Jumat, 19 Juli 2013

Mengislamkan Diri

Sudahkah kita mengislamkan diri ?
Mungkin ini pertanyaan yang aneh dan terkesan ekstrem, tapi itulah realita dalam kehidupan umat islam banyaknya penyimpangan akidah sekarang ini makin membuatku untuk merenung kembali apa sebenarnya yang terjadi dimasyarakat muslim saat ini.? Banyak orang yang menganggap dirinya sebagai muslim, dengan percaya diri mengaku sebagai umat Rasulullah, tapi benarkah kita sudah pantas menjadi seorang muslim? bagaimana seharusnya seorang muslim? sudah puaskah dengan kondisi muslim kita yang sekarang..?

Sebagai orang yang masih faqir akan ilmu agama hanya bisa mengajak untuk merenungi kondisi masyarakat muslim saat ini sembari berharap mendapat tauziah dari saudaraku yang membaca tulisan ini. Ibnu Katsir berkata "sesungguhnya seorang muslim haruslah berusaha memahami ajaran agamanya dengan baik dan benar sesuai dengan syariat Allah." BAIK dalam pengertian ikhlas menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah sebagai satu-satunya tempat bergantung serta ikhlas menerima segala ketentuan takdir-Nya. BENAR dalam pengertian mengikuti Risalah yang diajarkan Rasulullah dan menjadikan Beliau sebagai tuntunan yang layak  ditauladani.

Seorang muslim harus selalu proaktif, bersemangat dalam dakwah serta menyebarkan kebaikan hanya mengharap ridha-Nya. Karena Islam menghendaki seorang muslim sebagai pribadi yang berhias akhlak mulia, menjadi unsur yang membangun, cerdas  dan tidak melewatkan waktu berlalu tanpa memberi manfaat  kepada sesama. Karena sesungguhnya umat muslim adalah umat dakwah dan risalah bukan umat yang egois hanya mementingkan pribadi dan memonopoli kebenaran hidayah untuk diri sendiri tanpa mau menyebarkan pada sekitarnya, karena sesungguhnya dakwah menjadi kewajiban atas kaum muslimin secara keseluruhan dan bukan hanya pandai berdebat tanpa memberikan solusi. Sebagaimana difirmankan oleh Allah:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (Terjemahan QS. An-Nahl: 125)

 "Dan berbuat baiklah supaya kalian mendapat kemenangan." (
Terjemahan QS Al-Haj: 77)

Seorang muslim tidak cukup dengan berlama-lama menyendiri di masjid hanya asyik dengan dzikirnya, sementara iblis dan para thagut berkeliaran membuat kerusakan di  bumi. Seorang muslim tidak cukup hanya membaca "Hawqalah" (lahawla walaquwata illabillah), tidak cukup hanya membaca Istirja' (innalillahiwainnailaihirojiun) tidak cukup pula dengan memperbanyak bacaan tasbih dan tahlil. Tetapi Islam juga menekankan bagi kaum muslimin untuk beramar ma'ruf nahi munkar, ikut berperan aktif dalam memberantas kemaksiatan dan membuang jauh-jauh segala bentuk kemungkaran. terutama bagi yang punya power kekuasaan gunakan power  tersebut untuk beramar ma'ruuf nahi mungkar tetapi bagi yang kita belum mampu melakukan minimal tidak membuat kerusakan yang meresahkan orang lain sehingga orang lain merasa damai, aman dan tentram karena kehadirannya.

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Terjemahan QS. At Taubah :71) 

“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik di antaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doa mereka tidak akan dikabulkan” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani)

Seorang Muslim hatinya harus hidup dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, pandangannya selalu terbuka serta perhatiannya selalu tertuju pada ciptaan Allah Azza wa Jalla, serta berkeyakinan bahwa hanya Dialah yang Maha Besar dengan kekuasaan yang tiada batas, sehingga menumbuhkan rasa keimanan dan tawakal kepada-Nya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Terjemahan QS. Ali 'Imran: 190-191) 

Seorang muslim adalah pemimpin dan harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya, serta bersikap tegas dan amanah tidak berpihak pada siapapun kecuali pada kebenaran
"Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. (HR Bukhari)

Seorang Muslim harus tulus ikhlas atas ketetapan dan takdir dari Allah serta berkeyakinan dalam hatinya bahwa iman kepada qadha dan qadar merupakan salah satu dari rukun iman. Tidak merusaha menyalahkan apapun atas musibah yang menimpanya dalam kehidupan ini, dengan keyakinan karena Dia telah menetapkan hal itu sesuai dengan kehendak-Nya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah.


"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya baik baginya. Tidak ada hal seperti ini kecuali hanya pada orang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan lantas dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika dia ditimpa kesulitan lantas dia bersabar, maka hal itu baik baginya." (HR. Bukhari)


Seorang muslim harus menyegerakan bertaubat, terkadang diri kita dihinggapi kelalaian bahkan sampai terperosok kedalam jurang kesesatan, sehingga menyebabkan hilangnya ketaatannya kepada Allah dan Rasulnya, maka seorang yang baik harus segera menyadari atas kesalahannya serta segera memohon ampunan kepada-Nya
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (Terjemahan QS. Al A'raaf: 201)

Demikianlah beberapa kewajiban seorang muslim yang mampu aku ungkapkan, hanya sedikit dari  banyak kewajiban muslim yang harus diperhatikan. Tapi dari yang sedikit ini masih banyak yang belum kita jalankan, masih banyak yang kita lupakan, maka dari tulisan ini saya mengajak saudaraku seiman untuk selalu merenung dan mengoreksi diri, karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu sampai kapan kita mempunyai kesempatan untuk membenahi diri. Mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menebar kebaikan di buminya Allah ini.  Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Sabtu, 13 Juli 2013

Hati Yang Mati

"Diantara tanda-tanda hati yang mati ialah tidak ada rasa sedih,  apabila telah kehilangan kesempatan untuk melakukan taat kepada Allah, tidak juga menyesal atas perbuatan (kelalaian) yang telah dilakukannya."

Tanda-tanda hati yang didalamnya ada keimanan yaitu hati yang akan merasa sedih apabila iman dan taat itu hilang darinya. Hati yang beriman akan sangat menyesal apabila melakukan kemaksiatan dan sebaliknya akan merasa senang apabila melakukan ketaatan

Amal perbuatan manusia yang dikendalikan oleh hati yang beriman akan selalu mengarah pada ketaatan dan keimanan serta meninggalkan kemaksiatan sehingga hatinya tidak gelisah oleh dosa dan jiwanya tidak resah oleh maksiat. Kejahatan yang selalu mencari kesempatan mendobrak benteng dalam hati mampu meluluh-lantakkan benteng itu,  apabila pertahanan iman yang menjaga benteng hati itu lemah

Sebaliknya benteng hati itu akan kokoh walau dengan serbuan dan serangan apapun apabila iman yang menjadi perisai didalamnya kokoh kuat bagai batu karang ditengah samudra. Seorang hamba mukmin akan terus mencegah masuknya kemaksiatandan kotoran di dalam hatinya, membentenginya dengan amal ibadah. Merasa sedih bila dihinggapi dosa dan gembira bila melakukan kebaikan.

Dalam sebuah atsar "Barang siapa yang merasa senang menjalankan kebaikan dan merasa sedih menjalankan kejahatan, maka ia adalah orang yang beriman." Sebaliknya hati yang suka dihinggapi kotoran kemaksiatan tidak merasa sedih menjalankan maksiat dan kotoran jiwa, itulah hati yang mati dan buta. Tanda Allah Ta'ala ridha kepada hambanya maka hatinya akan terang benderang menerima kebaikan dan mampu menghindari kemaksiatan.



Kearifan hati itu dapat dilihat dari perbuatan manusia dalam hidupnya. Hati yang hidup akan nampak pada wajah pemiliknya, hati yang jauh dari dosa dan kemaksiatan akan tercermin dari kecenderungan hati serta pembicaraannya. Ucapan seseorang terbias jelas dalam setiap susunan kata-katanya. Hati yang terbuka oleh iman akan keluar dari bibirnya sebuah ucapan yang halus, jujur dan tidak berbelit, sebaliknya hati yang hitam tertutup noda akan terbias dari setiap kata-katanya yang cenderung mengucapkan kalimat-kalimat kotor seperti mengumpat, memaki, bergibah dan lain-lainnya.

Sahabat Ibnu Mas'ud mengatakan, "Orang yang benar-benar beriman ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Kuatir kalau-kalau puncak gunung ini jatuh menimpamya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya."

Orang beriman selalu memandang dosa kesalahan sebagai beban yang sangat berat karena dosa dan kesalahan akan membawa akibat buruk serta menyiksanya di hari akhirat untuk itu ia sangat berhati-hati. Kehati-hatian seperti ini adalah cahaya iman yang masih bertahta di hatinya. Sebaliknya bagi orang munafik menganggap dosa dan kesalahan sebagai hal biasa yang tidak meruntuhkan kedudukannya, merusak dan menganiayanya. Hanya ibarat mengusir lalat dari ujung hidungnya. Tanpa memperdulikan kadar iman dan Islam dalam membentuk pribadinya


Peranan hati yang penuh dengan hiasan iman yang membentuk manusia muslim sangat mempengaruhi bagi perkembangan tingkah laku manusia. Apakah ia suka pada kemaksiatan atau ketaatan. Dua perbuatan yang saling bertentangan ini memang selalu bertahta di hati manusia. Hanya cahaya iman dan ketaatan yang mampu menyinari dan memberi arah kepada manusia untuk memilih perbuatan mana yang diridhai Allah dan perbuatan mana yang di murkai-Nya.

Banyak hal yang perlu dipelajari oleh manusia tentang hatinya sendiri, sebab suatu saat hati bisa putih dan terang benderang, terbuka dan hidup tetapi disaat lain bisa hitam pekat tertutup rapat-rapat dan mati.

Waspadalah dengan hati sendiri, agar iman tetap menjadi penguasa didalamnya dan waspada pulalah terhadap pengaruh luar agar iman yang sedang bersemi dan tumbuh berkembang dalam ketaatan tidak layu dan mati oleh godaan syetan yang selalu mencari celah untuk mengelabuhi iman yang ada dalam sanubari.


~ oOo ~



Pustaka:
"Al Hikam"

Rabu, 10 Juli 2013

Ar radha’ah Dan Pernikahan Sepersusuan

Tidak bisa dipungkiri bahwa Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang terbaik bagi bayi, karena Allah telah menyiapkan terlebih dahulu makanan untuk bayi, sehingga begitu bayi itu lahir, air susu ibu telah siap untuk dimanfaatkan. Pengolahannya telah berjalan secara alami dalam tubuh si ibu. Itulah bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya. Namun terkadang karena sesuatu hal sang ibu tidak bisa menyusuinya misalnya meninggalnya ibu kandung si bayi, atau ketidakmampuan ibu kandung untuk menyusui karena berbagai sebab, seperti kesibukan kerja atau air susunya tak keluar dan sebagainya. Islam memberikan solusi dengan memperbolehkan susuan  (Ar radha’ah)

Pada kesempatan kali ini saya ingin menyajikan artikel tentang Ar radha'ah yaitu menyusukan seorang bayi kepada perempuan yang bukan ibu kandungnya dalam pandangan Islam dan dalam pandangan ilmu kesehatan tentunya dengan segala konsekwensi yang diakibatkan. Karena akibat susuan itu secara syar’i  akan menimbulkan hubungan mahram antara bayi yang disusui dengan wanita yang menyusui. Karena susuan merupakan salah satu dari tiga sebab timbulnya kemahraman yang mengharamkan pernikahan yaitu:
  • Adanya hubungan keturunan (Nasab) seperti ibu, saudara perempuan, dan bibi (saudara perempuan ayah/ibu).

  • Karena adanya hubungan persusuan (ar radha’ah), seperti ibu yang menyusui, dan sebagainya.
  • Adanya hubungan perkawinan (mushaharah), seperti isteri dari anak laki-laki (menantu perempuan) dan ibu dari isteri (ibu mertua).

Jika seorang perempuan menyusui seorang bayi, maka bayi itu akan menjadi anaknya, yaitu menjadi mahramnya apabila memenuhi dua syarat: 

Pertama. Penyusuan dilakukan ketika usia bayi di bawah dua tahun. Maka penyusuan kepada anak di atas dua tahun, tak mengakibatkan kemahraman.

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan." (Terjemah QS. Al Baqarah : 233)

”Tidak ada penyusuan kecuali pada masa dua tahun.” (HR Daruquthni dan Baihaqi)

Kedua: Wanita itu telah menyusui sebanyak lima kali susuan pada waktu yang terpisah-pisah. Maka penyusuan yang kurang dari lima kali susuan, tak menimbulkan kemahraman. pendapat Madzab Syafi'i dan Hambali. 
"Dahulu dalam Al Qur`an susuan yang dapat menyebabkan menjadi mahram ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan lima kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al Qur`an masih tetap di baca seperti itu." (HR Muslim)

Sedangkan pendapat madzab Hanafi dan Maliki Sedikit sesusuan atau banyak sama mengharamkan berdasarkan Firman Allah

"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan..." (Terjemah QS. An-Nissa : 23)

Lantas Kapan seorang bayi menyusui dan dianggap sebagai satu susuan, Yaitu jika dia menyusui, setelah kenyang dia melepas susuan tersebut menurut kemauannya. Jika dia menyusu lagi setelah satu atau dua jam, maka terhitung dua kali susuan dan seterusnya sampai lima kali menyusu. Kalau si bayi berhenti untuk bernafas, atau menoleh kemudian menyusu lagi, maka hal itu dihitung satu kali susuan saja.

Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara menyusu yang bisa mengharamkan. Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang penting adalah sampainya air susu tersebut ke dalam perut bayi, sehingga membentuk daging dan tulang, baik dengan cara menghisap puting payudara secara langsung maupun dengan cara menyuapi ke mulut bayi.


Pernikahan Saudara Sepersusuan

"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan..." (Terjemah QS. An-Nissa : 23)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya maka ayat di atas terkandung pengharaman nikah seseorang kepada mahramnya yang mana hal ini dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:


Haram nikah karena Keturunan
Diharamkan bagi seseorang menikahi tujuh orang dari perempuan dikarenakan adanya status keturunan yaitu : ibu hingga ke atas,anak perempuan hingga ke bawah,saudari,bibi dari ayah, bibi dari ibu,anak perempuan dari saudara dan anak perempuan dari saudari.

Haram nikah karena Penyusuan
Diharamkan menikah dikarenakan adanya status penyusuan sebagaimana hadis yang berbunyi: "Diharamkannya yang dikarenakan penyusuan sama seperti halnya diharamkannya karena keturunan. Maka dari sini jika seseorang yang telah menjadi anak dari susuan maka dia dharamkan menikahi ibu susuannya,dan seperti perempuan lainnya yang haram karena keturunan

Haram nikah karena Perkawinan
Diharamkan menikah dikarenakan adanya status perkawinan misalkan seperti Mertua (ibu dari istri), Anak tiri (apabila sudah campur dengan bapaknya), Menantu (isteri dan anak), Isteri bapak seperti yang di atur dalam Surah An-Nissa : 23.


Dan sekedar tambahan seperti yang pernah saya baca ada Sejumlah penelitian ilmiah yang telah menemukan adanya gen dalam ASI orang yang menyusui, dimana ASI mengakibatkan terbentuknya organ-organ pelindung pada orang yang menyusu, apabila ia menyusu antara tiga sampai lima susuan. Dan ini adalah susuan yang dibutuhkan untuk bisa membentuk organ-organ yang berfungsi melindungi tubuh manusia.

Maka, apabila ASI disusu ia akan menurunkan sifat-sifat khusus sebagaimana pemilik ASI tersebut. Oleh karena itu ia akan memiliki kesamaan atau kemiripan dengan saudara sesusuannya dalam hal sifat yang diturunkan dari ibu pemilik ASI tersebut.

Dan juga sudah ditemukan bahwa organ-organ yang berfungsi melindungi tubuh mungkin akan menyebabkan munculnya sifat-sifat yang diridhai oleh sesama saudara dalam kaitannya dengan pernikahan. Dari sini kita mengetahui hikmah yang terkandung dari hadits di atas yang melarang kita dari menikahi saudara sesusuan yaitu mereka yang menyusu pada ibu lebih dari lima kali susuan.

Dari penelitian tersebut menunjukkan keluasan dan kebenaran ilmu Islam yang diajarkan Rasulullah bisa dibuktikan secara secara ilmiah dan tidak terbantahkan.  Alhamdulillah



Senin, 08 Juli 2013

Hikmah Di Balik Berpuasa

Mungkin sudah banyak artikel yang membahas tentang hikmah dan manfaat puasa yang sudah dibaca oleh Sahabat Robbani, tapi tidak ada salahnya jika Media Robbani menyajikan lagi artikel serupa disini, semoga bisa me-refresh ingatan kita serta memantabkan dalam menjalankan ibadah puasa.

Sebelum membahas hikmah dan manfaat berpuasa ada baiknya mengetahui terlebih dahulu tentang definisi puasa. Dari segi bahasa Puasa berarti menahan (imsak) dan mencegah (kaff) dari sesuatu. Misalkan dikatakan "shama 'anil-kalam", artinya menahan dari berbicara. yang maksudnya diam dan menahan diri dari berbicara. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini" (Terjemah QS. Maryam : 29)

Adapun menurut syara' puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan niat yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan pada siang hari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan kata lain puasa adalah menahan diri dari perbuatan dua macam syahwat yaitu syahwat perut dan syahwat kemaluan.

Cahaya Ramadhan

HIKMAH DAN MANFAAT PUASA
Jika dijabarkan secara keseluruhan manfaat puasa tentunya banyak sekali, baik yang bersifat spiritual maupun yang bersifat material. Di artikel ini saya mencoba mengambil point-point yang pentingnya saja.

Puasa utamanya merupakan suatu bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang mukmin dengan puasanya akan diberi pahala yang luas tak terbatas sebab puasa hanya diperuntukkan bagi Allah yang maha pemurah. Dengan puasa kita memperoleh ridha-Nya dan berhak masuk pintu surga dari pintu khusus yang hanya disediakan bagi orang-orang yang berpuasa yaitu Ar-Rayyan.

Puasa juga menjauhkan dari siksaan yang disebabkan oleh kemaksiatan yang dilakukan oleh sang hamba. Puasa merupakan tebusan atau kafarat bagi dosa dari satu tahun ke tahun berikutnya. Dengan ketaatan urusan seorang Mukmin akan berdiri tegak diatas kebenaran yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena puasa bisa merealisasikan ketakwaan, yakni yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhkan diri dari yang dilarang-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Terjemahan QS. Al Baqarah : 183)

Puasa merupakan tempat melatih moralitas yang besar dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji. Puasa adalah jihad melawan hawa nafsu, menangkal godaan-godaan dan rayuan syetan yang terkadang terlintas dalam pikiran. Puasa bisa membiasakan seseorang bersikap sabar terhadap hal-hal yang diharamkan, penderitaan dan kesulitan yang kadang muncul dihadapan. Pada saat kita menghadapi hidangan dan makanan lezat dihadapan dengan bau yang menyeruak sampai ke perut atau saat melihat air segar yang menari-nari di depan mata, maka pada saat itu kita akan menahan diri dari semuanya dan menunggu sampai waktu yang diizinkan tiba.

Puasa mendidik seseorang untuk bersikap jujur dan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian, karena pada saat itu tidak seorangpun yang mengawasi orang yang berpuasa kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini sangat bagus diterapkan dan ditekankan pada masyarakat yang mulai terdegradasi dalam moralitas sehingga mampu meminimalkan tindak kecurangan baik secara sendiri-sendiri atau secara bersama.

Puasa dapat menguatkan kemauan, mempertajam kehendak, mendidik kesabaran, membantu kejernihan akal, menyelamatkan pikiran dan mengilhami ide-ide yang cemerlang. Hal itu bisa terjadi ketika orang berpuasa melewati fase melapangkan hidup serta melupakan kesenangan dan kenikmatan hidup yang kadang-kadang terlintas secara tiba-tiba. Luqmanul Hakim  berkata kepada anaknya:

"Wahai anakku, jika perut terisi penuh, pikiran akan tertidur, hikmah tidak akan muncul dan anggota tubuh akan malas untuk beribadah" 

Puasa mengajarkan sikap disiplin dan ketepatan, karena puasa menuntut orang yang berpuasa untuk makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan. Puasa dapat menimbulkan solidaritas di kalangan umat Islam, baik yang berada di timur maupun di barat.  Mereka berpuasa dan berbuka pada satu waktu. Mereka melakukan karena Tuhan mereka satu dan ibadahpun padu.

Puasa dapat menimbulkan naluri kasih sayang, ukhuwah dan perasaan keterikatan dalam tolong menolong yang dapat menjalin rasa persaudaraan sesama umat Islam. Kebersamaan menghadapi rasa lapar dan perlu makanan, dengan puasa bisa mendorong seseorang untuk bersilaturahmi dengan sesama serta ikut berperan dalam mengatasi bahaya kemiskinan, kelaparan dan wabah penyakit. Hal itu semakin jelas menguatkan ikatan sosial antar sesama manusia yang akan membangkitkan rasa saling membantu dalam memberantas penyakit-penyakit masyarakat. Baik penyakit secara medis atau penyakit hati.

Puasa secara praktis memperbarui kehidupan manusia yaitu dengan membuang makanan yang lama mengendap dan menggantinya dengan yang baru, mengistirahatkan perut dan alat-alat pencernaan, memelihara tubuh, membersihkan sisa-sisa makanan yang mengendap tak tercerna serta menghilangkan bau busuk yang disebabkan makanan dan minuman, Rasulullah bersabda: "Berpuasalah, niscaya kalian sehat" 

Berpuasa adalah perjuangan mengekang hawa nafsu serta membebaskan diri dari cengkraman dosa dunia. Puasa bisa mengendalikan kenakalan dan liarnya hawa nafsu, mendidiknya dan mendisiplikan dalam hal makanan dan minuman. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah

"Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah kawin. Sesungguhnya perkawinan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya." (HR. Bukhari)

Demikian sedikit tentang hikmah dan manfaat puasa. Sesungguhnya puasa merupakan rukun agama yang paling besar dan komplek dan dalam aturan syara' yang paling kokoh. Dengan puasa nafsu bisa dikendalikan. Puasa terdiri dari perbuatan-perbuatan hati serta menghindarkan dari makan dan minum serta bersetubuh di siang hari. Puasa merupakan ibadah sebagai bentuk ketaatan yang paling baik dan puasa juga merupakan beban yang paling memberatkan bagi nafsu.

Allah didalam firmannya memuji hambanya yang berpuasa yaitu:

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa..." (Terjemahan QS. Al Ahzab : 35)

~0Oo~


Atas nama Pribadi dan Admin Media Robbani mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1434 H. Semoga kita mampu menjalankan ibadah dengan baik dan benar dan menjadi mu'min yang paripurna.  Aamiin.



"Mohon maaf lahir bathin atas kesalahan baik dalam lisan maupun tulisan"




Rabu, 19 Juni 2013

Amanat Atau Khianat

Bismillahirrahmanirrahiim
Topik terhangat yang menyita energi masyarakat pada akhir-akhir ini adalah berita tentang rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) sehingga memunculkan perbedaan presepsi dan dualisme di jajaran legislatif. Satu pihak mengklaim kenaikan BBM adalah bentuk penyelamatan uang rakyat khususnya rakyat miskin dengan dalih subsidi BBM yang diberlakukan saat ini tidak tepat sasaran karena sebagian besar pemakai BBM bersubsidi adalah rakyat menengah keatas sedang rakyat miskin yang seharusnya mendapatkan subsidi justru masih banyak yang belum tersentuh. Sebagai konpensasinya akan diberikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebesar Rp. 150.000,- per orang selama empat bulan kedepan pasca dinaikkan BBM. Tapi entahlah apakah benar tepat sasaran atau justru akan membuka lahan baru bagi koruptor?  kita tunggu saja.

Dipihak lain yang menolak mengatakan karena banyak mafia yang bermain dibalik BBM maka tugas pemerintah untuk membersihkan mafia-mafia tersebut. Kenaikan BBM  dinilai akan mendorong inflasi diatas 7,76 persen yang akan memberatkan keadaan ekonomi rakyat yang dampaknya seperti efek domino akan menjalar kemana-mana dan akan meruntuhkan perekonomian bangsa. Selain itu momentumnya kenaikan dinilai sangat tidak tepat waktunya karena banyak masyarakat yang sedang dibebani dengan beaya masuk sekolah baru serta akan menyambut Ramadhan dan hari Raya Idul Fitri. 

Sedangkan diarus bawah dengan kenaikan BBM tersebut dinilai para anggota legislatif telah melakukan pengkhianatan atas janji-janjinya sendiri semasa kampanye. Salah satu janjinya adalah mengentas kemiskinan serta mengurangi angka kemiskinan dinegeri ini. Tetapi dengan diterimanya RAPBN Perubahan 2013 yang berindikasi pada kenaikan BBM dianggap akan semakin menyengsarakan rakyat. Dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok maka daya beli rakyat semakin menurun bahkan makin tidak terjangkau maka dampaknya jumlah angka kemiskinan sekarang 10,5 persen diperkirakan akan menjadi 12,1 persen atau sekitar empat juta orang miskin baru.



Apakah kenaikan BBM tersebut bisa dikatakan sebagai tindakan penyelamatan rakyat atau sebaliknya justru sebuah pengkhianatan kepada rakyat? Silakan pembaca menganalisa dan menyikapi sendiri dengan hati jernih dan akal sehat. Secara pribadi saya tidak berharap adanya pengkhianatan para pemimpin terhadap rakyatnya karena sikap khianat itu sangatlah dibenci Allah Ta'ala. 

Saya juga tidak ingin berpolemik tentang ada atau tidaknya pengkhianatan di negeri ini tapi saya lebih tertarik membahas sikap Islam terhadap khianat. Satu hal yang perlu digaris bawahi bentuk pengkhianatan sangat luas dimensinya, bisa dalam bentuk pengkhianatan terhadap orang tua terhadap pasangan terhadap teman juga termasuk pengkhianatan pemimpin kepada rakyatnya. Islam dengan keras melarang umatnya berbuat khianat bahkan Islam memerangi segala bentuk pengkhianatan. 

Allah Ta'ala sangat membenci pengkhianatan walau terhadap orang kafir sekalipun. Seperti dalam firman-Nya 

"Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat." (Terjemah QS. Al Anfal : 58)

Begitu pula dengan Rasulullah juga melarang setiap bentuk pengkhianatan sekalipun dilakukan terhadap para pengkhianat. Beliau berpesan dalam sebuah hadistnya:

"Tunaikanlah amanat kepada orang yang memberimu amanat dan janganlah kamu mengkhianati kepada orang yang mengkhianatimu." (HR Bukhari)

Subhanallah begitu mulianya ajaran agama Islam bahkan kepada pengkhianatpun kita dilarang berkhianat. Sebagai bentuk rasa takutnya Rasulullah terhadap khianat maka Beliau selalu memohon perlindungan kepada Allah seperti yang terangkum dalam sebuah hadistnya:

"Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari khianat, sesungguhnya khianat adalah sejelek-jeleknya teman pendamping (HR Abu Dawud, Nasa'i dan Ibnu Majah)

Khianat adalah sikap tidak bertanggungjawab atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai kebohongan serta mengobral janji. Tidak ada yang disifati khianat kecuali orang-orang yang munafik. Rasulullah Shallallahu wa Salam bersabda:

"Tanda-tanda orang munafik itu tiga: Jika berbicara berdusta, bila berjanji ia ingkari dan manakala diberi amanat ia berkhianat" (HR Bukhari, Muslim)

Orang yang menyia-nyiakan amanat pada hakekatnya orang yang tidak memiliki kebaikan. Ini dapat kita pahami dari sabda Rasulullah Shallallahu wa Salam.

"Jika amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya" (HR Bukhari)

Dan seseorang akan menunggu kehancuran ketika ia melihat seluruh kebaikan hilang dari dunia ini. Sesungguhnya khianat merupakan salah satu ciri orang munafik yang sangat dibenci Allah dan Rosul-Nya. Akibatnya yang ditimbulkan dari khianat tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merugikan orang lain. Khianat atau dusta dan kebohongan merupakan awal dari tumbuhnya permusuhan dan kebencian yang membawa kerusakan di bumi. Orang yang berkhianat tidak hanya mendustai manusia, tapi juga mendustai Allah Sang Pencipta yang Maha Mendengar lagi Mengetahui.

Jumat, 07 Juni 2013

Kaya Dan Miskin

"Akan tiba suatu zaman dimana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram"

Sungguh miris melihat perkembangan di negeri ini, kejahatan dan korupsi kian lama kian merajalela, berbagai sangsi yang memberikan efek jera tidak mampu membendung arus korupsi seperti jamur dimusim penghujan. Budaya malu yang menjadi identitas bangsa timur seolah telah luntur tergerus jiwa yang tamak. Korupsi menciptakan manusia apatis tanpa memperhatikan penderitaan si miskin. Korupsi telah memporak-porandakan persatuan dan kesatuan yang dibangun oleh pejuang dengan tetes darah dan air mata. Korupsi makin menimbulkan perpecahan dan kesenjangan sosial antar golongan masyarakat, Korupsilah penyebab kerusakan dan kemiskinan dinegeri ini.

Korupsi Penyebab kerusakan dan kemiskinan
Korupsi digunakan sebagai sarana instant sebagian orang untuk memperkaya diri dengan mengorbankan norma-norma yang seharusnya dipegang teguh oleh masyarakat beradab. Semua tindakan biadab para koruptor selalu bermuara pada keinginan menjadi kaya dan menumpuk kekayaan. Banyak orang telah membutakan mata hatinya sehingga tidak bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil, keserakahan semakin mendarah daging sehingga segala macam cara dihalalkan. Yang kaya makin kaya sedang yang miskin kian terpuruk. 

Yang menjadi materi pembahasan kali ini adalah "Bolehkah seorang muslim itu kaya?"

Islam tidak melarang umatnya kaya, bahkan dianjurkan untuk berikhtiar mencari harta dengan caya yang halal. Islam tidak menyuruh umatnya untuk bermalas-malasan. Banyak ayat maupun hadits yang menganjurkan dan menyuruh untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah dan harta. Karena dengan harta kita bisa beramal, bisa mensyiarkan agama, berjihad dan menjalankan ibadah yang lain agar bisa menjadi umat Islam yang paripurna. Islam agama yang suci hanya menghendaki harta yang suci yang disertai dengan amalan yang suci pula. Tetapi makna kaya dalam Islam bukanlah sekedar kaya harta tapi yang lebih diutamakan kaya hati dan kaya bathin. Dengan kaya hati mukmin akan bersikap qona'ah atau merasa tercukupi serta selalu mensyukuri segala nikmat yang diberikan-Nya.

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Terjemah QS. Al Mulk : 15)
Rasulullah bersabda: “Tidaklah sekali-kali seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan daari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabiyullah Daud juga makan dari hasil kerja tangannya sendiri” (HR. Bukhari)

Dahulu di jaman para sahabat kekayaan utama yang dicari adalah kekayaan hati, mereka berbondong-bondong membangun kekokohan iman untuk slalu mencari ridhonya Allah. Ibarat membangun sebuah bangunan dengan kaya hati berarti sudah membangun pondasi yang kokoh sehingga sulit untuk dirobohkan. Maka benar jika dikatakan sebaik-baik harta adalah harta yang ada ditangan orang shalih. Dengan rasa keimanan yang kuat insya Allah akan mampu memanfaatkan hartanya di jalan Allah. Seorang mukmin yang baik selalu bersikap zuhud dengan hartanya. Mereka tidak menampikkan harta dunia tetapi menempatkan pada porsi yang tepat. Dunia ada digenggaman dan akhirat didalam hatinya.

Tetapi dijaman sekarang justru berbanding terbalik dengan kondisi jaman para sahabat,  kini orang berbondong-bondong mencari kekayaan duniawi sehingga melupakan kekayaan hati, maka tidak heran jika dikalangan masyarakat dan tokoh masyarakat banyak terlibat tindak korupsi, nepotisme dan berbagai tindak kecurangan lainnya. Yang ironis adalah tokoh yang digadang-gadang menjadi ujung tombak pendobrak praktik kecurangan justru ikut terbawa arus dalam lingkaran kecurangan itu sendiri. Bisa dibayangkan betapa kuatnya pengaruh virus sekulerisme dalam darah masyarakat muslim.

Maka sesungguhnya orang yang merasa tercukupi tidak merasa kekurangan dan tidak keluh kesah atas nikmat Allah itulah hakekat orang yang kaya. Sebaliknya kendatipun orang yang berlimpah harta tetapi tidak merasa puas atas nikmat-Nya selalu merasa kurang dan menghalalkan segala maka dia pada hakekatnya orang yang miskin.

Hari ini, telah nyata di depan mata kita apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah dalam salah satu sabdanya: “ Akan tiba suatu zaman dimana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram” (HR. Bukhori)


 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes