Saturday, August 4, 2012

Mardhotillah


Oleh : IdAh CeRis


Cerminan hidup bahagia atau kebahagiaan dalam hidup biasanya terletak pada harta yang dimiliki oleh seseorang. Jika harta yang dimiliki banyak maka orang tersebut bisa dikatakan hidupnya bahagia dan jika harta yang dimiliki sedikit maka orang tersebut tergolong orang yang kurang bahagia. Ada pepatah yang mengatakan “rumput di halaman rumah tetangga lebih hijau dari pada di halaman sendiri”. Pepatah itu benar adanya, jika kita hanya memandang sekejap mata saja, tanpa kita ingin mengetahui dan memahami bagaimana rumput tetangga bisa hijau seperti itu. Sebagai manusia yang mempunyai akal, seharusnya kita berfikir. Rumput tetangga bisa lebih hijau dari pada rumput di halaman sendiri  itu pasti ada beberapa langkah-langkah atau usaha untuk membuat rumput tersebut tetap terlihat hijau. Kita tidak bisa tahu secara khusus, usaha apa yang di lakukan oleh tetangga untuk tetap menjaga kesuburan rumputnya.

Manusia di dalam hidupnya di dunia ini selalu mecari kebahagiaan dan mencari kepuasan bagi berbagai keperluan hidupnya, tapi ada yang hanya mengharapkan kebahagiaan hidup di dunia saja dan ada juga yang mengharapkan kebahagian hidup di dunia dan di akhirat. Termasuk kelompok yang pertama ialah orang-orang yang menganut ide-ide keduniaan semata-mata dan termasuk kepada kolompok ke dua ialah manusia yang menganut ajaran islam. Mudah-mudahan kita semua tergolong kelompok yang ke dua, sebagai insan yang beriman dan bertaqwa. Aamiin.

gambar dari sini
 Di dalam Islam pencapaian kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat tidak dipisahkan satu sama lain, karena segala usaha di dunia harus di dasarkan kepada mardhotillah. Mardhotillah bisa diartikan segala pertimbangan tentang tujuan hidup seorang muslim yang sesuai dengan jalan Allah. Apakah yang kita lakukan dan apa yang kita gapai itu sesuatu yang disukai atau diridhai Allah SWT atau tidak. Untuk mencapai mardhotillah memang membutuhkan suatu tekad dan niat yang tersetruktur.
Tolak ukur pertama untuk mencapai mardhotillah adalah menjalankan aturan yang ditetapkan oleh agama. Sesuatu yang diharamkan atau dilarang oleh Allah pasti tidak diridhai dan bila kita melakukannya kita akan mendapat dosa. Sebaliknya, jika sesuatu yang halal atau diperintahkan agama pasti diridhai Allah dan jika kita mengerjakannya kita akan mendapat pahala. Selain tolak ukur diatas, yang menjadi tolak ukur selanjutnya adalah nilai-nilai akhlak yang akan menjadi kesempurnaan, misalnya memberi kepada orang yang meminta, saling membantu. Usaha-usaha di dunia harus terarah menuju kebahagiaan di akhirat yang kekal dan abadi.
Setelah mengetahui tolak ukur untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dengan mardhotillah, manusia perlu berusaha dan bekerja untuk memenuhi kubutuhan hidupnya. Didalam memenuhi kebutuhan manusia di dunia, Allah telah menyediakan bumi, langit dan segala yang ada di dalamnya untuk manusia seluruhnya. Firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Jatsiyah Ayat 13:

 وَ سَخَّرَ لَكُمْ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ جَميعاً مِنْهُ إِنَّ في‏ ذلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.
Manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai kebahagiaan untuk mencapai tingkat hidup yang makmur dan sejahtera, meskipun kemudian karena berbagai macam faktor manusia menjadi berbeda di dalam kenyataanya, ada yang kaya dan ada yang miskin. Oleh karena itu, yang kaya jangan lupa daratan, supaya harta jangan berputar di antara orang-orang kaya saja. Atas kenyataan ini Al-Qur’an memperingatkan kepada makhluknya dalam Surah Al-Hasyr Ayat 7:

ما أَفاءَ اللهُ عَلى‏ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرى‏ فَلِلَّهِ وَ لِلرَّسُولِ وَ لِذِي الْقُرْبى‏ وَ الْيَتامى‏ وَ الْمَساكينِ وَ ابْنِ السَّبيلِ كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِياءِ مِنْكُمْ وَما آتاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَما نَهاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَديدُ الْعِقابِ

Artinya: Setiap harta rampasan (fay’) yang diberikan Allah kepada rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota itu adalah untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berada perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu saja. Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Kita sebagai manusia harus sadar bahwa harta kekayaan yang dimilikinya adalah rejeki dari Allah. Rejeki yang halal akan membawa berkah dan kebahagiaan dalam hidup. Semangat untuk mencari rejeki dengan ridha Allah sudah barang tentu hanya dimiliki orang-orang yang beriman, sedangkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal agama, maka boleh jadi pandangan hidupnya dan prilakunya sesat, tetapi mungkin juga pandangan hidupnya mendekati pandangan hidup orang yang minus beragama, karena toh setiap manusia memiliki akal yang bisa berfikir secara logis dan hati yang di dalamnya ada nilai kebaikan.




Kontributor:



 

12 comments

August 4, 2012 at 9:53 PM

Mardhotillah...berpikir, berusaha dan memutuskan dengan pertimbangan semata-mata mencapai Ridhlo Allah SWT. Kadang [eh sering ding ], karena target kita 'khilaf' menempatkan mardhotillah dalam sikap, laku, lampah dan pikir..

Semoga hidayahNYA menyertai kita selalu:)

August 4, 2012 at 11:53 PM

Belum terbiasa menggunakan kata mardhotillah, jadi lebih paham apa maknanya.
Pembahasan soal rumput itu mengingatkan pada sifat qana'ah yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang Islam.
Nice posting Idah... Daleeemm....

August 5, 2012 at 12:47 AM

aq kok jadi gmn gitu ya?
dari tadi mbaca blog kok isinya ginian trus.
jadi inget dosa2 kemarin..

August 5, 2012 at 1:25 AM

Sebelum saya membuka info tentang artikel ini di Warung Blogger, saya bertanya tanya, mardhotillah itu apa, maklum sebagai seorang muslim saya merasa kurang mengerti terhadap ilmu agama secara spesifik

Setelah saya membaca artikel ini, akhirnya saya juga bisa menerka apa maksud dari kata kata tersebut

Semoga artikel ini bisa bermanfaat...

August 5, 2012 at 2:07 PM

Alhamdulillaah. .
Om Insan berkenan dengan tulisan Idah. :)

Mardhotilllah saya dapat dari Bapak saya, waktu selesai buka puasa tiba2 televisi dimatikan dan Bapak bercerita tentang rejeki. :)

August 5, 2012 at 6:55 PM

@Ririe Khayanwah komentarnya seperti sangat mengerti tentang Mardhotillah

August 5, 2012 at 6:56 PM

@nikenSetuju Bunda, sangat dalem, kajian Idah Ceris kali ini

August 5, 2012 at 6:57 PM

@rivaiOrang yang baik akan selalu mengingat2 dosa2nya

August 5, 2012 at 6:58 PM

@BollAlhamdulillah bila bisa mendapat jawabannya

August 5, 2012 at 6:58 PM

@idahcerisIni Tulisan bagus banget Idah dan sangat bermanfaat, khususnya utk saya sendiri

August 6, 2012 at 6:56 AM

saya baru dengar lo istilah Mardhotillah ini
terima kasih untuk pencerahannya

August 6, 2012 at 8:21 AM

Sebagai seorang muslim selayaknya mengetahui apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Allah Swt dan kemudian mematuhinya.

Muslim boleh kaya asal dengan kekayaannya itu dia diharapkan bisa meningkatkan kualitas ibadahnya. Namun untuk memperoleh kekayaannya itu harus melalui jalan yang dihalalkan.

Terima kasih pencerahannya.

Salam hangat dari Surabaya

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes