Monday, May 27, 2013

Hakikat Keadilan

Setiap manusia tentu pernah merasa resah, gelisah dan marah akibat keadilan tidak berpihak pada dirinya. Sebagai dampak atas keresahan dan kemarahannya bisa dengan berbagai macam cara mewujudkannya, ada yang berunjuk rasa, ada yang menghujat ada yang memaki dan perbuatan yang lebih anarkis lainnya. Seperti banyak fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang, dimana-mana terjadi aksi demo, saling menghujat, saling memaki bahkan tidak segan-segan membuka aib sesama saudara muslim sendiri yang sebenarnya muaranya untuk menuntut keadilan dengan seadil-adilnya.

Manusia memang berhak untuk mendapatkan keadilan, tapi satu hal yang harus digaris bawahi adalah jangan pernah berharap akan terwujudnya keadilan yang hakiki di dunia, karena secara sunatullah di dunia ini tidak akan bisa mewujudkan keadilan yang memuaskan semua pihak. Sering kita melihat sebuah pemandangan yang jauh dengan nilai-nilai keadilan. Ada koruptor yang mengeruk milyaran rupiah bisa melenggang sambil senyum-senyum, kalaupun dipenjara akan mendapat fasilitas yang serba mewah. Sangat berbeda cara memperlakukan terhadap sang pencuri ayam. Diperlakukan bak pesakitan bahkan tidak jarang si pencuri ayam hukumannya lebih berat dibanding sang koruptor dan para mafia yang jelas-jelas dampak kerugian yang dibuat jauh lebih besar. 


Disini bukan berarti mentolerir serta pembenaran perbuatan mencuri dalam bentuk apapun, tapi secara nalar sangat tidak seimbang keputusan yang dibuat para juru pengadil. Walau mereka sudah gembar-gembor berusaha bersikap adil dan netral, tetapi tetap saja ada celah untuk berbuat kecurangan. Selain faktor human error, faktor sumber hukum yang dijadikan rujukan hanyalah undang-undang hukum buatan manusia. Dalam sejarahnya tidak ada satupun undang-undang buatan manusia yang bisa mengakomodasi semua kepentingan, selalu ada pihak yang diuntungkannya dan dirugikan keberpihakanpun selalu kepada orang ataupun lembaga yang membuat undang-undang itu sendiri.

Mengingat di negara ini merujuk pada undang-undang  buatan para penguasa maka tidak aneh jika keberpihakannya juga kepada para penguasa. Dari dua hal itulah kita harus lebih arif dan bijak menyikapi fenomena kecurangan dan ketidak adilan. Seperti yang sudah kutulis diatas "Jangan pernah berharap akan terwujudnya keadilan yang hakiki di dunia" Sangat berbeda dibandingkan dengan sumber hukum ciptaan Allah sang Maha Kaya dan Maha Adil. Dia yang Maha kaya-raya tidak berkehendak apapun dari yang selain Zat-Nya sendiri, tetapi yang selain-Nya itu amat mengharapkan pada-Nya. Dia yang maha adil tidak mungkin berlaku curang karena Allah tidak membutuhkan keberpihakan dari siapapun tetapi yang selain-Nya amat mengharapkan keberpihakan dari-Nya.

Al Quran
Dari jabaran diatas, kita sebagai muslim yang mengimani akan hari pembalasan hendaknya jangan hanya berpikir secara nalar yang pragmatis tetapi nilai-nilai keimanan yang harus lebih diprioritaskan. Agar hati akan merasa tentram dan damai dalam segala keadaan serta tidak lebih mudah terjerat pada talbis iblis. Karena seorang muslim yang baik adalah yang menjadikan dunia sebagai sarana sedangkan tujuan akhir adalah alam akhirat. Dunia ibarat ladang tempat bercocok tanam sedang hasil panen yang sebenarnya akan dipetik di akhirat nanti. Hendaknya kita tida berpikir segala sesuatu harus diselesaikan secara tuntas didunia termasuk didalamnya menuntaskan rasa keadilan tersebut sehingga melupakan bahwa masih ada alam berikutnya yang lebih menjanjikan keadilan yang hakiki.

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Kita harus meyakini bahwa di alam akhirat nanti ada pengadilan yang seadil-adilnya. Allah adalah Al-Hakam Maha Mengadili yaitu bertindak sebagai hakim yang menetapkan dan memutuskan perkara dengan seadil-adilnya tidak ada satupun makhluknya dapat menolak keputusanNya, juga tidak satupun yang berkuasa merintangi kelangsungan hukum-Nya. Malaikat nantinya bertindak sebagai penuntut umum yang menuntut berat ringannya hukuman manusia berdasarkan amalannya karena merekalah yang mencatat amal baik dan amal buruk manusia sewaktu hidupnya. Para Nabi yang akan bertindak sebagai pembela, yaitu yang akan membela serta memohon pengampunan kepada Allah agar umatnya mendapat pengampunan. Sedangkan manusia dengan segala amalnya sebagai barang bukti yang akan bersaksi dalam persidangan nanti. Tidak ada sedikitpun amal yang sia-sia, semuanya akan diadili oleh Allah Yang Maha Adil secara teliti, sehingga tak seorang pun yang merasa teraniaya. 

Allah SWT berfirman, 
"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya." (Terjemahan Fushshilat: 46).

Jika hari ini kita didzalimi maka sesungguhnya itu adalah tabungan amal kebaikan yang akan meringankan hukuman disidang pengadilan akhirat nanti sebaliknya jika kita berbuat dzalim maka sesungguhnya kita semakin memberatkan hukuman di hari pembalasan nanti. Jika hari ini kita menangis karena didzalimi maka bersabarlah dan yakinlah dihari pembalasan nanti kita akan mampu tersenyum dalam syukur. Dan sebaliknya jika hari ini kita bisa tertawa karena mendzalimi orang maka ingatlah bahwa dihari pembalasan nanti kita dihari pembalasan nanti akan menangis dalam penyesalan, dimana tidak ada satupun sanak famili kerabat dan sahabat yang bisa menolongnya.

Bagi saudaraku yang belum mendapat keadilan didunia janganlah bersedih karena hakikat keadilan yang sebenarnya akan datang ketika Allah Ta'ala menggelar sidang pengadilan diakhirat nanti. Insya Allah.



45 comments

May 28, 2013 at 5:04 AM

sesungguhnya segala kejadian yang dialami seorang muslim di dunia ini adalah ujian baginya dan merupakan penghapus dosa bila mampu menghadapinya dengan tabah...salam :-)

May 28, 2013 at 5:59 AM

Baru tadi malam aku ngobrol soal keadilan sama Hilman. Biasalah anak2 bertanya soal perbedaan perlakuan yang dirasanya tidak adil. Padahal itu hanya karena dia membandingkan apa yg tidak dia dapat, sedangkan mas Luthfannya dapat. Perbedaan usia dan kebutuhan yang menyebabkannya.

Di dalam keluarga saja, sering terjadi tuntutan keadilan. Bagaimana orang tua menyiikapinya bisa menjadi modal akan persepsi keadilan bagi seseorang. Walau ini tidaklah mutlak. Banyak pengaruh di luar yang juga akan mempengaruhinya.

Selama kita masih mengedepankan kebenaran pribadi dan kelompok, maka ketidakadilan akan mudah sekali kita rasakan. Namun bila memakai tolok ukur keadilan yang datang dari Allah, maka hati kita akan tenang. Sebab semua akan menghadapi pengadilan yang sebenar-benarnya.

Jangan sampai berpikir, bahwa segala kesedihan dan masalah yang kita hadapi adalah karena Allah tidak adil. Perlu diingat bahwa ujian kesabaran tentunya akan selalu menghadapkan kita pada keadaan atau orang2 yang menguji tingkat kesabaran kita.

May 28, 2013 at 8:58 AM

keadilan yang coba ditegakkan oleh hukum manusia hakikatnya semu belaka ya kang...hukum manusia itu pedang bermata dua, tajam disatu sisi, tumpul dilain sisi..belum lagi perbedaan makna keadilan bagi orang per orang... sebelum berlaku adil kepada orang lain, berlaku adil dulu terhadap diri sendiri

May 28, 2013 at 9:37 AM

@Niken Kusumowardhani waktu kecil dulu aku juga sering gitu bund. kayaknya ortu gak adil, padahal sekarang kalau dipikir, ya gak gitu juga kali. yang paling aku ingat, dulu adikku boleh gak puasa, atau puasa setengah hari, sedangkan aku harus puasa full. tapi sekarang akhirnya aku ngerti kenapa begitu... :)

May 28, 2013 at 9:39 AM

adil kadang gitu kang. kalau dipikir dari pikiran kita, kadang keadilan itu rasanya timpang, tapi aku yakin, yang namanya adil itu gak selalu harus mendapat yang sama, adil bisa berarti mendapat apa yang dibutuhkan, apa yang setimpal dengan benar...

May 28, 2013 at 11:35 AM

Keadilan di dunia memang tidak terlihat, Allah sematalah yang memberikan keadilan. Aku punya cerita tentang adil ketika jaman lulus kuliah. Aku lulus memuaskan dan diberikan kemudahan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, namun pada saat yang sama adikku mengalami kecelakaan dan menguras dana besar untuk merawat sang korban. Akhirnya aku memilih legowo untuk tidak meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, karena dana sudah terkuras habis. Di sini, aku merasakan keadilan Allah yang luar biasa.

Salam
Astin

May 28, 2013 at 12:52 PM

sering orang berikhtiar menuntut keadilan, tapi tanpa sadar tindakannya justru melanggar nilai keadilan itu sendiri. Dan benar bahwa, keadilan di dunia ini tidaklah hakiki, di hadapan Yang Mahaadil lah keadilan yang sebenarnya.

May 28, 2013 at 1:19 PM

@muhammad ridwan Seru deh mas Ridwan kalau anak2 sudah protes tentang keadilah. Kadang ada rasa kuatir, salah menempatkan diri. Memang menjelaskannya harus bijak.

May 28, 2013 at 7:51 PM

@BlogS of HariyantoSangat setuju mas Hari... semua pasti ada catatannya

May 28, 2013 at 7:55 PM

@Niken KusumowardhaniTerimakasih mbak Niken, memang kadang putra-putri kita menuntut perlakuan yang sama antar satu dgn lainnya, padahal sesungguhnya namanya keadilan itu kan tidak harus fifty-fifty. namanya anak2..

terimakasih, komennya juga menambahi kelengkapan artikel ini.

May 28, 2013 at 7:58 PM

@muhamad ratodiwah akhirnya kang Todi muncul lagi, suatu kehormatan dikunjungi.
Berlaku adil itu memang sulit ya kang, jangankan untuk orang lain, untuk diri sendiri aja susahnya minta ampun.

Salam

May 28, 2013 at 8:00 PM

@muhammad ridwanKomentar yang cerdas kang Rd, tidak selamanya keadilan itu pasti sama rata, banyak faktor yg jadi pertimbangannya

May 28, 2013 at 8:01 PM

@astin astantiSubhanallah..., luar biasa kelegowoan mbak Astin, insya Allah dibalik itu Allah telah menyiapkan rencana yag lebih bagus.

Salam

May 28, 2013 at 8:03 PM

@Abi SabilaSetuju mas Abi, menuntut keadilan boleh asal jangan melanggar nilai2 keadilan ya mas

May 28, 2013 at 8:04 PM

@muhammad ridwanSekarang udah gede dan udah pinter ya kang

May 28, 2013 at 8:05 PM

@Niken KusumowardhaniTapi saya percaya mbak Niken bisa berlaku bijak..

May 29, 2013 at 9:18 PM

adik saya sering banget ngmg ibu dan bapak nggak adil, susah mbeda2in aku dan mbak pipit (noorma)..

pie iku ya?

May 30, 2013 at 10:58 AM

Adil tak harus sama. Tapi seharusnya adil juga menempatkan dan menghukumi setiap masalah sesuai dengan kadarnya. Tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Tapi selagi hukum dunia adalah buatan manusia, maka yaaa ... kadang keadilan menjadi komoditi perdagangan. Miris ....

May 30, 2013 at 1:26 PM

makasih buat tulisannya.,.. :)

June 2, 2013 at 6:55 PM

@Noorma Fitriana M. ZainItu sering terjadi rasa tidak terima dari adik terhadap perhatian yng diberikan kpd sang kakak, padahal kan adil tidak harus fifty-fifty kan, padahal kalau ada pekerjaan berat biasanya sang kakak yg disuruh... jadi itu sikap adil dari ortu

June 2, 2013 at 6:57 PM

@Titie SuryaSetuju sekali mbak, komoditi perdagangan hukum malah kadang lebih laris dari pisang goreng..

June 2, 2013 at 6:57 PM

@pnetmakasih juga kunjungannya

June 3, 2013 at 9:30 PM

jadi tambah semangat setelah membaca tulisan ini. selama ini saya bisanya ngeluh aja atas ketidakadilan yang menimpa tanpa menyadari sesungguhnya itu juga ujian dari Allah sejauh mana kesabaran saya

June 4, 2013 at 11:07 AM

Kadang keadilan bersifat relatif ya Mas. Yang menurut kita adil belum tentu bagi orang lain. Tapi kita harus percaya bahwa keadilan Tuhan yang tidak bisa ditawar :)

June 4, 2013 at 11:17 AM

Setiap saya singgah di sini pasti saya pulang dengan membawa pelajaran penting.

Salah satunya ya ini .
keadilan.

sudah kah kita bersikap adil?

June 4, 2013 at 1:10 PM

berbuat adil itu mmang sngta susah

June 4, 2013 at 5:47 PM

Aku pengen banget belajar adil dari mas Insan. Kadang sulit ya adil itu...

June 5, 2013 at 8:22 AM

Adil itu bukan setimbang. Tapi menempatkan sesuatu pada tempatnya (sesuai haknya) ^^ iya nggak kak?

June 5, 2013 at 8:52 AM

@Nurmayanti ZainSetujuh...!
sprti keadilan dlm berpolygami..., misalx pembagian uang jajan, uang jajan istri pertama gk hrs sama dgn uang jajan istri kedua.., kenapa?? usut pny usut trnyata dr istri prtama dikaruniai anak 1 sedangkan istri kedua anak 3.., itulah keadilan yg bijak... *smile

June 5, 2013 at 8:16 PM

@LizaSubhanallah, Allah punya cara sendiri menguji hambanya

June 5, 2013 at 8:18 PM

@eviKeadilan di Dunia sangat relatif karena keberpihakan selalu ada.

June 5, 2013 at 8:18 PM

@imam sujaswantoManusia sepertinya sulit berlaku adil mas

June 5, 2013 at 8:18 PM

@distributor obat herbalSetuju

June 5, 2013 at 8:19 PM

@QefyAdil memang susah, jangankan kepada orang lain, kepada diri sendiri aja susah

June 5, 2013 at 8:20 PM

@Nurmayanti ZainSangat setuju Maya

June 5, 2013 at 8:21 PM

@Rohis FacebookHmmm... :)

June 7, 2013 at 3:03 AM

Keadilan yang dibuat manusia tuh relative beda dengan keadilan yang dibuat Allah. Baku dan tak perlu direvisi

Salam

Ika Koentjoro

June 7, 2013 at 2:40 PM

keadilan.
belum selesai dibaca kpalaku udah kumat ... hehhe..
bicara adil hidup ini harusnya adil, dan kita juga mengadili dengan hukum Allah seadil-adilnya. Tapinya nyatanya...
keadilan diminta disingkarkan bagi mereka yng tamak.
Adil dari sudut mana yah para koruptor yg udah korupsi trs tnggal dibui yg enak bgd. ada kipas angin, AC dll. hemm...
harusnya kita ini yg jadi petugasnya pemerintah gantian dibawah weleh hehe

June 8, 2013 at 10:12 PM

Bicara keadilan sama dengan kita berbicara dengan menggunakan ilmu perimbangan. Dimana dalam hidup selalu ada dan berlaku akan sebuah penerapan ilmu perimbangan, dan konteksnya akan lebih luas bila hal ini dapat menela-ah dengan dasar setiap akar permasalhan darri sebab dan akibat dari dampak penerapan ilmu perimbangan itu sendiri kepada diri kita. Semoga saja kita mau melihat dan berani jujur kepada diri sendiri dengan berani mengkoreksi diri dalam menjalankan proses kehidupan ini. Karena Tuhan tidak akan pernah ingkar akan janji-janji Nya.

Salam wisata

June 18, 2013 at 7:41 AM

Dalam bahasa arab adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya, lawan katanya dholim (meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya).
Kebanyakan orang berpikiran adil itu harus sama, padahal adil itu tidak selalu sama.. maka dari itu muncul ketidakpuasan atau iri di masyarakat karena mengganggap adil itu harus sama.. hanya dengan hukum Islam keadilan dapat diberlakukan pada hukuman koruptor, pencuri dsb..

June 18, 2013 at 7:29 PM

@Annur eL KarimahAduh Annur semangat banget dik...

June 18, 2013 at 7:31 PM

@Ejawantah WisataKomentar yang cerdas dan mencerdaskan kang..
terimakasih, menambah wawasan untukku

June 18, 2013 at 7:31 PM

@ikakoentjoroSangat-sangat setuju.

June 18, 2013 at 7:33 PM

@Wahyu AlfiansyahSubhanallah Alhamdulillah... selalu menambah wawasan, sangat setuju, adil tidak harus fifty-fifty ya mas

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes