Sunday, August 5, 2012

Malam Seribu Bulan


Oleh: Andro Bhaskara


Bismillah.. 

Alhamdulillah Ramadhan telah memasuki malam yang ke 15 pada saat saya menulis tulisan ini. Yang berarti 15 hari ke depan Insya Allah kita harus bersiap-siap di tinggalkan oleh Bulan yang sangat istimewa ini. Biasanya pada menjelang akhir Ramadhan kita seakan lupa bahwa Ramadhan bukan untuk menyambut pesta Ied. Bukan untuk bersuka cita karena hari kemenangan itu tidak lama lagi akan datang. Akan tetapi harus dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan lagi ibadah agar kita bisa memperoleh predikat sebagai orang-orang yang bertaqwa yang dijanjikan syurga pada hari akhir kelak.

Hari kemenangan ! ya,  sebuah kemenangan dalam melawan hawa nafsu. Tentunya kemenangan ini bagi siapa yang sukses memanfaatkan ramadhan dalam memerangi hawa nafsunya. Bagi siapa saja yang mampu meraup pahala yang besar  yang telah dijanjikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ada sebuah cerita yang pernah saya dengar dari beberapa ceramah yang saya ikuti. Sebuah cerita dari ummat sebelum kita. Cerita tentang seorang ibu yang meratap di atas makam anaknya yang telah meninggal dunia. 

Pada suatu ketika seorang pendeta (alim Ulama) berjalan di sebuah perkuburan. Beliau mendapati seorang ibu yang menangis tersedu-sedu diatas makam anaknya. Sampai-sampai rasa iba pun menghinggapi perasaan sang pendeta. Dengan penasaran, sang pendeta mendatangi ibu tersebut hendak menanyakan apa yang terjadi sehingga ibu tersebut menangis dengan begitu sedihnya. 
 
“Assalamu Alaikum” 

“Wa’alaikum salam warahmatullah”  jawab ibu tersebut dengan terbata-bata.
 “Siapakah orang yang berada dalam makam itu, yang membuatmu meratap di atasnya..?”

“Ini adalah makam anakku yang baru saja meninggal”  jawab ibu itu lagi tanpa menoleh sedikitpun ke arah pendeta yang berdiri di belakangnya.

“Bukankah semua yang hidup akan menghadap Tuhannya? dan kitapun akan menyusulnya. Hanya waktulah yang membedakan antara kita dan dia. Lalu apa yang kamu sedihkan..?”  Sang pendeta mencoba menenangkan.

Ibu tersebut terdiam sejenak sambil menghapus air matanya yang masih mengalir di pipinya. Kemudian berdiri dan berbalik menghadap sang pendeta.

“Saya tahu…. saya tau ….,  Seandainya saya mendapatkan kepastian bahwa anakku akan menghadap Tuhannya dengan bekal yang cukup, maka saat ini saya akan tersenyum gembira. Karena anakku akan segera bertemu dengan Tuhan yang selama ini dirindukannya”. 

“Dosa apakah yang telah anakmu lakukan sehingga kamu berpikir demikian..? bukankah dia adalah seorang yang merindukan Tuhannya..? dan orang yang merindukan sesuatu tentunya akan mempersiapkan segala sesuatu yang baik-baik untuk dipersembahkan kepada apa yang dirindukannya”  Tanya pendeta lagi penasaran.

“Anakku meninggal dalam usia yang masih sangat muda, tentunya ibadah yang dilakukannya jauh lebih sedikit dibanding orang lain yang memiliki kesempatan lebih lama”.  jawab sang ibu mencoba mejelaskan.

“Berapa Usia anakmu..?”

“1000 tahun”

“Tahukah engkau, bahwa akan ada umat setelah kita yang umurnya lebih pendek. Usia rata-rata mereka hanya berkisar 60-70 Tahun. Jika engkau adalah bagian dari mereka, kira-kira apa yang engkau akan lakukan..?”

“Saya akan mengurung diri dalam Goa seumur hidupku dan tidak akan melakukan apa-apa selain beribadah kepada Allah”. ucap Ibu itu mengakhiri perbincangan.



Saya tidak mengetahui kebenaran dari cerita di atas, namun cukuplah cerita itu menjadi bahan renungan bagi kita. Terus Apa yang akan kita lakukan..? apakah kita akan mengurung diri dalam goa seperti yang ibu itu hendak lakukan..?  tidak.. tidak.. tidak.. bahkan Rasulullah melarang kita beribadah dengan melampaui batas. Apakah ini berarti kita merupakan umat yang akan berada dalam barisan terbelakang dalam perjumpaan dengan Allah..?, mengingat usia yang diberikan pada kita jauh lebih sedikit dibanding umat-umat terdahulu.

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang Maha pemurah lagi Maha Adil. Dibalik keterbatasan kesempatan yang diberikan kepada kita, ternyata Allah menganugerahkan suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Suatu malam yang akan menjadi pembeda antara kita dengan umat-umat sebelumnya. Suatu malam yang hanya akan terjadi pada bulan Ramadhan. Lalu kapankah malam itu akan datang..?
 
Banyak keterangan tentang Lailatul Qadar ini, ada yang mengatakan pada malam-malam ganjil Ramadhan, ada yang bilang pada sepuluh terahkir ramadhan, dan ada pula yang mengatakan bahwa carilah malam ini pada seluruh malam pada bulan Ramadhan. Pendapat terakhir sepertinya merupakan pendapat yang paling bisa dipegang kebenarannya.

Yuk.. Mari lebih mengencangkan lagi ikat pinggang. Melakukan segala sesuatu yang bisa bernilai ibadah. Jangan sia-siakan sisa Ramadhan dan sisa umur kita. Karena hari ini tidak akan terulang lagi di hari-hari berikutnya. 

Wassalam…



Kontributor

Author:  Andro Bhaskara

9 comments

August 5, 2012 at 8:50 PM

Kejar kehidupan akhiratmu, tapi jangan lupakan kehidupan duniamu. Jadikan kehidupan di dunia sebagai bekal utk menuju ke kehidupan akhirat.
*usaha yuukkk... Saling mengingatkan dan menasehati akan kebenaran

August 5, 2012 at 9:59 PM

Malam seribu bulan... semoga kita bisa meraihnya

August 6, 2012 at 7:36 AM

kang Andro, tulisanmu ini indah banget. menyadarkanku dengan cara sederhana yang langsung mengena di hati...

August 6, 2012 at 10:48 AM

Suka kisahnya! Penuh renungan! Owh... Andai aku hidup 1000 tahun lagi!

August 6, 2012 at 1:18 PM

Semoga tiada berlalu hari-hari Ramadhan tanpa kita isi dengan ibadah yang lebih berkualitas sehingga kita bisa meraih kemuliaan malam lailatul qadar yang kebaikannya melebihi seribu bulan. Amin,insya Allah.

August 6, 2012 at 10:52 PM

semoga bisa mencapai malam itu

August 7, 2012 at 12:26 AM

Meski kita tahu ancer2 ttg malam lailatul qodar, tapi kadang masih ketiduran neh Mas...kalau sdh kayak getu..deuuuhhh nyesellll buanget.

Semoga Ramadhan ini dan selanjutnya gak ketiduran lagi dan semoga bsia mendapatan Lailatul qodarnya..

August 7, 2012 at 2:58 AM

Alhamdulillah saya sudah menyelesaikan janjiku... Walau jelek yang penting partisipasi yak..!!! wkwkwkwkwkwk

August 7, 2012 at 3:04 AM

@MUHAMMAD RIDWAN koment seperti ini sudah sering saya baca dari dirimu kang Ridwan, saya harus terus waspada dan belajar. jangan sampai membuatku puas dan tidak semangat lagi untuk belajar darimu.. :)

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes