Monday, July 23, 2012

Murah Hati dan Analogi Ikhlas yang Perlu Direvisi


Oleh: Aisha S. Maharani  
& Walank Ergea


gambar dari sini
Dalam konteks imbalan untuk setiap amal saleh, Surah Al-Baqarah/2: 261 memberi iming-iming yang jelas, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui.” 

Kita boleh berharap akan dilimpahi anugerah berupa balasan yang setimpal sebagaimana janji ayat tersebut. Atau bahkan menanti imbalan yang lebih. Namun sebagai hamba tugas kita adalah  melecut diri untuk terus berbuat baik dan senantiasa berbaik sangka terhadap Allah SWT. Rasanya tidak pantas bagi kita yang lemah dan berlumur dosa ini untuk selalu berhitung dan berharap akan mendapat balasan dalam rumus yang demikian persis. Soal imbalan dan dampak sedekah, kita serahkan saja sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian, kita tak akan menyesal jika ternyata kita tak segera memperoleh imbalan materi serupa, sebab Allah kadang menurunkan imbalan dalam bentuk yang lain: mungkin kesehatan, keberkahan ilmu, anak-anak yang cerdas dan saleh, kelancaran pekerjaan dan sebagainya.
Seperti magnet
Ibarat sebuah magnet, sedekah akan menarik rezeki, termasuk berupa kebahagiaan dari arah yang tidak disangka-sangka. Salah satu sahabat saya pernah bercerita bahwa ia memperoleh ‘pertolongan’ dari orang yang tidak pernah dikenalnya ketika ia tidak sanggup membayar ongkos kendaraan umum akibat dompetnya tertinggal di rumah. Peristiwa itu terjadi setelah ia memberi sepiring nasi goreng lezat buatannya kepada tetangga sebelah rumahnya! Mungkin terdengar sederhana. Tetapi, tak dapat dilukiskan kebahagiaan yang dialaminya. Contoh kecil yang efektif walaupun kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik insiden sederhana tersebut.

Motivator ulung Mario Teguh pernah mengingatkan bahwa You get what you give yakni bahwa kita akan memperoleh balasan seperti apa yang kita berikan. Ini merupakan teori yang sulit untuk dibantah. Bila kita menebarkan kebaikan, maka kebaikan juga yang akan kita dapatkan. Bila kebaikan itu menjadi ion positif, maka ia akan mencari dan menarik sesama ion positif. Demikian pula sebaliknya. Saya pernah membuktikannya dengan sedekah senyum. Ternyata, orang akan tersenyum kepada saya setelah saya memberikan senyuman kepadanya. Padahal yang saya tahu, seorang ibu yang saya beri senyuman itu awalnya sedang senewen lantaran anaknya menangis terus-menerus. Ibarat kita meneriakkan sesuatu di pegunungan berbatu, niscaya kita akan mendengarkan gema yang sama sebagaimana kata-kata yang kita ucapkan. 

Bersedekah, tentunya dengan penuh keikhlasan, akan membuka pintu rezeki dari segala arah. Siapa yang membuka pintu itu? Tentu saja sang Penguasa jagad raya, Allah SWT. “Siapa yang mengasihi makhluk Allah di bumi, maka ia akan dikasihi oleh makhluk langit”, demikian bunyi salah satu hadis.
Bentuknya beragam
Dan perlu diingat bahwa banyak sekali cara untuk menunjukkan kasih sayang dan berbagi dengan orang lain. Jika tidak punya uang, kita bisa menyisihkan waktu dan tenaga—terutama untuk lembaga-lembaga sosial atau yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan dan kesejahteraan bersama. Atau bisa pula dengan menyumbangkan keterampilan yang kita miliki demi perbaikan hidup sesama, misalnya dengan mengajarkan cara menjahit, merangkai bunga serta keterampilan berkomunikasi. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengejawentahkan perintah bermurah hati kepada orang lain. Dan tak usahlah memikirkan tentang balasannya, biarkan ia menjadi urusan dan kebijakan Allah.
Surat Al Isra’ ayat 7 berikut akan mempertegas rumus perbuatan kita: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”
Analogi ikhlas yang keliru
Lalu apa lagi yang harus dikhawatirkan atau diragukan? Semua tindakan dan pemberian kita kepada orang lain—apa pun bentuknya—akan kembali kepada diri kita, entah dalam porsi sama atau malah lebih. Yang jelas, jika mau jujur, ada perasaan unik yang kita alami ketika mampu membantu orang lain. Dan sekali lagi, tentu saja kesejukan perasaan istimewa itu hanya mungkin kita reguk tatkala kita mampu melepas setiap amal kebaikan dengan hati yang ikhlas. Artinya, setelah amal atau bentuk kemurahan hati apa pun kita lakukan, kita merelakan diri untuk pikun akan kebaikan hati tersebut. Kita mendadak seolah menjadi seorang manula yang lupa telah berbuat apa, sehingga tak ada alasan munculnya dorongan atau potensi mengharap kembalian dalam bentuk apa pun.

Mungkin kita sudah akrab dengan analogi yang kerap kita dengar mengenai keikhlasan. Dalam berbagai kesempatan, sifat ikhlas sering dilustrasikan seperti orang yang selesai buang hajat atau buang air besar. Semua orang yang normal dan berpikiran masuk akal tentu akan merasa lega dan tak sedikit pun menyesali apa yang telah mereka buang itu. Menu apa saja yang sudah disantap saat makan sebelumnya tak akan diratapi kepergiannya. Makanan atau minuman selezat dan semahal apa pun yang telah menginap di dalam perut tidak mungkin akan dicegah keluar hanya karena merasa sayang atau masih ingat akan sensasi saat menikmatinya. Semuanya dilepas begitu saja, tanpa beban, tanpa penyesalan atau kekecewaan. Plong sudah. Dan biarlah apa yang keluar mengalir bersama air dan bersatu dengan tanah kembali.
Yang terlepas adalah ampas
Namun seorang teman jelas-jelas tidak setuju dengan teori ini. Ia membantah analogi buang air tersebut dengan mengatakan bahwa ilustrasi seperti itu kurang tepat dan bahkan tidak sesuai dengan semangat keikhlasan yang sesungguhnya. Dalihnya sederhana. Bagaimana mungkin orang  tidak merasa ikhlas jika yang ia lepaskan adalah sesuatu yang merupakan sampah tubuh? Bagaimana tidak rela dan rida sementara sesuatu yang dibuang bukanlah barang yang amat dicintai atau berharga? Kotoran manusia tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh sehingga tiada lagi faedahnya bagi kita. Maka rasanya tidak pas kalau kita menggunakan analogi buang air untuk menjelaskan keikhlasan. Berbeda halnya jika ternyata kotoran yang kita buang bernilai tinggi secara ekonomi atau berkualitas unggul untuk menyejahterakan orang. Meskipun ada teknologi yang memanfaatkan kotoran manusia sebagai sumber tenaga. Namun bukan itu intinya. Hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa keikhlasan menuntut adanya kerelaan untuk memberikan hal-hal baik yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain. Rasul sendiri mengajarkan kita agar memberikan sedekah atau barang yang juga kita sukai, bukan yang sudah kita benci.

Mendengar elaborasi pendapatnya, saya hanya mengangguk dan bertanya apakah dia punya perumpamaan lain yang bisa menggambarkan keikhlasan secara lebih masuk akal dan tepat. Rupanya ia sudah menyiapkan jawaban. Ia mengajukan sebuah teori baru bahwa keikhlasan harusnya bisa ditiru dari bentuk cinta dan kasih sayang orang tua kepada anak-anak mereka. Kecintaan orang tua yang mendalam akan diwujudkan dalam berbagai tindakan yang menyenangkan anak. Tentu saja kesenangan yang tidak menyesatkan.
Apa saja, tanpa rekayasa
Ketika anak butuh atau ingin baju baru, ayah-ibunya akan dengan senang hati (berjuang) membelikannya. Saat anak bosan atau tak bersemangat, orang tua berusaha keras untuk menghiburnya. Tatkala anak tergeragap karena mimpi buruk dan menangis, ayah datang memeluknya dengan erat sambil mengelus kepalanya. Apalagi saat anak masih balita, apa pun akan dilakukan asalkan anak dilimpahi kegembiraan dan kesejahteraan—bahkan lebih baik dari kehidupan mereka sendiri. Dan puncaknya ketika anak sakit, orang tua akan merawat dan mencarikan dokter terbaik demi kesembuhan anaknya. Jalan apa pun akan ditempuh asalkan anak dapat kembali tersenyum ceria. Orang tua bahkan rela melepas nyawa mereka jikalau memungkinkan kesembuhan sang anak.

Dari semua hal itu, bagian yang luar biasa adalah bahwa orang tua tidak pernah mengharapkan imbalan dari anak mereka. Mereka rela begadang saat bayi masih merah; mereka mau bekerja keras demi mencukupi kebutuhan dan pendidikan sang anak; mereka ikhlas menyisihkan uang—meski demi hal itu mereka harus mengurangi makan—asalkan bisa membeli buku sekolah atau buku cerita untuk anak mereka. Intinya, orang tua akan melakukan apa saja dan memberikan apa pun yang dapat menjamin kebahagiaan anak. Mereka rela berjuang dan berkorban demi mewujudkan kesejahteraan hidup anak-anak agar tidak bernasib sama atau malah terperosok dalam lembah kemiskinan seperti mereka. Mereka ingin agar anak-anak memiliki masa depan yang lebih baik. Dan untuk semua itu mereka melakukannya tanpa tendensi atau pretensi; semuanya berjalan apa adanya, tanpa rekayasa, tanpa ada maksud tersembunyi yang kelak menguntungkan orang tua. Adapun jika orang tua diuntungkan saat anaknya berprestasi atau sukses, itu adalah bonus. Tentu saja selain pahala dari Allah.
Pohon-pohon tak pernah mengambek
Saya tercengang dan tercenung mendengar argumen teman saya itu. Setelah direnungkan ternyata ada benarnya juga, dan mungkin demikianlah analogi keikhlasan yang lebih tepat, ketimbang ilustrasi buang air yang kesannya tidak berbobot. Karena termasuk domain hati, ikhlas mungkin tidak sesederhana pendapat dan penjelasan teman saya, namun analogi itu barangkali sebuah upaya untuk mempermudah pemahaman mengenai bagaimana keikhlasan diwujudkan. Memberi tanpa mengharap kembali, seperti matahari yang setia menyiram bumi dengan berkah cahayanya. Bermurah hati tanpa pernah menyesali, seperti embun yang selalu datang menyapa daun-daun dan rumputan dengan kesejukannya.

Dan tentu saja semua itu tidak semudah yang diucapkan. Seperti kita pahami bahwa orang tua selalu ikhlas memberi dan menyayangi anak mereka, bahkan ketika anak-anak menentang atau menyia-nyiakan pemberian atau kasih sayang orang tua. Saat anak-anak menyelewengkan uang sekolah misalnya, orang tua mungkin marah, tapi tetap tak tega melihat anaknya tidak bisa sekolah. Maka mereka kemudian membayar juga tunggakan itu, atas nama cinta yang tulus. Ibarat pohon-pohon di hutan; sesering dan sekejam apa pun manusia menebangi mereka, mereka tetap tak pernah mengambek untuk tumbuh dan menyediakan oksigen serta menyimpan cadangan air. Mereka terus tumbuh saat ditanam.

Berbeda dengan kita yang kerap berlaku aneh. Kita mengaku ikhlas saat memberi sesuatu kepada orang lain. Namun ketika orang itu tidak menghargai atau bahkan memusuhi kita, kita mencabut keikhlasan dengan berkata, “Wah, nyesel banget ya udah bermurah hati sama dia. Kalau tahu dia bakal nyakitin begini, mendingan dulu aku ga pernah kasih apa-apa ke dia.” Perhatikan muatan kalimat ini yang penuh dengan nada penyesalan. Jika kita ikhlas, berarti amal yang sudah kita perbuat sudah tuntas. Selebihnya terserah Allah. Jika kita masih meratap atau menyesal karena tidak mendapat penghormatan atau kebaikan hati yang sama dari orang yang sudah kita sedekahi, berarti bukan ikhlas namanya. Keikhlasan sejati tidak menjadi beban, dan ketulusan hakiki tidak menuntut adanya syarat apa pun. 
 
 Maka kita mesti bertanya pada diri sendiri: perbuatan baik apa yang sudah kita berikan pada orang lain? Lantas seberapa tuluskah kita melakukan setiap kebaikan itu? Jika banyak sedekah dan hal baik yang sudah kita kerjakan, apakah amalan kita itu terlepas begitu saja ataukah kita masih menyimpan kebanggaan dan kesombongan agar dipuji atau diperhatikan orang? Padahal sifat yang paling ditakuti oleh Rasulullah terhadap umatnya adalah syirik kecil. Dan syirik kecil adalah riya, yaitu keinginan untuk dipuji atau dihargai bukan karena Allah semata. 

Mari kita mulai dari sekarang, berdasarkan kadar kemampuan kita. Dan tidak melulu berhitung akan jumlah yang akan kita terima sebagai kompensasi. Sebab bila kita fokus pada imbalan materi, maka kekecewaanlah yang mungkin akan kita tuai. Kita bermurah hati karena agama mengajarkannya dan karena kita senang melakukannya. Semoga Ramadan menjadi momentum bagi kita untuk membangun pilar-pilar keikhlasan untuk menguatkan langkah kita selama sebelas bulan setelahnya. Wallahu ‘alam.


Kontributor:

20 comments

July 23, 2012 at 8:56 PM

Subahanallah... betul 2 renungan yang luar biasa... saya sampai membaca ulang beberapa point. Mas Walank Ergea menulis dengan mendalam sekali.

Kita sering mengucap ikhlas tapi masih dengan syarat.... Aku ikhlas..tapi... Padahal ikhlas ya ikhlas... tanpa syarat.
Rasanya memang harus membenahi hati untuk melakukan segala sesuatu dengan ihklas yang tanpa syarat.

July 23, 2012 at 9:05 PM

Pohon-Pohon Tak Pernah Ngambek
Pohon-Pohon Tak Pernah Marah
Pohon-Pohon Tak Pernah Mengeluh

karena pohon tidak pernah tahu bagaimana cara ngambek, Marah, dan Mengeluh...!!!

Mungkin perlu dicontoh, agar manusia tidak tahu bagaimana cara Ngambek, Marah dan Mengeluh

July 23, 2012 at 9:39 PM

jadi ikhlas itu harus tanpa syarat ya. terima kasih atas renungannya

July 24, 2012 at 3:06 AM

Subhanallah.. Sebuah renungan yang bisa menambah bekal dalam meraih ikhlas... Semoga kita dimudahkan karena saya sadar bahwa Ikhlas tidak semudah buang hajat, bahkan ibu maling kundang mengutuk anak yang durhaka itu..
Maaf... Sedikit koreksi, ion tidak akan menarik ion yang sejenis.. :)

July 24, 2012 at 10:03 AM

tapi yang perlu kita ingat bahwa rejeki itu bukan hanya dalam bentuk materi, bisa berupa kesehatan atau dijauhkan dari marabahaya :)

July 24, 2012 at 10:04 AM

amien,,,ikhlas sebuah kata teori yang singkat namun begitu sulit kita praktekan.

July 24, 2012 at 1:02 PM

trims atas renungan yang luar biasa ini mba.... semoga kita bisa benar-benar ikhlas tak hanya dalam ucapan tapi juga dalam penerapannya ya... :)

July 24, 2012 at 1:36 PM

Nampaknya saya harus meluangkan waktu untuk mencerna perenungan ini, saat ini kenalan saja dulu. boleh ya mbak atau mas ini?
terimakasih

July 24, 2012 at 5:30 PM

waah,.. aku tidak mampu membalas koment2 dari teman2 diatas

July 24, 2012 at 8:25 PM

@nikenSepakat sama mbak Niken, tulisan ini sarat dengan makna

July 24, 2012 at 8:27 PM

@Zaenuri Achmadsetuju mas Zaenuri, ada ayat yang tersurat dan yang tersirat, semua utk dijadikan pelajaran bagi orang yang mau merenung

July 24, 2012 at 8:28 PM

@Lidya - Mama Cal-Vinsetuju mbak Lidya, Ikhlas kepada Allah itu tanpa syarat dan mutlak

July 24, 2012 at 8:29 PM

@Andro BhaskaraTerimakasih Andro, sudah menambahkan, terimakasih koreksinya

July 24, 2012 at 8:31 PM

@Rahmi Azizanamanya rejeki jika dikaji banyak ragamnya, bisa materi, kesehatan, anak yg shlaih/ah dsb

July 24, 2012 at 8:32 PM

@Ndearsepakat banget, bahkan jika kita teriak2 ikhlas, justru hakekatnya malah menghilangkan keikhlasan

July 24, 2012 at 8:33 PM

@alaika abdullahSetuju mbak, dari Open house ini sungguh banyak ilmu yg kudapat

July 24, 2012 at 8:34 PM

@TABUHGONGhmm.. dengan senang hati mempersilakan utk membaca-baca, salam kenal juga dari mas Ergea dan Istri

July 25, 2012 at 8:08 AM

Benar itu, saat melakukan kebaikan pasti ada syirik kecil tersebut. Manusia biasa wajar itu. Tugas kita adalah berbuat kebaikan dan sedikit demi sedikit tanamkan agar ikhlas itu selalu dihati. Penuh renungan. Keep posting!

July 25, 2012 at 11:33 AM

iya juga yah...selama ini yang terkenal adalah menganalogikan ikhlas dengan buang hajat.. alhamdulillah dapat pencerahan...

July 25, 2012 at 4:22 PM

Subhanalloh... isinya lengkap banget ka Insan.. ana jadi bingung mengomentarinya.. yang jelas semoga sang penulis Alloh berikan ganjaran pahala berkat karya tulisnya.. :)

Post a Comment

"Setelah dibaca tunjukkan kunjungannya dengan meninggalkan jejak dikolom komentar karena postingannya sopan maka diharap komentarnya juga yang sopan mohon tidak menulis komentar spam dan OOT disini"

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes