Kali ini aku tidak akan menulis tentang hukum-hukum yang berkenaan dengan sebuah pernikahan seperti yang pernah aku tulis diposting
sebelumnya, tapi aku mencoba share tentang pengalamanku pada saat-saat pra nikah. Banyak diantara teman-teman khususnya kaum pria yang masih gamang dan bimbang saat menghadapi pernikahan, seperti apa yang terjadi pada si Dody salah satu teman tapi sudah seperti adikku sendiri. Kemaren dia datang kerumah untuk curhat tentang itu.
Dody bercerita panjang lebar tentang kegelisahannya karena dari pihak keluarga calonnya menanyakan tentang keseriusan hubungannya. Wah jadi inget lagunya Armada,
"mau dibawa kemana hubungan kita..." Pada intinya ketidak siapan para pria kebanyakan alasannya adalah pada masalah materi. Well aku tersenyum sendiri mendengar ceritanya si Dody, karena apa yang di hadapi persis dengan apa yang aku rasakan beberapa tahun yang lalu, akhirnya mau tidak mau aku harus cerita juga tentang masa laluku, agar sekali mendayung tiga atau empat pulau terlampaui maka apa yang aku sampaikan ke Dody, aku share juga disini, siapa tau ada manfaatnya bagi pembaca blog ini...,
ceilleh.. ge-er.
Sungguh beruntung disaat-saat terakhir masa kuliahku aku sudah mendapatkan kerja dibidang graphic design di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang packaging, setidak-tidaknya bisa mengurangi beban orang tua untuk urusan biaya kuliah. Memang agak ribet juga membagi waktu antara kuliah dan bekerja, terlebih pada saat menghadapi ujian tapi alhamdulillah walau agak pontang panting akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku di fak Hukum di salah satu universitas di Surabaya. Walau hasilnya masih kurang memuaskan tapi juga tidak jeblok-jeblok amat.
Sama seperti yang dihadapi si Dody akupun mengalami hal yang serupa. Setahun setelah kelulusanku dengan tanpa sepengetahuanku ternyata orang tuaku dan orang tua calon istriku telah melakukan kesepakatan untuk segera meresmikan pernikahanku dengan istriku. Karena istriku keturunan dari jawa dan Arab sedangkan adat dan kebiasaan orang Arab tidak boleh berlama-lama menjalin hubungan atau istilahnya berpacaran. Kalau memang sudah saling suka harus segera diresmikan, memang benar sih Islam sangat menganjurkan untuk menyegerakan pernikahan apabila syarat-syaratnya sudah terpenuhi agar tidak menimbulkan fitnah.
Sungguh di luar dugaanku ketika ayah menyampaikan agar kami segera meresmikan pernikahan, padahal usiaku waktu itu masih kurang lebih duapuluh dua tahun. Haruskah aku menikah di usia yang relatif muda? sebagai manusia normal tentu berpikir seribu kali, berbagai pertanyaan datang dari hatiku, sanggupkah aku menjadi imam bagi keluargaku sedangkan untuk mengatur diri sendiri aja masih acak-acakan, dan sanggupkah aku memberikan nafkah bagi keluarga baruku.
Jangankan untuk menafkahi istri dan anak yg kelak akan lahir, untuk beaya hidup sendiri aja masih pas-pasan bahkan kadang masih tekor. Apalagi ada beberapa cicilan yang harus menjadi tanggunganku, salah satunya cicilan terbesar adalah motor yang menjadi teman setiaku waktu itu. Apakah aku sanggup?, apakah aku bisa..? itulah pertanyaan dalam hati yang tidak mampu kujawab. Apa harus mendompleng ke orang tua ?. Sebenarnya bisa tapi tidak mungkin itu kulakukan, karena sudah menjadi kesepakatan antara aku dan kakak-kakak apabila sudah berkeluarga harus berani ambil keputusan keluar dari rumah entah bagaimanapun caranya.
Aku merenung dalam kesendirian, aku percaya dan yakin bahwa keinginan orang tua adalah untuk kebaikanku, akupun punya filosofi bahwa segala sesuatu tindakan akan lebih nyaman dan afdhol apabila ada restu dari orang tua termasuk dalam hal pernikahan. Belajar dari pengalaman sang kakak rasanya akan sulit membangun mahligai rumah tangga tanpa restu sepenuhnya dari orang tua. Kali ini orang tua sudah memberi lampu hijau padaku maka tidak ada alasan menolak keinginan mereka. Tapi kenapa keraguan ini masih menghantui, rasa bimbang makin menghadang. Di bawah pohon mangga depan rumah aku masih duduk diam sendiri dengan berbagai kebimbangan yang tak berujung, aku masih ingat ketika Ayah memberikan nasihat atas kebimbanganku, beliau dengan diplomatis mengatakan
"Ayah bukan ahli dalam agama, tapi ayah yakin jika pernikahan akan menjadi penyebab kemiskinan maka sedari awal Islam tidak akan menyuruh umatnya menikah"
Masuk akal juga sih apa yang disampaikan ayah tapi ternyata belum juga bisa meredam ketakutanku, ketakutan akan bayanganku sendiri. Aah...!! kepalaku mulai pusing kusandarkan kepala ini di kursi, kupandangi ranting dan dedaunan pohon mangga yang makin lama makin lebat, kulihat ada buah mangga yang menyembul diantara dedaunan. Warnanyapun mulai menguning, dalam hati ku berkata "jika aku punya istri mangga itu tidak bisa kumakan sendiri tapi harus kubagi berdua, berarti jatahku berkurang!". Ohw, pikiran bodohku tiba-tiba muncul, aku tersadar..! betapa tololnya aku ini kenapa aku tidak memohon kepada yang menciptakan mangga agar berbuah lebih banyak..? agar sekeluarga bisa menikmatinya bahkan bisa berbagi dengan orang-orang disekitarku..! Astagfirullah, setan mana yang merasuki pikiranku, sehingga aku melupakan yang menciptakan mangga, melupakan yang memberi rezeki padaku, padahal semua sudah diatur oleh Allah sang Maha pengatur kehidupan
Malamnya seusai sholat Isya’ aku sholat istiqoroh, memohon bimbingan pada pemilik jiwa dan ragaku, Ya Allah, jika yang diinginkan orang tuaku adalah baik bagiku yang bisa menambah keimanan kepada-Mu, maka segerakanlah dipertemukan dalam ikatan suci tali pernikahan, jika yang diinginkan orang tuaku tidak baik bagiku dan akan menjauhkan dari-Mu, maka bimbinglah aku untuk menuju jalan yang Engkau ridhoi. Tunjukkan jalan yang terbaik untukku, hanya Engkaulah yang maha tahu atas segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidupku. Subhanallah disuatu ketika aku seperti diingatkan dengan sebuah firman-Nya
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nur :32)
Coba kita garis bawahi firman ini "Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui" berarti pernikahan bukanlah penyebab dari suatu kemiskinan, karena Allah sendiri yang berjanji akan memberikan rezeki bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh menikah untuk ibadah dan mencari ridhanya, seperti sabda Rasulullah kepada salah satu sahabat.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridha-Nya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.(HR. Thabrani)
Alhamdulillah, Akhirnya aku bisa memenangkan atas diri-sendiri, menjadi yakin bahwa pernikahan bukanlah suatu beban, tapi suatu fase kehidupan yang harus dilalui, sebuah solusi bagi suatu kehidupan menuju muslim yang paripurna, sebagai pagar penjaga agar terhindar dari kemaksiatan. Dengan mengucap Bismillah kumantapkan hatiku, kubuang jauh-jauh rasa takut dan akan kuhadapi hidup dengan semangat baru seperti layaknya seorang mujahid yang hendak berangkat berjihad.
Tiba juga saat pernikahanku, dengan resepsi yang sederhana tanpa mengurangi kesakralan sebuah pernikahan. Statuskupun berubah, bukan lagi seorang laki-laki yang sendiri tapi jadi seorang imam bagi istriku. Aku menjadi suami bagi istriku yang bertanggung jawab sepenuhnya atas baik buruknya keluargaku. Aku bukan lagi laki-laki yang bisa bebas pergi kemana saja, bebas menentukan apapun yang diinginkan tapi harus juga memikirkan seorang pendamping dan berbagi serta berdiskusi untuk memutuskan sesuatu. Pada awalnya memang terasa berat tapi Alhamdulillah semua berjalan baik-baik karena semua aku jalani dengan perasaan enjoy bukan menjadi sebuah beban melainkan menjadkan sebuah ibadah.
***
Suatu hari telpon di meja kerjaku berdering, ternyata Bapak Direksi perusahaan meminta aku untuk datang diruang kerjanya, dengan hati penuh tanya kudatangi ruangannya. Direksi mempersilakan aku duduk, kamipun terlibat dalam sebuah pembicaraan serius tentang seputar pekerjaanku. Kujawab semua pertanyaannya dengan mantab dan diakhir pertemuan beliau mengatakan sesuatu kepadaku, dengan senyum beliau mengucapkan, "Selamat ! Karena kondite kerja anda bagus dan masa percobaan sudah lewat maka kami akan menaikkan salary anda terhitung mulai depan", katanya sambil menunjukkan sebuah angka padaku.
Alhamdulillah kenaikannya sangat diluar dari prediksiku, menjadi dua kali lipat, "Ya Allah, benarkah ini?", syukur Alhamdulillah kupajatkan kepada-Nya. Sebuah keajaiban telah kuterima dibalik pernikahanku. Terbukti benar bahwa Istri membawa rejeki tersendiri, saat ini aku telah membuktikan sendiri, belum genap tiga bulan pernikahanku ternyata Allah membalas tuntas keyakinanku akan janji-Nya yang tidak akan meleset. Bukan itu saja banyak keajaiban-keajaiban lain yang aku terima baik itu secara material ataupun sepiritual, dari sisi kehidupanpun aku menjadi lebih teratur dan terkontrol.
Setahun kemudian lahirlah seorang bayi mungil yang menjadikan kehidupan keluargaku, makin terasa lengkap dan indah. Lagi-lagi dengan kehadiran seorang anak juga membawa rezeki tersendiri. Allah memberikan limpahan rezekinya dari arah yang tidak terduga. Alhamdulillah bisnis yang kami jalankan ada progress yang cukup signifikan, suatu janji Allah yang tidak pernah luput. Tetapi sesungguhnya dengan kehadiran seorang bayi yang sehat di tengah-tengah keluargaku adalah suatu rezeki yang tidak bisa dibandingkan dengan nominal uang. Kami sungguh bahagia dengan rezeki tersebut dan masih banyak rezeki yang lain, salah satunya adalah telah berubahnya pola pikirku, telah berubah menjadi seorang ayah bagi seorang bayi dan harus mendidiknya dengan baik serta menjadi contoh yang baik pula.
Demikianlah sedikit yang bisa aku sampaikan tentang yang kurasakan pada saat-saat pra nikah. Dan kesimpulan yang dapat diambil adalah tidak ada yang perlu ditakuti, jangan pernah menganggap pernikahan adalah beban karena dengan menghindari pernikahan bukan berarti akan terhindar dari beban. Justru malah sebaliknya, hanya akan menambah beban baru sedang beban yang paling berat adalah adzab dari Allah Ta'ala. Pernikahan adalah sebuah kebutuhan fitrah bagi manusia, sebuah solusi atas dampak terjadinya perzinahan. Memang Rasulullah menganjurkan untuk berpuasa sebagai alternatif untuk menghindari kemaksiatan tapi bukankah puasa hanya solusi yang sifatnya sementara, sedangkan solusi utama tetap harus menikah sebagai sunatullah sekaligus sebagai sarana ibadah, yakinlah akan janji Allah
"Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki." (QS. Saba : 39)
"…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…." (QS. ath-Thalaaq : 2–3)
"…Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. ath-Thalaaq : 4)
Tidak ada dalam sejarah pernikahan sebagai penyebab kemiskinan, janganlah hanya karena belum siap dalam hal materi kalian menunda-nunda pernikahan. Belum pernah kutemukan sebuah riwayat bahwa Rasulullah menanyakan "Berapa penghasilanmu dalam sebulan?" berapa kekayaanmu di tabungan.? tetapi yang ditanyakan adalah "apa yang engkau punya untuk dijadikan mahar ? mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran".
Jadi jika kalian beralasan belum siap karena dalam hal materi sedangkan kalian sudah mempunyai penghasilan, maka alasan itu sudah terbantahkan dalam Islam. Apakah masih ragu dengan janji Allah bahwa "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.." ingat ini adalah janji Allah yang tersurat dalam kitab Suci-Nya, dan ingatlah bahwa janji Allah akan selalu ditepati.
Yang terakhi. Jangan pernah merasa takut untuk berbuat kebaikan, jangan pernah takut melakukan amalan yang benilai ibadah kepada Allah. Berikhtiarlah dan berikhtiarlah selalu untuk kemudian bertawakal kepada-NYA. Dan pesanku kepada orang tua yang mempunyai putra-putri yang sudah memenuhi syarat untuk menikah. Permudahlah, jangan karena silau dengan materi kalian mengingkari perintah Allah, janganlah hanya karena derajad dan pangkat kalian meninggalkan Sunnah Rasul. Semoga Allah merahmati kalian semua.
Wasssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh