuju jika Tasawuf diharamkan, karena menilik dari sejarahnya tasawuf adalah disiplin ilmu yang membahas masalah hati dan rasa, yang mengajarkan bagaimana ikhlas, syukur sabar dan hal2 yg menjadi kunsumsi hati (tazkiyatun nafs)

Wah mbak Niar ada baiknya nanti dibahas diposting tersendiri aja ya..

Alhamdulillah kabar baik mbak

April 14, 2013 at 9:26 AM

@Cendekiawan ITyups setuju banget..

Salam kenal juga

April 14, 2013 at 9:27 AM

@SunMakasih mbak.., sesuatu yang bersih dan suci seharusnya ditempatkan di wadah yang bersih dan suci pula...

April 14, 2013 at 9:29 AM

@evimungkin menjadi bersih ditempat kotor perjuangannya lebih extra lagi mbak Evi

April 14, 2013 at 10:22 AM

Banyak pelajaran yg bisa di ambil dari kisah eyang subur dan mantan muridnya.
Namun, seharusnya lebih mengutamankan adab antara guru dan murid,

April 14, 2013 at 11:08 AM

benar kang..
yang hal pertama yg perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu adalah kesucian hati, baik itu kesucian muridnya ataupun gurunya, makanya, seorang murid pun harus pandai2 dalam mencari guru..
pengibaratan yg bagus... ^_^

April 14, 2013 at 11:16 AM

assalamualaikum, sudah lama saya ngak berkunjung ke sini ya mas insan :), mengenai masalah eyang subur publik pasti jenuh melihat keadaan tersebut, terlepas yg mana benar dan salah seharusnya ada penyelesaiannya agar semua berakhir, ketika kita menimba ilmu ya harus berhati2 hati bukankah allah telah menganugerahi akal untuk membedakan ygmana baik dan buruk...:), ini pendapat ku sih

April 14, 2013 at 11:34 AM

@Zaenuri AchmadYups memang fenomena manusia sekarang inginnya secara instan dalam menimba ilmupun menggunakan prinsip ekonomi sehingga norma2 agamapun kadang dilanggarnya. tapi yang penting waspada dan hati2

April 14, 2013 at 11:36 AM

@JeQMatur nuwun mas JeQ kesucian akan mudah diterima dengan kesucian pula.

April 14, 2013 at 11:43 AM

@meutia rahmahwaalaikumsalam, sangat setuju sekali dan cerdas. Allah tidak menurunkan sesuatu kecuali disertai bekal solusinya. Allah memang maha demokratis dengan dibekali Al Quran dan Sunnah Rasul serta akal dan hati manusia diberi kebebasan dalam menentukan hidupnya dengan segala konsekwensinya yg akan ditanggung sendiri

April 14, 2013 at 12:38 PM

zaman sekarang memang banyak para selebritas, dan juga dari orang awam yang sangat haus akan tuntunan agama, sehingga mereka mencari guru-guru spirituil yang dianggapnya cocok untuk mereka, namun ternyata mereka mengabaikan seperti yang tercantum dalam tulisan ini...sehingga akhirnya mereka terjebak oleh guru-guru pilihan mereka sendiri...salam :-)

April 14, 2013 at 7:28 PM

Assalamu'alaykum Kak Insan.
Sudah lama tak singgah ke rumah kak Insan ini ^^. Pertama kali baca judul postingan ini, sudah penasaran sekali rasanya.
Terima kasih Kak Insan, postingan ini sudah mengajarkan Yanti bagaimana adab seorang guru terhadap muridnya. Semoga dapat diaplikasikan kepada adik-adik binaan Yanti ^^
Analogi air dalam postingan ini bagus sekali Kak Insan. Dan Yanti juga sangat suka dengan kalimat penutup postingan ini.Sukses untuk Media Robbani. Yanti tunggu postingan selanjutnya ya kak ^_^

April 14, 2013 at 9:09 PM

ketika berita ini pertama kali muncul di public, saya kaget bnget kak...kok bisa ya??masa iya???. tapi kembali lagi..kita tidak berhak men-judge mana yang benar toh bukti jelas belum ada. makasih dah share kak...lama tak main ke sini..masih tetap selalu bisa liqo^^

April 14, 2013 at 9:52 PM

@BlogS of HariyantoBetul sekali mas, karena mereka mencari guru spiritual yang bisa mengakodasi keinginan dan seleranya yang bisa lebih memberi kebebasan sesuai dengan profesinya, maka tidak aneh jika makin menjamur ustad ataupunpun habib yang abal2.

April 14, 2013 at 9:54 PM

@Sri Efriyanti az-Zahra HarahapWaalaykumsalam Yanti, alhamdulillah jika posting sederhana ini ada manfaatnya. Yups sebaik2 guru adalah Rasulullah dan sang Maha guru hanyalah Allah.

terimakasih Yanti

April 14, 2013 at 9:58 PM

@Phuji Astuty LipiBanyak sekali fenomena seperti itu, dengan mengatasnamakan kegaiban dia memberikan perintah kepada muridnya. padahal yang maha gaib adalah Allah yang sudah memberi perintah dan larangan dalam ffirmannya yang terkodifikasi dalam bentuk Al Quran.

April 14, 2013 at 10:41 PM

lagian knapa sih harus ke guru yg aneh2. mnding berguru sama para ulama aja...

April 14, 2013 at 10:49 PM

@andy langitnah itu dia yang jadi pertanyaannya, ada yg jelas kok cari yang subhat...

April 15, 2013 at 2:46 AM

saya juga heran kenapa artis2 kebanyakan pada pake dan punya guru spiritual? emang kenapa sih kalo konsultasinya sama ustadz di mesjid dekat rumahnya? sama aja, kan? toh, sama2 ahli ilmu juga.

April 15, 2013 at 5:44 AM

Membaca tulisan ini, terbayang sosok guru halaqahku. Beliau selalu menasehati, bahwa dalam berdakwah itu selalu ada etikanya. Tidak dimulai dengan membicarakan perbedaan-perbedaan, apalagi mencap haram atau bid'ah dari apa yang orang lain kerjakan. Tetapi dimulai dengan hal-hal/kata-kata yang sama, yaitu La'ilahailallah, sama-sama menyembah Allah. Dekatkan dulu kepada Allah. Lebih menanamkan keimanan, bagaimana Alqur'an menyentuh segala bidang kehidupan.

Seperti dalam surat Al An'am 108: "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan."

Ayat ini tidak saja berlaku untuk orang2 yang tidak beragama Islam, tapi juga bagi orang yang beragama Islam tapi masih meyakini adanya kekuatan lain selain Allah.

Perseteruan guru dan murid yang mas Insan ceritakan ini, adalah bukti, bahwa manakala kita mencela/menghina sesembahan orang lain, yang ada malah akan saling menyerang dan meluas. Sehingga nantinya yang mendapat nilai buruk adalah Islam sendiri.

Analogi air itu hanya akan bisa diterima manakala kalbu kita sudah tersambung kepada Allah. Meyakini semua tanda-tanda kekuasaan Allah, hati menjadi bersih sehingga dalam menerima ilmupun hati kita akan tetap bersih. Sekalipun ada yang berusaha memasukkan hal2 yang kotor, dia tidak akan mau menerimanya.

Tapi kalau memang sdh pada dasarnya manusia menolak tanda-tanda kekuasaan Allah, Allah pun akan memalingkannya.
Seperti dalam surat Al A'raf ayat 146:
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya."

Semoga kita terhindar dari hal-hal demikian.

April 15, 2013 at 7:39 AM

Tapi klo ngeliat Eyang Subur sih kayaknya bukan guru yang benar-benar guru deh. Melainkan orang yang dianggap "orang pinter", jadinya ya hampir 11 12 sama dukun cuma lebih eksklusif aja... Hehehe... Istrinya aja 8, udah melebihi syariat Islam... dari situ aja ga peduli yg lainnya sih, satu hal itu aja udah kesalahan fatal.

Wups, bukan suudzon... cuma pemikiran setelah liat pemberitaan... >.<

Btw, nice post bang Insan... :)

April 15, 2013 at 9:29 AM

@Istiadzah Rohyatiguru spiritual sih gak ada salahnya selama itu masih dalam kaidah syar'i, lah masalah ustad dimasjid2 kenapa ya pada jarang mau ?

April 15, 2013 at 11:16 AM

@Niken KusumowardhaniWau panjang sekali komentnya...
Sedikit saya garis bawahi mbak bahwa Al Quran itu seharusnya bukan hanya utk muslim saja melainkan seluruh umat manusia, karena Al Quran dan Islam itu meliputi langit dan bumi. Sejak Nabi adam hingga Nabi Muhammad SAW pada hakekatnya semua manusia itu muslim (suatu saat bisa dibahas lewat postingan)

Terimakasih sudah banyak menambahkan disini..

April 15, 2013 at 11:20 AM

@Glen TripolloYa..ya..
Setiap orang memang bebas beropini Glen, sama seperti dirimu kalau melihat dari permukaannya akupun masih meragukan ke-shahih-an sebagai guru spiritual

April 15, 2013 at 6:10 PM

mendengar berita perseteruan ini, saya juga sering bertanya-tanya kenapa guru yang seperti ini namanya "guru spritual" kalo di dalamnya ada unsur Islam-nya. Kalo menurutku sih, istilah 'spiritual' ini bisa melibatkan berbagai unsur keyakinan.

April 15, 2013 at 8:00 PM

Gara2 tampang mereka berdua dan para pengikutnya yang setiap saat nampang di layar kaca, akhirnya televisi saya jadi ga pernah lagi melakukan tugasnya, Mas Insan. Break.
Males dan jengah rasanya mendengarkan perseteruan mereka, ga mutu banget rasanya. Terus pertelivisian juga, ikut2an mengail di air keruh, ampun deh.

Analogi yang tepat dan mudah dipahami, mas Insan. Suka dan pastinya bermanfaat banget bagi kita semua. Trims for share, Mas Insan, :)

April 15, 2013 at 9:17 PM

@Samoke bang Sam bisa dibenarkan tetapi kalau menurut asumsiku guru spirituil itu sifatnya universal, ada di berbagai keyakinan. dan tugas dari guru spiritual adalh memberikan motivasi serta nasehat agar menjadi lebih baik tentunya dalam tanda kutip berdasarkan keyakinan masing2

April 15, 2013 at 9:21 PM

@alaika abdullahnyantai aja mbak Al meding pindahkan aja chanelnya di acara yang lebih bermutu.
namanya media selalu mendramatisir suatu berita agar mendapatkan tayangan di medianya entah itu bermutu atau tidak karena orientasi utamanya pada bisnis semata

April 15, 2013 at 9:28 PM

perumpamaannya mudah difahami mas. hehe alhamdulillah.
jadi ingat buku yang pernah pita baca, tentang kisah para sufi.. di dalamnya diceritakan bahwa seorang laki-laki penasaran dengan seorang sufi lalu mendatanginya. berniat ingin berguru tapi malah diperintahkan untuk menimba air di sumur... hingga bertahun-tahun..
sang laki-laki bingung, tapi akhirnya dia mempelajari sebuah kepatuhan. sami'na wa atho'na.. #kurang lebih begitu

April 16, 2013 at 6:06 AM

Tulisan kaka Insan selalu penuh hikmah, dan menambah pemahaman baru. terima kasih kk :)

entah sampai kapan perseteruan itu berlangsung ya, untungnya hak memilih masih milik kita. Ambil remote lalu pindahkan ke chanel yg lain. :)

April 16, 2013 at 10:15 AM

@GulunganpitaYups kadang2 memang harus disertai dengan bahasa hikmah dalam menyampaikan ilmu, seperti yang dilakukan para sufi jaman dulu. Ada makna filosofi dibalik itu selama tidak keluar dari kaidah syar'i

April 16, 2013 at 10:17 AM

@IrmaSenjaTerimakasih juga Adik Irma..

yups betul sekali ambil atau lihat tayangan yg bermutu aja

April 17, 2013 at 1:48 PM

Di tivi berita ini muncul terus ya. . .
Saling ngotoot malah. .

Air akan tetap bening atau berubah menjadi keruh tergantung yang memegang ya, Om. :)

April 18, 2013 at 10:09 PM

setuju bang. karena semua ilmu itu bersumber satu, yaitu dari Allah. tapi manusia saja yang kadang melencengkannya. misalnya dulu itu kata bapak saya, ilmu santet digunakan untuk menggiring ikan2 di laut agar mudah ditangkap nelayan, tapi sekarang ilmu santet malah digunakan mencelakai orang. naudzubillahimindzalik.

April 19, 2013 at 2:07 PM

nah itulah kang. sebuah pembahasan yang tepat. gak setiap orang yang kita pandang bijak, kita pandang mampu, orang pinter mampu membawa kita pada jalan yang benar. cari guru buat belajar pelajaran dunia itu mudah, tapi cari guru untuk pegangan jiwa itu yang perlu jelas dulu siapa orangnya. jangan ntar sudah nyemplung berguru sama dia, eh ternyata nyata kesesatannya. repotnya juga, kadang banyak yang cuma cari 'pembenaran' dari pada 'kebenaran' itu sendiri. makasih buat posting yang indah ini kang....

April 19, 2013 at 7:38 PM

@Idah Cerisbetul Idah kadang ngebosenin juga..

yup setuju banget..

April 19, 2013 at 7:39 PM

@Rakyan Widhowati TanjungNah itu dia ilmu yang suci dimanipulasi untuk kepentingan hawa nafsu

April 19, 2013 at 7:41 PM

@muhammad ridwanKomentar yang cerdas, tetap berhati2 mencari guru yang bisa bisa menuntun pada kebaikan dunia akhirat

April 19, 2013 at 11:59 PM

Bagus tulisannya Pak...
Sepertinya sekarang ini memang banyak sekali guru spiritual, khususnya bagi para selebritis itu ya?
Semoga saja gak ada lagi yang salah dalam memilih guru...

April 20, 2013 at 10:37 AM

@the othersTerimakasih...
Semoga kejadian itu menjadi pelajaran untuk semuanya

April 22, 2013 at 11:03 PM

wah jd belajar nih, bekal buat saya jg.. terimakasih.. :)
Masalah Eyang Subur dan Adi Bing Slamet, saya hanya bisa berdoa semoga Allah menunjukkan kuasaNya, agar tidak berlarut-larut dan saling tuduh, hingga banyak timbul kebohongan disana-sini.. (saya kurang mengikuti beritanya, hanya tau dari org tua siswa yg lg ngerumpi..) :)

April 23, 2013 at 9:20 AM

@Riski Fitriasarisesungguhnya kuasa-Nya sudah ditunjukan salah satu berupa Al Quran dan diturunkan Rasul akhir jaman sebagai penyampai risalah-Nya, hanya kadan manusia lebih suka dgn cara instan enggan belajar tp lebih memilih hal2 gaib yang belum tentu kebenarannya

makasih Riski..

May 23, 2013 at 11:28 AM

"Guru tidak boleh mencela suatu disiplin ilmu yang tidak ditekuninya karena cara itu sebagai gambaran akhlak yang tercela, melainkan harus berusaha mempelajarinya sebatas kemampuan."

keren.. stuju banget. :)

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes