Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

Tetap Bening Ditempat Bersih


Bismillahirrahmanirahiim
Perseteruan antara guru spiritual Eyang Subur dan mantan muridnya Adi Bing Slamet makin hari terasa makin gencar di media. Dalam hati kadang timbul pertanyaan apa ada yang salah dari hasil belajar dan mengajarnya. Tapi disini aku tidak akan membahas siapa yang benar atau yang salah diantaranya karena sangat riskan apabila memvonis sesuatu tanpa data dan fakta yang jelas, bukannya menyelesaikan masalah justru akan menambah masalah baru dan ujung-ujungnya akan timbul fitnah. Semoga semua ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih hati-hati dan lebih jeli terhadap seseorang untuk dijadikan guru apalagi guru spiritual.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dari guru spiritual. Aku mencoba sedikit menukil dengan apa yang disampaikan Al Imam Ghozali di buku Ihya ulumuddin tentang adab seorang guru terhadap muridnya:

  1. Guru harus belas-kasih kepada muridnya serta memperlakukan sebagai anak sendiri dengan tujuan menyelamatkannya dari api neraka

  2.  Meneladani sikap Rasulullah dengan tidak meminta upah dalam mengajar tapi semata hanya untuk menggapai ridho dan bertaqarub kepada-Nya. Juga tidak merasa berjasa atas para murid sekalipun jasa itu memang dirasakan karena akan menghilangkan nilai keikhlasan.

  3. Tidak memaksa untuk menguasai semua disiplin ilmu sekaligus melainkan secara bertahap dan berdasarkan kemampuan yang ada pada diri seseorang.Tidak mendalami ilmu yang tersembunyi sebelum mendalami ilmu yang jelas, karena tujuan menuntut ilmu adalah untuk taqarrub kepada Allah.

  4. Mencegah murid-muridnya dari akhlak yang tercela dengan penyampaian yang lemah-lembut, kasih-sayang atau dengan uswatun hasanah. Karena cara yang keras serta celaan hanya akan meurunkan kewibawaan guru dan menciptakan terjadinya pembangkangan.

  5. Guru tidak boleh mencela suatu disiplin ilmu yang tidak ditekuninya karena cara itu sebagai gambaran akhlak yang tercela, melainkan harus berusaha mempelajarinya sebatas kemampuan.

  6. Membatasi kemampuan pemahaman sang murid dengan cara tidak menyampaikan suatu ilmu yang belum bisa dijangkau oleh kemampuan akalnya

  7. Bisa mengetahui kemampuan muridnya, bagi yang kemampuannya terbatas sebaiknya disampaikan kepada hal-hal yang jelas dan cocok dengannya dan tidak memberikan ilmu yang perlu pendalaman yang belum bisa disampaikan kepadanya.

  8. Hendaknya guru mengamalkan ilmunya, yakni perbuatannya tidak mendustakan perkataannya sendiri. Karena ilmu diketahui dengan mata hati sedang amal diketahui dengan mata inderawi.

Itulah beberapa adab guru kepada muridnya dan dalam penerimaannya maka murid harus membersihkan jiwanya dahulu dari akhlak yang hina dan tercela karena menuntut ilmu merupakan ibadah hati maka jika hati tidak disucikan dan masih bercabang-cabang maka penerimaan hakikat ilmu akan sangat terbatas.

Sebenarnya pada awalnya ilmu Allah tidak mengenal ilmu hitam atau ilmu putih semuanya netral, bening dan suci karena pengaruh sifat, sikap dan akhlak manusia maka seolah ilmu menjadi terpecah menjadi ilmu hitam sebagai symbol keburukan dan ilmu putih sebagai symbol kebaikan. Rasanya sangat naib jika menisbatkan ilmunya Allah sebagai ilmu yang menggambarkan keburukan.

Ditempat yang bersih airpun tetap bening
Aku mencoba menganalogikan secara sederhana. Ilmu Allah adalah ibarat air yang bening dan suci sedangkan para ulama dan guru diibaratkan sebuah bejana tempat penampungan sementara air dan murid adalah ibarat gelas tempat dituangkannya air. Jadi air yang bening jika ditempatkan dibejana yang kotor maka air yang bening juga akan menjadi keruh maka dituangkan kedalam gelas juga akan keruh. Jika airnya bening dimasukkan kebejana bersih maka air yang dituangkan juga akan tetap bersih. Dan akan tetap bening jika gelas yang dituangi juga bersih dari noktah-noktah kotoran, sebaliknya jika gelasnya kotor air  dari bejana juga akan menjadi keruh juga.

Itu artinya untuk mendapatkan sesuatu yang suci maka harus diimbangi dengan hati dan jiwa yang suci dari noda-noda tercela. Maka untuk itu perlu adanya tazkiyatun nafs agar terjadinya sinergi antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Sebenarnya sangat gampang mendeteksi ilmu yang baik dan buruk. Ilmu yang baik merupakan kebenaran hakiki dari Allah, akan terasa indah ditangkap dengan inderawi, menghadirkan kesejukan dalam hati dan bisa memberikan perubahan akhlak menjadi lebih baik serta menambah tebal keimanan kepada Allah Ta’ala.

Dari sedikit tulisan ini harapanku untuk saudaraku muslim semua hendaklah selalu waspada dalam mencari guru pembimbing jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari, karena hidup hanya sekali manfaatkan sebaik-baiknya. Sebaik-baik guru adalah Rasulullah dan sang Maha Guru adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Rabu, 21 November 2012

Penawar Gelisah

Bismillahirrahmannirrahiim.
Akhir-akhir ini kulihat makin banyak status teman-teman di facebook dan twiter yang bersifat keluh-kesah. Menumpahkan kegelisahan pada status yang bisa dikonsumsi umum. Mengijinkan semua orang mengetahui masalah dan kelemahan yang ada pada dirinya. Belum lagi curhatan beberapa teman dan saudara yang datang langsung menceritakan kegundahan hatinya. Beberapa diantaranya bahkan sudah putus asa dan merasa tak sanggup menanggung beban hidupnya. Kegelisahan begitu mengusik batinnya.

Sadarkah kita, bahwa dengan berkeluh-kesah sesungguhnya hanya akan menunjukkan kelemahan diri sendiri dan dari keluh-kesah pula akan membuat kita semakin terpuruk dan terbelit dengan masalah yang lainnya. Karena alam bawah sadar dipaksa untuk menyerah, padahal kita punya kemampuan menggali potensi dan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan. Bukankah kita menyakini bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya.

Setiap kita pasti pernah mengalami gelisah. Resah. Jiwa terasa kosong. Merasa berada dalam tumpukan masalah. Kita bagai tak mampu berpikir positif dan rasional. Kegelisahan begitu mempengaruhi hati kita. Kita jadi merasa tak kuasa melakukan apa-apa. Atau usaha yang dilakukan terasa sia-sia.

Kegelisahan sering membuat kita salah langkah dalam mengobatinya. Begitu mudah kita terpengaruh saat-saat seperti itu. Kalau pengaruh ke hal yang baik, ya Alhamdulillah. Tapi kalau malah menyeret kita kepada masalah yang lebih rumit,  Astaghfirullahalaziim. Salah memilih tempat curhat juga tidak akan mampu membuang rasa gelisah resah itu. Yang ada malah masalah kita jadi makin menganga lebar tak terselesaikan.

Sebagai manusia kita tentunya banyak ketidakmampuan kalau mengandalkan diri sendiri. Masalah datang dan pergi. Silih berganti.

Tapi sebetulnya gelisah adalah hal yang wajar terjadi sebab kita manusia. Sebagai manusia tentunya banyak ketidakmampuan kita dalam menghadapi kehidupan. Perasaan itu ternyata memang wajar jika muncul pada hati kita. Mengapa demikian...? Sebab memang demikianlah kita diciptakan. oleh Allah Subhanahu Wata'ala.

Sebagaimana firman Allah:
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh (gelisah).  Dan apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir." (Terjemahan Surat Al-Ma'arij : 19-21)

Bahkan ternyata kekikiran manusiapun juga mampu menumbuhkan kegelisahan. Karena banyak orang yang diperbudak oleh harta sehingga kebahagiaan yang diperolehnya adalah semu. Apa yang dimilikinya malah membuatnya berada dalam kegelisahan yang panjang.
Lantas apakah kemudian kita akan menyalahkan Allah atas rasa gelisah itu? Bukankah kita sebagai makhluknya tak punya kuasa dalam merubah ketetapan-Nya? Apakah kemudian kita merasa pantas untuk larut dalam kegelisahan?

Tentu saja tidak. Sebab meskipun secara manusiawi demikianlah kita diciptakan, namun Allah juga memberikan obat atau solusi bagi rasa gelisah itu. Apa obatnya...? Diterangkan oleh Allah bagaimana kita bisa menghilangkan perasaan tak nyaman itu, dalam surat yang sama (Al Ma-arij) pada ayat-ayat berikutnya.
"Kecuali orang-orang yang melaksanakan sholat. Mereka yang tetap setia melaksanakan sholatnya." (Terjemahan Surat Al-Ma'arij : 22 -23)
Sholat adalah perjumpaan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menghadapnya kita pada Sang Pencipta. Kepatuhan kita kepada Sang Kuasa. Dimana dalam sholat ada pujian-pujian untuk Allah, permohonan-permohonan kepada Allah, ikrar/janji kita padaNya (Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati). 

Sholat adalah perjumpaan kita dengan Allah
Maka dengan sholat kita mencari ridho Allah. Jika kita bersandarkan diri padaNya kita akan merasa tenang. Segala ketidakmampuan kita pasrahkan pada Sang Khalik. Pada saat kita selalu mengingatNya, kita disadarkan bahwa ada kekuatan yang amat besar yang mengendalikan kita. Sehingga pada saat kita memohon untuk diberi kekuatan dariNya, maka kita akan merasa memiliki kekuatan untuk terus menjalani hidup, sebab kita sudah memohon kepada Sang Maha Pemberi Kekuatan.

Sholat yang mampu menghilangkan kegelisahan adalah sholat yang mampu menghadirkan hati kita kepada Allah. Bukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Sholat juga sebagai penghubung antara hamba dan Robbnya sekaligus sebagai penyejuk mata dan pelipur lara. Begitu mulia nilainya sehingga shalat pertama kali diwajibkan pada malam isra' mi'raj. Sebagai gambaran bahwa hakikat sholat adalah seakan-akan ruh kita naik menghadap sang maha pencipta ketika kita melakukannya dengan menghadirkan hati. Sehingga sholat mampu menjadi tiang bagi bangunan keimanan kita supaya kokoh dan terus tegak berdiri.
"Dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu" (Terjemahan Surat Al-Ma'arij : 24)
Kikir adalah salah satu penyakit hati. Kekikiran yang membuat hati gelisah bisa dihilangkan dengan zakat dan sedekah. Karena zakat dan sedekah adalah pensucian dari harta kita. Selalu ada hak orang yang tidak mampu dalam harta yang kita miliki. Berbagi kepada orang yang membutuhkan adalah sebuah wujud rasa syujur kita atas pemberian Allah kepada kita. Dan Allah akan membalasnya dengan sesuatu yang lebih.

Konsep harta dalam Islam adalah milik Allah yang diamanahkan kepada manusia, dan manusia hanya berhak mengelolanya maka dalam mendapatkan dan menyalurkan harus sesuai dengan cara-cara yang dibenarkan oleh Allah. Jika manusia enggan berzakat dan bersedekah dengan sebagian hartanya maka bisa dipastikan mustahil bagi manusia untuk menginfakkan hartanya di jalan Allah.
"Dan bagi orang-orang yang mempercayai hari pembalasan." (Terjemahan Surat Al-Ma'arij : 26)
Dengan meyakini akan adanya hari kiamat dan hari pembalasan, maka segala perilaku kita akan terwujud dalam ibadah yang kita pasrahkan kepada Allah. Kegelisahan akan jauh dari orang-orang yang hidupnya berserah diri kepada Allah Subahanahu Wata'ala.
"Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Sesungguhnya terhadap azab mereka tidak ada seseorangpun yang merasa aman (dari kedatangannya)." (Terjemahan Surat Al-Ma'arij : 27-28)
Dengan selalu merasa takut pada azab dari Allah maka kita akan selalu bermuhasabah diri. Bertaubat dari segala dosa dan kesalahan. Memperbaiki hidup kita semata untuk mencari ridha Allah. Kegelisahan di dunia hanya akan membuat kita jauh dari Allah. Ingat selalu akan azab Allah mendorong kita pada ibadah yang khusyuk, yang otomatis bisa menghilangkan kegelisahan.
"Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barangsiapa mencari di luar itu (seperti zina, homoseks dan lesbian) maka mereka itulah orang-orang yang melampau batas." (Terjemahan Surat Al-Ma'arij : 29-31)
Banyak rasa gelisah yang muncul karena memikirkan lawan jenis meskipun yang bukan sebagai haknya. Nafsu yang menguasai pada awalnya bagai sebuah keindahan. Namun pada tahap berikutnya akan menimbulkan permasalahan hati yang begitu menyiksa. Larangan mendekati zina tak mempan untuk melawan serangan hawa nafsu seseorang. Jatuh ke dalam kehidupan seks bebas bagai siap menjeratkan diri pada permasalahan panjang yang menghadang.

Namun tidak demikian bagi orang-orang yang mampu menjaga kemaluannya. Bagi wanita kewajiban menutup aurat adalah untuk melindungi dirinya. Menjaga pandangan bagi laki-laki dan perempuan adalah sebuah cara untuk menghindari zina. Diri yang bersih dari hawa nafsu tentunya akan jauh dari rasa gelisah.
"Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya." (Terjemahan Surat Al-Ma'arij : 32)
Amanat dan janji harus bisa kita jaga. Kepercayaan orang lain kepada kita harus kita pegang penuh dan jangan kita ingkari. Mahalnya kehilangan sebuah kepercayaan akan membuat kita merasa tidak tenang menjalani hidup. Kepercayaan yang luntur akan sulit untuk dihilangkan. Bekasnya akan tetap ada. Dalam contoh yang lebih luas lagi, yaitu para pemimpin yang tidak amanah. Banyak janji yang diingkari. Amanat dari orang banyak tak dikerjakan. Maka kemudian datang azab Allah yang bagai membalik telapak tangan saja. Kegelisahan kemudian akan menjadi panjang dalam hidupnya.
"Dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya." (Terjemahan Surat Al-Ma'arij : 33)
Apakah kita bisa tenang dengan kesaksian dan sumpah palsu yang kita ucapkan? Tentu saja tidak. Hati kecil kita akan merasa tidak tenang olehnya. Membohongi orang lain bahkan diri sedniri tentunya akan menjadi penyebab datangnya kegelisahan. Maka pegang teguhlah sumpah dan kesaksian, maka gelisah akan jauh dari kita.


                                                                       ~oOo~


Semoga tulisan ini bisa membuka hati teman-teman tidak berlarut dalam resah dan gelisahnya. Allah sudah memberikan penawarnya. Tinggal maukah kita mengerjakan amalannya? Ibarat penyakit yang butuh obat. Maukah kita minum obatnya agar penyakit kita sembuh?



Ditulis bersama:
Niken Kusumowardhani
dengan Insan Robbani

Rabu, 12 September 2012

Kemuliaan Menuntut Ilmu


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Orang Muslim berkeyakinan bahwa mengasah otak dengan ilmu dan menggunakan akal dan pikirannya untuk menyingkap tanda-tanda kekuasaan serta kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dialam ini merupakan suatu hal yang wajib. Sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim" (HR Ibnu Majah)

Berdasarkan hal itu maka manusia berkewajiban mengisi pikirannyannya dengan ilmu dan pengetahuan secara berkesinambungan dan tidak akan pernah berhenti selama nyawa masih dikandung badan. Sebagai motivasi bagi manusia, maka Allah Ta’ala akan meninggikan orang-orang yang berilmu dan mengkhususkannya mereka sebagai orang yang paling takut kepada-Nya. Dia jadikan hal itu sebagai kemuliaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang berilmu saja

Allah Berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Faathir : 28)

Tidak ada yang takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya kecuali orang-orang yang pikirannya bersinar cemerlang dan tampak olehnya kekuasaan dan kebesaran-Nya di alam jagad raya ini, mereka inilah yang disebut ulama atau orang-orang berilmu.

Lebih lanjut Allah mengunggulkan mereka yang berilmu dengan yang tidak berilmu melalui firman-Nya:
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar : 9)

Shafwan bin Assal Al-Muradi ra.pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika itu beliau sedang berada di masjid. Dia mengucapkan kepada beliau, “Ya Rasulullah aku datang untuk menuntut ilmu. “Maka beliau berkata, “Selamat datang penuntut ilmu, sesungguhnya penuntut ilmu itu dikelilingi malaikat dengan sayapnya, kemudian sebagian mereka menaiki sebagian lainnya sehingga mereka sampai kelangit dunia karena kecintaan mereka pada yang dituntutnya (HR Ahmad, Thabarani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Cukup banyak nash-nash yang membahas mengenai keutamaan ilmu dan anjuran untuk menuntutnya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa orang-orang mukmin yang benar-benar taat dan memahami ajaran agamanya senantiasa berilmu dan belajar dan terus menelaah dan menambah ilmunya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh





Senin, 16 April 2012

Dibalik Keajaiban Pernikahan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirahmanirahim
Kali ini aku tidak akan menulis tentang hukum-hukum yang berkenaan dengan sebuah pernikahan seperti yang pernah aku tulis diposting sebelumnya, tapi aku mencoba share tentang pengalamanku pada saat-saat pra nikah. Banyak diantara teman-teman khususnya kaum pria yang masih gamang dan bimbang saat menghadapi pernikahan, seperti apa yang terjadi pada si Dody salah satu teman tapi sudah seperti adikku sendiri. Kemaren dia datang kerumah untuk curhat tentang itu.

Dody bercerita panjang lebar tentang kegelisahannya karena dari pihak keluarga calonnya menanyakan tentang keseriusan hubungannya. Wah jadi inget lagunya Armada, "mau dibawa kemana hubungan kita..." Pada intinya ketidak siapan para pria kebanyakan alasannya adalah pada masalah materi. Well aku tersenyum sendiri mendengar ceritanya si Dody, karena apa yang di hadapi persis dengan apa yang aku rasakan beberapa tahun yang lalu, akhirnya mau tidak mau aku harus cerita juga tentang masa laluku, agar sekali mendayung tiga atau empat pulau terlampaui maka apa yang aku sampaikan ke Dody, aku share juga disini, siapa tau ada manfaatnya bagi pembaca blog ini..., ceilleh.. ge-er.

Sungguh beruntung disaat-saat terakhir masa kuliahku aku sudah mendapatkan kerja dibidang graphic design di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang packaging, setidak-tidaknya bisa mengurangi beban orang tua untuk urusan biaya kuliah. Memang agak ribet juga membagi waktu antara kuliah dan bekerja, terlebih pada saat menghadapi ujian tapi alhamdulillah walau agak pontang panting akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku di fak Hukum di salah satu universitas di Surabaya. Walau hasilnya masih kurang memuaskan tapi juga tidak jeblok-jeblok amat.

Sama seperti yang dihadapi si Dody akupun mengalami hal yang serupa. Setahun setelah kelulusanku dengan tanpa sepengetahuanku ternyata orang tuaku dan orang tua calon istriku telah melakukan kesepakatan untuk segera meresmikan pernikahanku dengan istriku. Karena istriku keturunan dari jawa dan Arab sedangkan adat dan kebiasaan orang Arab tidak boleh berlama-lama menjalin hubungan atau istilahnya berpacaran. Kalau memang sudah saling suka harus segera diresmikan, memang benar sih Islam sangat menganjurkan untuk menyegerakan pernikahan apabila syarat-syaratnya sudah terpenuhi agar tidak menimbulkan fitnah.

pict taken here
Sungguh di luar dugaanku ketika ayah menyampaikan agar kami segera meresmikan pernikahan, padahal usiaku waktu itu masih kurang lebih duapuluh dua tahun. Haruskah aku menikah di usia yang relatif muda? sebagai manusia normal tentu berpikir seribu kali, berbagai pertanyaan datang dari hatiku, sanggupkah aku menjadi imam bagi keluargaku sedangkan untuk mengatur diri sendiri aja masih acak-acakan, dan sanggupkah aku memberikan nafkah bagi keluarga baruku.

Jangankan untuk menafkahi istri dan anak yg kelak akan lahir, untuk beaya hidup sendiri aja masih pas-pasan bahkan kadang masih tekor. Apalagi ada beberapa cicilan yang harus menjadi tanggunganku, salah satunya cicilan terbesar adalah motor yang menjadi teman setiaku waktu itu. Apakah aku sanggup?, apakah aku bisa..? itulah pertanyaan dalam hati yang tidak mampu kujawab. Apa harus mendompleng ke orang tua ?. Sebenarnya bisa tapi tidak mungkin itu kulakukan, karena sudah menjadi kesepakatan antara aku dan kakak-kakak apabila sudah berkeluarga harus berani ambil keputusan keluar dari rumah entah bagaimanapun caranya.

Aku merenung dalam kesendirian, aku percaya dan yakin bahwa keinginan orang tua adalah untuk kebaikanku, akupun punya filosofi bahwa segala sesuatu tindakan akan lebih nyaman dan afdhol apabila ada restu dari orang tua termasuk dalam hal pernikahan. Belajar dari pengalaman sang kakak rasanya akan sulit membangun mahligai rumah tangga tanpa restu sepenuhnya dari orang tua. Kali ini orang tua sudah memberi lampu hijau padaku maka tidak ada alasan menolak keinginan mereka. Tapi kenapa keraguan ini masih menghantui, rasa bimbang makin menghadang. Di bawah pohon mangga depan rumah aku masih duduk diam sendiri dengan berbagai kebimbangan yang tak berujung, aku masih ingat ketika Ayah memberikan nasihat atas kebimbanganku, beliau dengan diplomatis mengatakan

"Ayah bukan ahli dalam agama, tapi ayah yakin jika pernikahan akan menjadi penyebab kemiskinan maka sedari awal Islam tidak akan menyuruh umatnya menikah"  

Masuk akal juga sih apa yang disampaikan ayah tapi ternyata belum juga bisa meredam ketakutanku, ketakutan akan bayanganku sendiri. Aah...!! kepalaku mulai pusing kusandarkan kepala ini di kursi, kupandangi ranting dan dedaunan pohon mangga yang makin lama makin lebat, kulihat ada buah mangga yang menyembul diantara dedaunan. Warnanyapun mulai menguning, dalam hati ku berkata "jika aku punya istri mangga itu tidak bisa kumakan sendiri tapi harus kubagi berdua, berarti jatahku berkurang!". Ohw, pikiran bodohku tiba-tiba muncul, aku tersadar..! betapa tololnya aku ini kenapa aku tidak memohon kepada yang menciptakan mangga agar berbuah lebih banyak..? agar sekeluarga bisa menikmatinya bahkan bisa berbagi dengan orang-orang disekitarku..! Astagfirullah, setan mana yang merasuki pikiranku, sehingga aku melupakan yang menciptakan mangga, melupakan yang memberi rezeki padaku, padahal semua sudah diatur oleh Allah sang Maha pengatur kehidupan

Malamnya seusai sholat Isya’ aku sholat istiqoroh, memohon bimbingan pada pemilik jiwa dan ragaku, Ya Allah, jika yang diinginkan orang tuaku adalah baik bagiku yang bisa menambah keimanan kepada-Mu, maka segerakanlah dipertemukan dalam ikatan suci tali pernikahan, jika yang diinginkan orang tuaku tidak baik bagiku dan akan menjauhkan dari-Mu, maka bimbinglah aku untuk menuju jalan yang Engkau ridhoi. Tunjukkan jalan yang terbaik untukku, hanya Engkaulah yang maha tahu atas segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidupku. Subhanallah disuatu ketika aku seperti diingatkan dengan sebuah firman-Nya
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nur :32)

Coba kita garis bawahi firman ini "Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui"  berarti pernikahan bukanlah penyebab dari suatu kemiskinan, karena Allah sendiri yang berjanji akan memberikan rezeki bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh menikah untuk ibadah dan mencari ridhanya, seperti sabda Rasulullah kepada salah satu sahabat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridha-Nya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.(HR. Thabrani)

Alhamdulillah, Akhirnya aku bisa memenangkan atas diri-sendiri, menjadi yakin bahwa pernikahan bukanlah suatu beban, tapi suatu fase kehidupan yang harus dilalui, sebuah solusi bagi suatu kehidupan menuju muslim yang paripurna, sebagai pagar penjaga agar terhindar dari kemaksiatan. Dengan mengucap Bismillah kumantapkan hatiku, kubuang jauh-jauh rasa takut dan akan kuhadapi hidup dengan semangat baru seperti layaknya seorang mujahid yang hendak berangkat berjihad.

Tiba juga saat pernikahanku, dengan resepsi yang sederhana tanpa mengurangi kesakralan sebuah pernikahan. Statuskupun berubah, bukan lagi seorang laki-laki yang sendiri tapi jadi seorang imam bagi istriku. Aku menjadi suami bagi istriku yang bertanggung jawab sepenuhnya atas baik buruknya keluargaku. Aku bukan lagi laki-laki yang bisa bebas pergi kemana saja, bebas menentukan apapun yang diinginkan tapi harus juga memikirkan seorang pendamping dan berbagi serta berdiskusi untuk memutuskan sesuatu. Pada awalnya memang terasa berat tapi Alhamdulillah semua berjalan baik-baik karena semua aku jalani dengan perasaan enjoy bukan menjadi sebuah beban melainkan menjadkan sebuah ibadah.

***

Suatu hari telpon di meja kerjaku berdering, ternyata Bapak Direksi perusahaan meminta aku untuk datang diruang kerjanya, dengan hati penuh tanya kudatangi ruangannya. Direksi mempersilakan aku duduk, kamipun terlibat dalam sebuah pembicaraan serius tentang seputar pekerjaanku. Kujawab semua pertanyaannya dengan mantab dan diakhir pertemuan beliau mengatakan sesuatu kepadaku, dengan senyum beliau mengucapkan, "Selamat ! Karena kondite kerja anda bagus dan masa percobaan sudah lewat maka kami akan menaikkan salary anda terhitung mulai depan", katanya sambil menunjukkan sebuah angka padaku.

Alhamdulillah kenaikannya sangat diluar dari prediksiku, menjadi dua kali lipat, "Ya Allah, benarkah ini?", syukur Alhamdulillah kupajatkan kepada-Nya. Sebuah keajaiban telah kuterima dibalik pernikahanku. Terbukti benar bahwa Istri membawa rejeki tersendiri, saat ini aku telah membuktikan sendiri, belum genap tiga bulan pernikahanku ternyata Allah membalas tuntas keyakinanku akan janji-Nya yang tidak akan meleset. Bukan itu saja banyak keajaiban-keajaiban lain yang aku terima baik itu secara material ataupun sepiritual, dari sisi kehidupanpun aku menjadi lebih teratur dan terkontrol.

Setahun kemudian lahirlah seorang bayi mungil yang menjadikan kehidupan keluargaku, makin terasa lengkap dan indah. Lagi-lagi dengan kehadiran seorang anak juga membawa rezeki tersendiri. Allah memberikan limpahan rezekinya dari arah yang tidak terduga. Alhamdulillah bisnis yang kami jalankan ada progress yang cukup signifikan, suatu janji Allah yang tidak pernah luput. Tetapi sesungguhnya dengan kehadiran seorang bayi yang sehat di tengah-tengah keluargaku adalah suatu rezeki yang tidak bisa dibandingkan dengan nominal uang. Kami sungguh bahagia dengan rezeki tersebut dan masih banyak rezeki yang lain, salah satunya adalah telah berubahnya pola pikirku, telah berubah menjadi seorang ayah bagi seorang bayi dan harus mendidiknya dengan baik serta menjadi contoh yang baik pula.

Demikianlah sedikit yang bisa aku sampaikan tentang yang kurasakan pada saat-saat pra nikah. Dan kesimpulan yang dapat diambil adalah tidak ada yang perlu ditakuti, jangan pernah menganggap pernikahan adalah beban karena dengan menghindari pernikahan bukan berarti akan terhindar dari beban. Justru malah sebaliknya, hanya akan menambah beban baru sedang beban yang paling berat adalah adzab dari Allah Ta'ala. Pernikahan adalah sebuah kebutuhan fitrah bagi manusia, sebuah solusi atas dampak terjadinya perzinahan. Memang Rasulullah menganjurkan untuk berpuasa sebagai alternatif untuk menghindari kemaksiatan tapi bukankah puasa hanya solusi yang sifatnya sementara, sedangkan solusi utama tetap harus menikah sebagai sunatullah sekaligus sebagai sarana ibadah, yakinlah akan janji Allah

"Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki." (QS. Saba : 39)

"…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…." (QS. ath-Thalaaq : 2–3)

"…Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. ath-Thalaaq : 4)

Tidak ada dalam sejarah pernikahan sebagai penyebab kemiskinan,  janganlah hanya karena belum siap dalam hal materi kalian menunda-nunda pernikahan. Belum pernah kutemukan sebuah riwayat bahwa Rasulullah menanyakan "Berapa penghasilanmu dalam sebulan?" berapa kekayaanmu di tabungan.? tetapi yang ditanyakan adalah "apa yang engkau punya untuk dijadikan mahar ? mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran".

Jadi jika kalian beralasan belum siap karena dalam hal materi sedangkan kalian sudah mempunyai penghasilan, maka alasan itu sudah terbantahkan dalam Islam. Apakah masih ragu dengan janji Allah bahwa "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.." ingat ini adalah janji Allah yang tersurat dalam kitab Suci-Nya, dan ingatlah bahwa janji Allah akan selalu ditepati.

Yang terakhi. Jangan pernah merasa takut untuk berbuat kebaikan, jangan  pernah takut melakukan amalan yang benilai ibadah kepada Allah. Berikhtiarlah dan berikhtiarlah selalu untuk kemudian bertawakal kepada-NYA. Dan pesanku kepada orang tua yang mempunyai putra-putri yang sudah memenuhi syarat untuk menikah. Permudahlah, jangan karena silau dengan materi kalian mengingkari perintah Allah, janganlah hanya karena derajad dan pangkat kalian meninggalkan Sunnah Rasul. Semoga Allah merahmati kalian semua.

Wasssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
 

Senin, 02 April 2012

Ayo Segera Menikah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirahmanirahim
Alhamdulillah akhirnya saya bisa posting kembali di blog ini, karena ada permintaan dari seorang teman maka kali ini saya mengulas masalah hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan yang ditinjau dalam kaca mata Islam. walau sangat singkat saya berharap ada manfaatnya.
Perkawinan merupakan suatu sunnatullah atau berupa hukum alam di dunia, perkawinan bukan hanya dilakukan oleh manusia tetapi juga oleh hewan bahkan tumbuh-tumbuhan, seperti didalam firman-Nya:

"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasin :36)

Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk yang lebih dimuliakan dan diutamakan, maka Allah menetapkan adanya aturan tentang perkawinan, sehingga manusia tidak bisa berbuat semaunya seperti apa yang dilakukan oleh binatang tanpa mengenal etika dan tata cara  ataupun seperti tumbuhan yang bisa melakukan perkawinan melalui perantara angin, sebagaimana firman Allah:

"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit,..." (QS Al Hijr : 22)

Dalam hal perkawinan, Allah telah memberi batas-batas kepada manusia dengan peraturan-peraturan-Nya yaitu dengan syariat yang terdapat dalam kitab-Nya dan sunnah Rasulullah berupa hukum-hukum perkawinan, misalnya dalam hal meminang, tentang mahar atau maskawin, dalam hal akad nikad dan sebagainya

Islam sangat menghargai suatu perkawinan, banyak sekali ayat-ayat dari Al Qur'an ataupun Hadist Nabi yang memberikan anjuran untuk melakukan perkawinan, seperti contohnya adalah Firman Allah

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar Rum : 21)

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian[1035] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An Nur : 32)

"Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah kawin. Sesungguhnya perkawinan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya." (HR. Bukhari)

"Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: "Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku." (Muttafaq Alaihi)

Serta masih banyak dalil-dalil yang mendukung dan menganjurkan untuk melakukan perkawinan. Islam sangat menyukai perkawinan dengan segala akibat baik yang berhubungan dengan perkawinan itu sendiri, baik bagi yang bersangkutan, bagi orang lain, bagi masyarakat serta bagi kemanusiaan pada umumnya. Diantara manfaat perkawinan adalah bahwa perkawinan itu bisa menentramkan jiwa, menahan emosi, menahan pandangan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah serta untuk mendapatkan kasih sayang antara suami istri yang dihalalkan oleh agama Islam, sesuai dengan firman-Nya di surah Ar-Rum : 21, yang sudah disebut diatas, Manfaat lainnya yaitu perkawinan untuk mengembangkan keturunan dan menjaga kelangsungan hidup, seperti yang disabdakan Rasulullah:

"Kawinlah dengan wanita yang kamu cintai dan yang subur, karena saya akan bangga dengan jumlahmu kepada Nabi-nabi lain di hari kiamat." (HR Ahmad)

Hikmah lain dari perkawinan adalah  menjalin ikatan kekeluargaan, keluarga suami dan keluarga istrinya, untuk memperkuat ikatan kasih sayang sesama mereka, karena keluarga yang diikat kasih sayang adalah keluarga yang kokoh bahagia.

Secara Hukum, maka perkawinan asalnya adalah mubah tetapi dapat berubah menurut keadaannya menjadi:
  • Nikah Wajib. Kawin diwajibkan bagi orang yang sudah mampu, yang akan menambah ketaqwaan dan bila dikhawatirkan akan berbuat zina. karena menjaga jiwa dan menjaga dari perbuatan haram adalah wajib. Kewajiban ini tidak dapat terlaksana kecuali dengan kawin.
  • Nikah Haram. Kawin diharamkan apabila menyadari dirinya tidak mampu melaksanakan hidup berumah tangga, melaksanakan kewajiban lahir terlebih tidak mampu memberikan kewajiban bathin terhadap istrinya.
  • Nikah Sunnah. Kawin disunnahkan bagi yang sudah mampu, tetapi masih mampu mengendalikan dirinya dari perbuatan yang haram, tetapi dalam hal ini kawin akan lebih baik daripada membujang, karena membujang tidak dianjurkan dalam Islam
  • Nikah Makruh. Yaitu bagi orang yang tidak berkeinginan menggauli istri dan memberi nafkah kepadanya. Sekiranya hal itu tidak menimbulkan bahaya bagi si istri, seperti karena ia kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat (seks) yang kuat
  • Nikah Mubah. Bagi orang yang tidak ada halangan untuk kawin dan dorongan untuk kawin belum membahayakan dirinya maka ia belum wajib kawin dan tidak diharamkan bila belum melakukan perkawinan.
Diatas sudah sedikit saya bahas masalah perkawinan, selanjutnya bagaimana suami atau istri yang tepat untuk dijadikan pasangan hidup kita ?
Seorang Istri adalah tempat berteduh bagi suami, sebagai teman hidup, sebagai pengatur rumah tangga, ibu bagi anak-anaknya, tempat menyampaikan isi hatinya dan sebagainya, maka sudah seharusnya bagi seorang pria yang hendak menikah berhati-hati dalam memilih istri, apabila sudah mendapatkan wanita yang shalihah, taat dalam agama serta dari keluarga baik-baik hendaklah segera meminang dari walinya, karena laki-laki tidak boleh meminang seorang wanita hanya karena kecantikannya ataupun karena tinggi kedudukannya.

Rasulullah bersabda:
"Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia." (Muttafaq Alaihi) 

Tetapi tidak ada salahnya memilih wanita yang berparas cantik selama baik akhlaknya serta taat dalam beragama.

”Sebaik-baik isteri adalah yang jika kamu memandangnya maka kamu akan senang, jika kamu menyuruhnya maka ia akan menurut dengan patuh, jika kamu bersumpah agar ia melakukan sesuatu maka dipenuhi dengan baik dan jika kamu bepergian maka ia menjaga dirinya dan harta bendamu.” (HR Nasai) 

Begitu pula bagi seorang muslimah hendaklah para wali juga harus berhati-hati dalam mencarikan jodoh untuk anaknya, demi kehormatan dan kemuliaannya, hendaklah mencari menantu yang baik dalam agamanya serta baik akhlaknya, karena dengan keluhuran akhlak serta taat dalam ibadah insya Allah akan menjadi suami yang ideal bagi anaknya.

“Sesempurna-sempurnanya iman orang-orang mukmin adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Imam Tirmidzi) 

Apabila seorang laki-laki boleh melihat perempuan yang akan dinikahinya maka perempuanpun boleh melihat laki-laki yang akan menjadi teman hidupnya, apabila si perempuan setuju, ia boleh dinikahkan tetapi apabila tidak suka maka tidak boleh dipaksakan

Sebelum adanya pernikahan biasanya ada Khitbah (meminang), meminang artinya permintaan seorang laki-laki kepada wali dari anak perempuan yang hendak dikawini, sebagai pendahuluan kawin, khitbah adalah kebiasaan masyarakat Arab lama yang diteruskan oleh Islam, nah bagaimana hukum-hukum tentang khitbah / meminang, insya Allah akan dilanjutkan di posting berikutnya.

Semoga postingan ini bermanfaat, dan semoga Allah berkenan menerimanya sebagai amal bakti dengan tulus hati. Amin

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Senin, 12 Maret 2012

Kalau Bisa Lembut, Kenapa Harus Keras..?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tulisan ini sebenarnya sudah beberapa bulan lalu saya buat hanya belum sempat saya posting disini, semoga tulisan yang sudah usang ini tetap mengandung manfaat bagi pembaca, khususnya para orang tua dan pendidik

Sore itu saya sedikit terkejut ketika pulang kantor melihat anakku hanya terdiam dikamar, tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu ceria menyambut ayahnya pulang dengan cerita-ceritanya yang seolah tiada habisnya. Akhir-akhir ini dia sering menceritakan seputar teman-temannya yang baru, kebetulan dia baru masuk sekolah baru, tapi entah kenapa sore ini cerita-cerita itu tidak lagi menyambut kedatangan ayahnya. 

“Ah mungkin dia lagi capek sekolah dengan pelajaran barunya”, gumanku dalam hati menepis kecurigaan.

Tapi tidak lama setelah tas kerja dan sepatu kulepas dia menghampiriku dengan mata sedikit berkaca dan kalimat terbata-bata meminta padaku untuk pindah sekolah. “Ada apa ini ?” kataku dalam hati. Kuredam tangis anakku dengan senyum dan belaian rambutnya.



Setelah selesai mandi dan sholat maghrib berjamaah, lagi-lagi anakku memintaku untuk memindahkan sekolah kesekolah Islam full day dengan alasan lebih dekat dari rumah dan banyak temannya di sana, ah sungguh aneh!!. Padahal kemaren-kemaren dia semangat sekali disekolah barunya di salah satu SMPN Surabaya, ketika kutanya kenapa minta pindah sekolah, dia hanya mengatakan “Ingin lebih dekat dari rumah”, tetapi sepertinya ada sesuatu masalah yang disembunyikannya. 

Dengan perlahan aku tanya padanya. 

“Hayo adik harus jujur dan terus terang sama papa, agar masalahnya bisa diselesaikan", dia diam menundukkan kepala seolah ada yang ingin disampaikan tapi ditahan.

Sekali lagi kutanya "ada masalah apa dik..? hayo cerita, agar papa bisa membantu", dengan mata masih berkaca-kaca dia menceritakan bahwa tadi siang dia disuruh gurunya untuk memotong rambutnya.

“Loh bukannya dua hari lalu adik sudah potong rambutnya..? apa adik tidak cerita..?”

“Devon tidak diberi kesempatan untuk cerita, Pak Guru langsung potong rambutku lantas pergi”.  Jawabnya masih dengan agak terbata

“Kalau cuman disuruh potong rambut aja kenapa adik mesti nangis dan minta pindah sekolah..? tanyaku menyelidik.

“Tadi Pak guru menyuruhnya sambil membentak”, kata dia mengadu. 

“Ya sudah nanti dianterin potong rambut lagi”, kataku untuk meredam hatinya.

Mungkin Devon tidak terbiasa dengan suara yang berintonasi agak tinggi, karena sejak kecil dari KBIT, TKIT sampai SDIT hampir tidak ada suara dari ustadz dan ustadzahnya yang berintonasi tinggi. Devon agak sedikit kaget dan shock dengan perubahan tersebut, akhirnya sebagai orang tua saya berusaha menenangkan kegelisahannya dengan kata-kata yang klasik 

“Itu karena Pak Guru sayang Devon, supaya Devon kelihatan rapi dan ganteng”.

Dari sedikit cerita ini bisa disimpulkan bahwa si Devon belum siap dengan perubahan dari guru-gurunya yang dulu lembut, kasih sayang serta pendekatannya sebagai teman, dengan gurunya sekarang yang menerapkan kedisiplinan dengan style yang lebih streng,  Saya pernah membaca sebuah buku karya dua orang ulama besar, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), secara garis besarnya ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Pertama adalah melalui Qudwah (Keteladanan)
Kedua adalah dengan Aadah (Pembiasaan)
Ketiga adalah melalui Pemberian Mau’izhoh (Nasehat)
Keempat dengan melaksanakan Mulahazhoh (Mekanisme Kontrol)
Kelima dengan Uqubah (Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi)

Tidak ada yang salah memang dengan guru-gurunya yang dulu ataupun yang sekarang, mungkin proses adaptasi yang perlu dilakukan oleh si anak agar terbiasa menghadapi situasi yang baru, hanya barangkali pendekatan dengan cara persuasif berupa nasehat dan contoh yang baik akan lebih bisa diterima oleh si anak daripada harus dengan membentak, karena menurut hemat saya masa anak-anak adalah titik dasar pembentukan karakter dan kepribadian, dan orang tua ataupun pendidik merupakan panutan dari seluruh perilaku dan karakter yang akan direkam dan dicontoh oleh anak atau anak didiknya (baca juga disini).

Tapi entahlah setiap orang punya cara dan persepsi sendiri-sendiri dalam melakukan pendekatan terhadap anak-anak ataupun anak didik, Pembacapun insya Allah juga punya cara sendiri cara mengekspresikan terhadap anak-anak.  
~silahkan di share di kolom komentar ~

Jumat, 27 Januari 2012

Melatih Anak Sejak Dini

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ketahuilah bahwa anak adalah amanat bagi orang tuanya, hatinya bak mutiara yang masih murni, siap untuk dibentuk macam apapun. Jika dibiasakan pada kebaikan Insya Allah dia akan tumbuh pada kebaikan itu. Orang tua dan pendidik sama-sama dapat pahala. Jika anak dibiasakan pada keburukan, maka dia akan tumbuh pada keburukan pula. Orang tua dan walinya mendapat dosa karenanya, maka wali harus menjaga, mendidik dan mengarahkan, membimbing dan mengajari anak dengan akhlak-akhlak yang baik, melindungi dari pengaruh-pengaruh yang buruk, tidak membiasakan hidup dengan kemewahan, tidak membuatnya suka pada kesenangan, agar kelak besar nanti hidupnya tidak habis hanya untuk mencari kesenangan itu

devon ngajinya yang rajin ya nak...
Sejak dini anak harus mendapat pengawasan, dia tidak boleh disusui dan diasuh kecuali oleh wanita yang shalihah, taat beragama serta memakan makanan yang halal. Sebab air susu yang berasal dari makanan yang haram tidak akan mendatangkan barakah, jika anak sudah memasuki masa puber sifat yang lebih menonjol adalah rasa malu, maka itu merupakan tanda yang menggembirakan, karena menunjukkan kedewasaan akalnya setelah remaja nanti, karena dia harus dilatih untuk memiliki rasa malu.

Adapun kebiasaan dari sifat-sifat yang mudah menjurus kepada keburukan adalah masalah makan, karena itu dia harus diajari dengan adab-adab makan, dibiasakan makan yang sederhana asal mencukupi kebutuhan gizi, agar tidak terbiasa dengan lauk pauk yang berlebihan, yang pada akhirnya menjadi keharusan baginya, dia harus ditegur jika makan terlalu banyak yang menyerupai nafsu makannya binatang, dia harus dibiasakan dengan pakaian warna putih yang tanpa corak bermacam-macam dengan segala hiasannya, anak laki-laki harus diingatkan tentang keadaan wanita dan orang-orang yang menyerupai wanita, mengingatkan agar jangan banyak bergaul dengan anak-anak lain yang terbiasa hidup mewah, sebagai gantinya diberinya kesibukan dengan membaca dan belajar Al Qur’an, hadist dan ilmu-ilmu agama, agar tertanam dalam hatinya kecintaannya pada orang-orang yang shalih dan tidak larut dalam syair-syair yang bernadakan cinta serta kasih sayang yang berlebihan.

Selagi anak-anak menampakkan akhlak-akhlak yang baik dan perbuatan yang terpuji, maka harus dihormati dan tidak ada salahnya jika diberi hadiah agar dia senang, sesekali boleh memujinya di hadapan orang lain, tapi sebaliknya bila dia berbuat salah, maka apa yang diperbuatnya tidak perlu disampaikan pada orang lain, jika melakukan perbuatan yang tidak terpuji dia harus dinasehati dan sesekali boleh ditakut-takuti tentang dampak kesalahannya tanpa harus diketahui oleh orang lain, tetapi tidak boleh terlalu sering mencelanya, karena akan membuat dirinya terbiasa mendengar kata-kata cacian. dan dampak terburuknya membuat si anak jadi minder

Peran Ibu dan ayah haruslah sama dan seimbang, jangan dibiasakan anak tidur siang, karena kebiasaan tidur siang akan menimbulkan rasa malas, tetapi mengharuskan segera tidur malam, dengan cara tidur yang baik, agar angota badannya terasa nyaman. Anak juga harus dibiasakan sederhana dalam masalah tempat tidur, makanan dan pakaian, dibiasakan banyak bergerak, berjalan dan olah raga agar tidak membuat badannya jadi malas dan lemah, anak juga harus dilarang membanggakan sesuatu yang dimiliki orang tuanya kepada teman-temannya, dibiasakan tawadhu’ dan menghormati orang lain. 

Anak dilarang mengambil sesuatu apapun dari anak lain, dia harus diberitahukan bahwa mengambil barang orang lain adalah perbuatan yang hina dan dosa, anak juga dibiasakan tidak meludah dekat tempat duduknya, tidak mengeluarkan ingus dari hidungnya, tidak menguap dihadapan orang lain, tidak menumpangkan satu kaki diatas kaki yang lain dan tidak boleh terlalu banyak berbicara, harus mendengarkan perkataan lawan bicaranya, terlebih kepada orang yang lebih tua darinya, Anak dilarang ikut nimbrung dalam pembicaraan dan mencuri perkataan orang lain.

Anak diberi mainan yang baik sepulang sekolah, agar bisa istirahat dari kekelahan sehabis belajar disekolah sebuah pepatah mengatakan dalam hati yang mengaso dan tenang membangkitkan dzikir. Anak dibiasakan taat kepada orang tua dan gurunya. Jika anak sudah berumur tujuh tahun maka harus disuruh mengerjakan shalat dan tidak ada kelonggaran dalam mengerjakan shalat agar dia terbiasa, anak harus ditakut-takuti tentang dusta khianat. Jika sudah menginjak usia remaja maka semua masalah ini harus dijelaskan dan dijabarkan.

Ketahuilah, makanan itu sama dengan obat, tujuan makanan adalah untuk menguatkan badan, meningkatkan ketaatan kepada Allah. Tidak ada yang abadi didunia, kematian pasti akan memutuskan kenikmatan yang setiap saat siap menunggu, orang yang berakal adalah orang yang mencari bekal untuk akhiratnya, jika pertumbuhan baik maka hatinyapun baik sebagaimana batu mulia yang sudah dibentuk dengan baik

Sahl bin Abdullah berkata, “Saat itu aku masih berumur tiga tahun, suatu malam saya terbangun dari tidur dan menunggui shalat pamanku, Muhammad bin Siwar.". Suatu hari paman berkata padaku, "Tidakkah engkau mengingat Allah yang telah menciptakan dirimu?”, “Bagaimana aku mengingat-Nya?” aku balik bertanya. “katakan di dalam hatimu tiga kali tanpa menggerakkan lidah, Allah besertaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku”.
Jika malam hari aku mengucapkan didalam hati seperti itu, hingga dapat mengenal-Nya, lalu paman berkata lagi kepadaku, “Ucapkan yang seperti itu setiap malam sebelas kali!”
 
Maka kulakukan sarannya, sehingga didalam hatinya ada sesuatu yang terasa nikmat. Setahun kemudian paman berkata kepadaku, “Jaga apa yang sudah kuajarkan kepadamu dan terus laksanakan hingga engkau masuk liang kuburmu”
Maka sarannya itu terus kulaksanakan hingga aku benar-benar merasakan kenikmatan dalam batinku. Kemudian paman berkata kepadaku “Wahai Sahl, siapa yang Allah besertanya, melihat dan menyaksikan diri-Nya, maka mana mungkin dia akan mendurhakai-Nya? Jauhilah kedurhakaan. ”Setelah itu aku melanjutkan kesekolah untuk menghapalkan Al Qur’an, yang saat itu umurku baru enam atau tujuh tahun." Setelah itu aku banyak berpuasa, makan hanya dengan roti dan setiap malam mendirikan shalat
.
Demikianlah kira-kira sedikit postingan tentang melatih buah hati sejak dini, semoga buah hati kita kelak menjadi manusia yang shalih dan shalihah serta menjadi generasi Robbani, Amin

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh




 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes