Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2013

Syarat dan Kemudahan Beribadah Haji

Bunyi Sirine meraung-raung memekakkan telinga, kulihat beberapa bus mengangkut jamaah haji tengah berkonvoi melintas didepanku. Berdesir hati ini sebagai sebuah isyarat ada keinginan kuat yang belum terwujudkan, aku hanya bisa terdiam memandangi bus jamaah haji yang melintas berbaris didepanku. Hingga hilang di perempatan berbelok menuju lokasi pemondokan sementara di Asrama Haji. Ada getaran rasa yang bergemuruh didada hingga tak terasa bibir ini bergumam “Labaik Allahuma Labaik”

baitullah l sumber gambar
Menunaikan ibadah haji adalah fardhu ‘ain, atau wajib hukumnya bagi setiap muslim yang sudah mampu dan memenuhi syarat untuk menunaikannya. Ibadah Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Mengenai hukum wajibnya haji telah disebutkan pada firman-Nya didalam Al Qur’an dan sabda Rasulullah dalam Sunnahnya  

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Terjemah QS. Ali Imron: 97)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Lantas ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.” (HR. Muslim)

Yang perlu diketahui syarat wajib untuk melaksanakan ibadah haji adalah sebagai berikut: 
  • ISLAM: Orang non muslim tidak sah dalam melaksanakan haji atau umrah. Jika dia berkunjung ke tanah suci bahkan mengikuti ibadah haji atau umrah seperti thawaf dan sa'i maka perjalanan haji atau umrahnya tidak mendapatkan manfaat apa-apa kecuali hanya sebatas melancong saja

  • BALIGH: Ukuran baligh (dewasa) yaitu 9 tahun untuk anak perempuan dan sekitar 15 tahun untuk anak laki-laki. Atau sebagian mengatakan rata-rata umur 15 tahun, baik untuk anak perempuan maupun anak laki-laki. Seorang yang belum mencapai usia baligh tidak memiliki kewajiban melaksanakan ibadah haji/umrah. Bila dia sudah dewasa dan memiliki kemampuan materi dan non materi, maka wajib mengulangi ibadah haji/umrah.

  • BERAKAL SEHAT: Berakal sehat adalah tidak gila dan tidak memiliki gangguan jiwa.

  • MERDEKA: Yang dimaksud merdeka adalah tidak berstatus sebagai budak (hamba sahaya di masa Rasulullah yang di masa modern ini hampir tidak ditemukan di dunia). Istilah merdeka juga bisa diartikan bebas dari tanggungan hutang dan tanggungan nafkah keluarga yang ditinggalkan.

  • ISTITHA'AH: Istilah Istitha'ah berarti mampu, baik secara materi dengan tidak memiliki hutang, maupun kesiapan mental dan spiritual.


Seperti halnya muslim pada umumnya tentu akupun sangat mendambakan bahkan memimpikan bisa menunaikan ibadah Haji ke Baitullah untuk memenuhi panggilan-Nya dengan harapan agar bisa menjalankan rukun Islam dengan paripurna. Rasanya tiada suatu kebahagiaan dan kebanggaan hidup ini selain bisa menjalankan perintah Allah Ta'ala untuk meretas jejak-jejak para Nabi dan mengikuti sunnah Rasulullah teriring keridhaan dari-Nya. Maka tidak berlebihan apabila siang dan malam didalam doa selalu kupanjatkan agar Allah Ta’ala berkenan memanggil, memberi kesempatan dan memberi kemudahan bisa bertamu ke Baitullah.

Berbicara tentang kemudahan ingin rasanya sedikit berbagi cerita kepada para sahabat pembaca semua. Ada salah satu sahabat yang menelponku dari Arab Saudi, dia mengabarkan dirinya sudah tiba di Arab Saudi dengan selamat. Alhamdulillah, dari ponselnya dia bercerita panjang lebar tentang situasi di Arab Saudi. Sempat kuatir juga, jangan-jangan akan menghabiskan banyak pulsa. Ternyata kekuatiranku sirna manakala sahabatku meyakinkanku bahwa berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia tidak lagi susah payah mencari tempat jasa telepon (baca wartel) tetapi bisa langsung via ponsel bahkan untuk akses internetpun cukup melalui smartphone tanpa harus nyari-nyari warnet. Tapi  kabar buruknya tidak semua bisa mendapat kemudahan seperti itu, karena kemudahan itu hanya khusus untuk pelanggan Telkomsel yang berkomitment dan peduli kepada pelanggannya.

Penasaran juga, apa benar semudah itukah berkomunikasi antar dua negara seperti yang diceritakannya. Teriring rasa penasaran aku segera searching web Telkomsel dan ternyata semua terpampang lengkap di  www.telkomsel.com/haji. Sebagai pengguna setia simPATI jelas merasa terbantu dengan kemudahan berkomunikasi dengan keluarga ataupun sahabat yang ada di Arab Saudi. Dengan membuktikan sendiri  kemudahannya menjadi semakin kuat keinginanku untuk bisa segera melaksanakan ibadah haji. Betapa tidak, jika dulu aku membayangkan sebulan lebih berpisah dengan keluarga pasti rasa rindu akan menggangu konsentrasi ibadah belum lagi bagi yang punya putra-putri masih kecil akan kesulitan memonitor dari jauh tapi Alhamdulillah sekarang semua sudah tersolusi oleh Telkomsel.  

Tadinya aku mikir bakal ribet untuk menggunakan layanan internasional tersebut, setelah disarankan teman untuk  mengunjungi www.telkomsel.com/haji ternyata caranya sangat mudah. Pertama untuk kartunya pastikan menu layanan international roamingnya sudah aktif sebelum berangkat ke Arab Saudi. Untuk pengguna simPati & Kartu As bisa dengan SMS ketik IR kirim ke 6616 atau menghubungi call center. Bagi pelanggan kartuHalo bisa mengunjungi GraPARI atau menghubungi call center 133. Tapi aku sarankan sebelum melaksanakan ibadah haji sebaiknya melakukan isi ulang pulsa sesuai kebutuhan di Arab Saudi.

Kemudian setibanya di bandara Arab Saudi, di Jeddah maupun Madinah, tidak perlu ganti kartu & tidak perlu setting lagi langsung bisa menghubungi keluarga yang ada di Indonesia. Jika ingin isi ulang pulsa bisa menggunakan voucher fisik caranya cukup ketik *133*Kode voucher#.


Berikut adalah tarif komunikasi untuk di Arab Saudi
sumber gambar
Sahabat yang di Arab Saudi menceritakan disela-sela kekhusyu'kan menjalankan ritual ibadah haji bagi pengguna Smart phone Android maupun BlackBerry tetap dapat menikmati paket Data hemat untuk mengakses internet dan data selama di Tanah Suci. Untuk paket Data Roaming tersedia dalam beberapa pilihan yang disesuaikan dengan kebutuhan.


Salah satu layanan yang diberikan aplikasi Telkomsel Ibadah yaitu:
sumber gambar
Belum puas dengan kemudahan itu akupun mencoba mencari-cari kemudahan yang lain, ternyata ada juga Panduan Haji yaitu berupa panduan praktis dalam menjalankan ibadah Haji, dan doa-doa umum baik selama menjalankan ibadah umroh/haji maupun saat berziarah. Doa-doa disajikan dalam bentuk teks Arab, transliterasi, terjemahan Bahasa Indonesia, serta audio. Disajikan pula informasi mengenai tempat-tempat ziarah di Tanah Suci, wisata belanja dan kuliner, jadwal shalat dan info cuaca di Tanah Suci, informasi tempat-tempat penting seperti hotel, rumah sakit, dan kantor perwakilan RI, informasi kurs, berbagai tips, serta daftar singkat percakapan praktis Bahasa Arab.

Akhirnya aku hanya bisa berucap Alhamdulillah dan berterimakasih untuk Telkomsel yang telah memberikan pelayanan secara optimal kepada pelanggannya, yang telah membantu memberikan kemudahan di semua situasi. Semoga niat baiknya mendapat balasan kebaikan dan kesuksesan yang berlipat-lipat. Rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak bersemangat agar bisa segera meraih impian hidup yang hakiki. Aamiin

sumber gambar

Pelanggan yang berada di Arab Saudi dapat menghubungi call center 24 jam
ke nomor +628110000333



Selasa, 06 Agustus 2013

Bila Lebaran Tiba

Bismillahirrahmanirahim
Lebaran segera tiba, umat muslim menyambutnya dengan perasaan suka cita setelah sebulan berpuasa berjuang melawan hawa nafsu. Berbagai acara sudah disiapkan dihari lebaran nan fitri. Yang paling utama biasanya acara berkumpul dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, saling bermaafan dan saling bersilaturrahmi ke rumah kerabat dan sanak keluarga dengan berbagai ucapan.

Di hari lebaran kita sering mendengar ucapan "Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathin". Sebuah ucapan salah kaprah yang sudah membudaya turun-temurun berpuluh bahkan beratus tahun yang lalu. Seolah Minal faidzin wal waizin sebagai terjemahan dari kata Maaf lahir dan bathin. Padahal ucapan itu kurang tepat dan tidak pernah dicontohkan Rasulullah sebelumnya.

Jika ditilik dari awalnya maka kalimat lengkapnya yaitu "Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin' yang artinya "semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung"  Jadi makna "Minal aidzin wal faidzin" artinya orang-orang yang kembali dan yang beruntung atau mendapat kemenangan. Tidak salah juga mengucapkan itu hanya kurang tepat dan tidak ada tuntunannya.

Rasulullah sendiri bila tiba saat bulan Ramadhan mengucapkan "Taqabbalallahu minna waminkum", yang artinya "Semoga Allah menerima aku dan kalian". Maksudnya menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan. Kemudian menurut riwayat ucapan ini diberikan tambahkan oleh para sahabat dengan kata-kata "Shiyamana wa shiyamakum" yang artinya "Puasaku dan puasa kalian"


Ibnu ‘Aqil menyebutkan beberapa hadits tentang ucapan selamat pada hari raya, diantaranya adalah bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : Saya pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dahulu apabila mereka kembali dari berhari raya, mereka saling mengucapkan taqabbalallahu minna waminka.

“Ahmad rahimahullah berkata : "Tidak mengapa seseorang mengucapkan taqabbalallahu minna waminkum terhadap saudaranya pada hari raya".

Harb berkata : Ahmad pernah ditanya tentang ucapan manusia taqabbalallahu minna waminkum pada dua hari raya. Dia menjawab : "Tidak mengapa. Salah seorang penduduk Syam meriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili".

Nah diposting singkat ini semoga bisa menjadi pengingat kita semuanya. Memang tidak salah mengucapkan Minal faidzin wal waizin, akan tetapi jika ada ucapan yang lebih tepat mengapa kita tidak menggunakan yang lebih tepat.

Atas nama pribadi dan admin Media Robbani mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H". Jika dalam penyajian tulisan dan komentar kurang berkenan dengan segala ketulusan dan kerendahan hati mohon dimaafkan. 

"Taqabbalallahu minna waminkum"



Jumat, 19 Juli 2013

Mengislamkan Diri

Sudahkah kita mengislamkan diri ?
Mungkin ini pertanyaan yang aneh dan terkesan ekstrem, tapi itulah realita dalam kehidupan umat islam banyaknya penyimpangan akidah sekarang ini makin membuatku untuk merenung kembali apa sebenarnya yang terjadi dimasyarakat muslim saat ini.? Banyak orang yang menganggap dirinya sebagai muslim, dengan percaya diri mengaku sebagai umat Rasulullah, tapi benarkah kita sudah pantas menjadi seorang muslim? bagaimana seharusnya seorang muslim? sudah puaskah dengan kondisi muslim kita yang sekarang..?

Sebagai orang yang masih faqir akan ilmu agama hanya bisa mengajak untuk merenungi kondisi masyarakat muslim saat ini sembari berharap mendapat tauziah dari saudaraku yang membaca tulisan ini. Ibnu Katsir berkata "sesungguhnya seorang muslim haruslah berusaha memahami ajaran agamanya dengan baik dan benar sesuai dengan syariat Allah." BAIK dalam pengertian ikhlas menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah sebagai satu-satunya tempat bergantung serta ikhlas menerima segala ketentuan takdir-Nya. BENAR dalam pengertian mengikuti Risalah yang diajarkan Rasulullah dan menjadikan Beliau sebagai tuntunan yang layak  ditauladani.

Seorang muslim harus selalu proaktif, bersemangat dalam dakwah serta menyebarkan kebaikan hanya mengharap ridha-Nya. Karena Islam menghendaki seorang muslim sebagai pribadi yang berhias akhlak mulia, menjadi unsur yang membangun, cerdas  dan tidak melewatkan waktu berlalu tanpa memberi manfaat  kepada sesama. Karena sesungguhnya umat muslim adalah umat dakwah dan risalah bukan umat yang egois hanya mementingkan pribadi dan memonopoli kebenaran hidayah untuk diri sendiri tanpa mau menyebarkan pada sekitarnya, karena sesungguhnya dakwah menjadi kewajiban atas kaum muslimin secara keseluruhan dan bukan hanya pandai berdebat tanpa memberikan solusi. Sebagaimana difirmankan oleh Allah:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (Terjemahan QS. An-Nahl: 125)

 "Dan berbuat baiklah supaya kalian mendapat kemenangan." (
Terjemahan QS Al-Haj: 77)

Seorang muslim tidak cukup dengan berlama-lama menyendiri di masjid hanya asyik dengan dzikirnya, sementara iblis dan para thagut berkeliaran membuat kerusakan di  bumi. Seorang muslim tidak cukup hanya membaca "Hawqalah" (lahawla walaquwata illabillah), tidak cukup hanya membaca Istirja' (innalillahiwainnailaihirojiun) tidak cukup pula dengan memperbanyak bacaan tasbih dan tahlil. Tetapi Islam juga menekankan bagi kaum muslimin untuk beramar ma'ruf nahi munkar, ikut berperan aktif dalam memberantas kemaksiatan dan membuang jauh-jauh segala bentuk kemungkaran. terutama bagi yang punya power kekuasaan gunakan power  tersebut untuk beramar ma'ruuf nahi mungkar tetapi bagi yang kita belum mampu melakukan minimal tidak membuat kerusakan yang meresahkan orang lain sehingga orang lain merasa damai, aman dan tentram karena kehadirannya.

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Terjemahan QS. At Taubah :71) 

“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik di antaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doa mereka tidak akan dikabulkan” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani)

Seorang Muslim hatinya harus hidup dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, pandangannya selalu terbuka serta perhatiannya selalu tertuju pada ciptaan Allah Azza wa Jalla, serta berkeyakinan bahwa hanya Dialah yang Maha Besar dengan kekuasaan yang tiada batas, sehingga menumbuhkan rasa keimanan dan tawakal kepada-Nya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Terjemahan QS. Ali 'Imran: 190-191) 

Seorang muslim adalah pemimpin dan harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya, serta bersikap tegas dan amanah tidak berpihak pada siapapun kecuali pada kebenaran
"Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. (HR Bukhari)

Seorang Muslim harus tulus ikhlas atas ketetapan dan takdir dari Allah serta berkeyakinan dalam hatinya bahwa iman kepada qadha dan qadar merupakan salah satu dari rukun iman. Tidak merusaha menyalahkan apapun atas musibah yang menimpanya dalam kehidupan ini, dengan keyakinan karena Dia telah menetapkan hal itu sesuai dengan kehendak-Nya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah.


"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya baik baginya. Tidak ada hal seperti ini kecuali hanya pada orang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan lantas dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika dia ditimpa kesulitan lantas dia bersabar, maka hal itu baik baginya." (HR. Bukhari)


Seorang muslim harus menyegerakan bertaubat, terkadang diri kita dihinggapi kelalaian bahkan sampai terperosok kedalam jurang kesesatan, sehingga menyebabkan hilangnya ketaatannya kepada Allah dan Rasulnya, maka seorang yang baik harus segera menyadari atas kesalahannya serta segera memohon ampunan kepada-Nya
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (Terjemahan QS. Al A'raaf: 201)

Demikianlah beberapa kewajiban seorang muslim yang mampu aku ungkapkan, hanya sedikit dari  banyak kewajiban muslim yang harus diperhatikan. Tapi dari yang sedikit ini masih banyak yang belum kita jalankan, masih banyak yang kita lupakan, maka dari tulisan ini saya mengajak saudaraku seiman untuk selalu merenung dan mengoreksi diri, karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu sampai kapan kita mempunyai kesempatan untuk membenahi diri. Mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menebar kebaikan di buminya Allah ini.  Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Senin, 08 Juli 2013

Hikmah Di Balik Berpuasa

Mungkin sudah banyak artikel yang membahas tentang hikmah dan manfaat puasa yang sudah dibaca oleh Sahabat Robbani, tapi tidak ada salahnya jika Media Robbani menyajikan lagi artikel serupa disini, semoga bisa me-refresh ingatan kita serta memantabkan dalam menjalankan ibadah puasa.

Sebelum membahas hikmah dan manfaat berpuasa ada baiknya mengetahui terlebih dahulu tentang definisi puasa. Dari segi bahasa Puasa berarti menahan (imsak) dan mencegah (kaff) dari sesuatu. Misalkan dikatakan "shama 'anil-kalam", artinya menahan dari berbicara. yang maksudnya diam dan menahan diri dari berbicara. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini" (Terjemah QS. Maryam : 29)

Adapun menurut syara' puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan niat yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan pada siang hari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan kata lain puasa adalah menahan diri dari perbuatan dua macam syahwat yaitu syahwat perut dan syahwat kemaluan.

Cahaya Ramadhan

HIKMAH DAN MANFAAT PUASA
Jika dijabarkan secara keseluruhan manfaat puasa tentunya banyak sekali, baik yang bersifat spiritual maupun yang bersifat material. Di artikel ini saya mencoba mengambil point-point yang pentingnya saja.

Puasa utamanya merupakan suatu bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang mukmin dengan puasanya akan diberi pahala yang luas tak terbatas sebab puasa hanya diperuntukkan bagi Allah yang maha pemurah. Dengan puasa kita memperoleh ridha-Nya dan berhak masuk pintu surga dari pintu khusus yang hanya disediakan bagi orang-orang yang berpuasa yaitu Ar-Rayyan.

Puasa juga menjauhkan dari siksaan yang disebabkan oleh kemaksiatan yang dilakukan oleh sang hamba. Puasa merupakan tebusan atau kafarat bagi dosa dari satu tahun ke tahun berikutnya. Dengan ketaatan urusan seorang Mukmin akan berdiri tegak diatas kebenaran yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena puasa bisa merealisasikan ketakwaan, yakni yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhkan diri dari yang dilarang-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Terjemahan QS. Al Baqarah : 183)

Puasa merupakan tempat melatih moralitas yang besar dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji. Puasa adalah jihad melawan hawa nafsu, menangkal godaan-godaan dan rayuan syetan yang terkadang terlintas dalam pikiran. Puasa bisa membiasakan seseorang bersikap sabar terhadap hal-hal yang diharamkan, penderitaan dan kesulitan yang kadang muncul dihadapan. Pada saat kita menghadapi hidangan dan makanan lezat dihadapan dengan bau yang menyeruak sampai ke perut atau saat melihat air segar yang menari-nari di depan mata, maka pada saat itu kita akan menahan diri dari semuanya dan menunggu sampai waktu yang diizinkan tiba.

Puasa mendidik seseorang untuk bersikap jujur dan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian, karena pada saat itu tidak seorangpun yang mengawasi orang yang berpuasa kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini sangat bagus diterapkan dan ditekankan pada masyarakat yang mulai terdegradasi dalam moralitas sehingga mampu meminimalkan tindak kecurangan baik secara sendiri-sendiri atau secara bersama.

Puasa dapat menguatkan kemauan, mempertajam kehendak, mendidik kesabaran, membantu kejernihan akal, menyelamatkan pikiran dan mengilhami ide-ide yang cemerlang. Hal itu bisa terjadi ketika orang berpuasa melewati fase melapangkan hidup serta melupakan kesenangan dan kenikmatan hidup yang kadang-kadang terlintas secara tiba-tiba. Luqmanul Hakim  berkata kepada anaknya:

"Wahai anakku, jika perut terisi penuh, pikiran akan tertidur, hikmah tidak akan muncul dan anggota tubuh akan malas untuk beribadah" 

Puasa mengajarkan sikap disiplin dan ketepatan, karena puasa menuntut orang yang berpuasa untuk makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan. Puasa dapat menimbulkan solidaritas di kalangan umat Islam, baik yang berada di timur maupun di barat.  Mereka berpuasa dan berbuka pada satu waktu. Mereka melakukan karena Tuhan mereka satu dan ibadahpun padu.

Puasa dapat menimbulkan naluri kasih sayang, ukhuwah dan perasaan keterikatan dalam tolong menolong yang dapat menjalin rasa persaudaraan sesama umat Islam. Kebersamaan menghadapi rasa lapar dan perlu makanan, dengan puasa bisa mendorong seseorang untuk bersilaturahmi dengan sesama serta ikut berperan dalam mengatasi bahaya kemiskinan, kelaparan dan wabah penyakit. Hal itu semakin jelas menguatkan ikatan sosial antar sesama manusia yang akan membangkitkan rasa saling membantu dalam memberantas penyakit-penyakit masyarakat. Baik penyakit secara medis atau penyakit hati.

Puasa secara praktis memperbarui kehidupan manusia yaitu dengan membuang makanan yang lama mengendap dan menggantinya dengan yang baru, mengistirahatkan perut dan alat-alat pencernaan, memelihara tubuh, membersihkan sisa-sisa makanan yang mengendap tak tercerna serta menghilangkan bau busuk yang disebabkan makanan dan minuman, Rasulullah bersabda: "Berpuasalah, niscaya kalian sehat" 

Berpuasa adalah perjuangan mengekang hawa nafsu serta membebaskan diri dari cengkraman dosa dunia. Puasa bisa mengendalikan kenakalan dan liarnya hawa nafsu, mendidiknya dan mendisiplikan dalam hal makanan dan minuman. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah

"Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah kawin. Sesungguhnya perkawinan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya." (HR. Bukhari)

Demikian sedikit tentang hikmah dan manfaat puasa. Sesungguhnya puasa merupakan rukun agama yang paling besar dan komplek dan dalam aturan syara' yang paling kokoh. Dengan puasa nafsu bisa dikendalikan. Puasa terdiri dari perbuatan-perbuatan hati serta menghindarkan dari makan dan minum serta bersetubuh di siang hari. Puasa merupakan ibadah sebagai bentuk ketaatan yang paling baik dan puasa juga merupakan beban yang paling memberatkan bagi nafsu.

Allah didalam firmannya memuji hambanya yang berpuasa yaitu:

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa..." (Terjemahan QS. Al Ahzab : 35)

~0Oo~


Atas nama Pribadi dan Admin Media Robbani mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1434 H. Semoga kita mampu menjalankan ibadah dengan baik dan benar dan menjadi mu'min yang paripurna.  Aamiin.



"Mohon maaf lahir bathin atas kesalahan baik dalam lisan maupun tulisan"




Minggu, 11 September 2011

Hakikat Taqwa

Dua hari yang lalu seorang teman di account facebook bertanya tentang hakikat taqwa, yang dikirim melalui inbox saya, dan alhamdulillah baru kali ini saya bsa sedikit memberi gambaran tentang hakikat taqwa, karena kalau dijabarkan secara rinci akan sangat panjang dan tidak ada habisnya, tapi walau hanya sedikit uraian ini semoga bisa menjawab pertanyaan tersebut, dengan memberanikan diri jawaban ini saya share diblog yang sederhana ini, dengan harapan bisa bermanfat bagi kita semua. amin

Taqwa lahir sebagai konsekwensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah, merasa takut akan murka dan adzabnya dan selalu berharap limpahan karunia dan maghfirah-Nya.

 Sebagaimana didifinisikan oleh para Ulama., taqwa adalah hendaklah Allah tidak melihatmu berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilanganmu dalam perintah-perintah-Nya. Ulama lain mmendifinisikan taqwa dengan mencegah diri dari adzab Allah dengan membuat amal sholeh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan
 
Perhatian Al Qur’an terhadap sifat taqwa begitu besar, perintah dan dukungan untuk melaksanakannya banyak kita temukan dalam ayat-ayatnya, bahkan hampir disetiap halaman akan kita temukan kalimat taqwa.

Para shahabat dan salafus shaleh yang memahami betul tuntunan Al Qur’an mempunyai perhatian besar terhadap taqwa, terus berusaha mencari hakikatnya , saling bertanya satu sama lainnya dan berusaha mendapatkannya, dalam suatu riwayat yang shahih disebutkan bahwa Umar bin Khattab ra. Bertanya pada Ubai bin Ka’ab tentang taqwa. Ubai bin Ka’ab menjawab:

“Bukankah engkau pernah melewati jalan yang penuh duri?”
“Ya”, jawab Umar
“Apa yang engkau lakukan saat itu?”
“Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati”,
“Itulah taqwa”.

Berpijak dari jawaban Ubai bin Ka’ab atas pertanyaan Umar bin Khattab tersebut saya mencoba menyitir kata-kata Sayyid Qutb dalam tafsir “Fi Zhilalil Qur’an”
“Itulah taqwa, kepekaan bathin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan…, jalan kehidupan yang selalu dityaburi dengan duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semu atasa segala sesuatu yang tidak bias diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas ditakuti…, dan masih banyak duri lainnya”.

Cukuplah kiranya, keutamaan dan pengaruh taqwa merupakan sumber segala kebaikan dimasyarakat, sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kerusakan, kejahatan, kemaksiatan dan perbuatan dosa, Bahkan taqwa merupakan pilar utama dalam pembinaak jiwa dan akhlak seseorang dalam rangka menghadapi fenomena kehidupan, agar kita bias membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta agar kita bersabar atas segala ujian dan cobaan.

Itulah hakekat taqwa dan itulah pengaruhnya yang sangat menentukan dalam pembentukan pribadi dan jama’ah atau bersama. Disini kita cukup membahas factor-faktor terpenting yang bias menumbuh suburkan taqwa, mengokohkan dalam hati dan jiwa seseorang mu’min serta menyatukan dengan perasaan. Semoga kita bias mengikuti jejak menuju taqwa dan semoga mendapatkan yang terbaik. Amin ya Rabbal Alamin.





Rabu, 08 Desember 2010

Selamat Tahun Baru 1432 H

Hari ini kita berada dipenghujung tahun 1431 H
segera menyambut hadirnya tahun 1432 H
kita tidak perlu pesta dan hura-hura seperti mereka
tapi cukuplah bermusahabah dan mengevaluasi diri
dan memohon ampunan atas dosa dan kesalahan
kepada Allah Ta' Alla yang Maga Pengampun

Saudaraku....
Hari berganti hari, bulan berganti bulan
Tahunpun ikut berlalu seiring berjalannya waktu
Tak terasa usia makin bertambah
Kesempatan hidup makin menyusut
Kesempatan beramalpun makin tersita
Waktu ibarat pedang, jika kita tidak bisa mempergunakannya
maka waktu yang akan menggelincirkan kita
Jika kita tidak menyibukkan dengan kebenaran
maka kita akan disibukkan dengan kebatilan

Sehari ada 24 jam
berbagai kenikmatan telah diberikan-Nya
tidak lebih dari tiga persen waktu yang diminta dari kita
untuk menunaikan ibadah fardu kepada-Nya
Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat)." (Al-Hasyr: 18)

Sudahkah kewajiban itu kita penuhi…?
Atau justru kita makin larut dengan rutinitas sehari-hari
Hingga merasa diri ini tak akan pernah mati
Padahal “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga
maka sungguh ia telah beruntung “ (Ali Imran : 185)

Saudaraku…!
Mari sejenak instrospeksi dan koreksi diri
Berapa banyak waktu digunakan untuk kepentingan duniawi
Berapa banyak waktu yang dipersembahkan untuk Illahi
Sesungguhnya baik buruknya kehidupan diakherat kelak
Tergantung dari cara hidup kita didunia
Barang siapa mengejar dunia maka hanya dunia yang didapatkannya
Barang siapa mengejar akherat, maka dunia dan akherat akan didapatkannya
sesungguhnya kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal
"Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,
tentang apa yang mereka kerjakan dahulu." (Al-Hijr: 92-93)

Ya Allah….., Sungguh kami manusia yang dzalim
Hanya pandai menuntut hak atas kenikmatan surga-Mu
Akan tetapi kami masih suka bermalasan
Sering lalai menunaikan kewajiban
Masih sering bermain-main dengan waktu
Serta menunda-nunda untuk beribadah kepada-Mu
Masih suka mendahulukan kepentingan duniawi
Dibanding kepentingan akherat yang hakiki
Padahal Allah telah berfirman
Sesungguhnya kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran :185)
“Maka Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu
dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu
dalam (mentaati) Allah” (Luqman : 33)

Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu
dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut
menyia-nyiakan usia dan dari sifat kikir
Aku juga berlindung kepada-Mu
dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian

Saudaraku…!
Setiap kehidupan pasti ada kematian
Kematian adalah suatu misteri yang tidak bisa diprediksi
Kita tidak pernah tahu maut kan menjemput
Pernahkah berpikir kematian akan datang sesegera mungkin
Sementara kita meyakini adanya kematian
Tapi kita tidak segera mempersiapkan menghadapi kematian
Kita meyakini atas kenikmatan surga
Tapi masih malas beribadah agar bisa masuk surga
Kita meyakini atas pedihnya siksa neraka
Tapi enggan meninggalkan maksiat agar terhindar dari api neraka
Sesungguhnya orang yang perkasa adalah
Orang yang banyak mengingat kematian
Dan yang sungguh-sungguh dalam mempersiapkan
Dan menghadapi datangnya kematian

Sudahkah kita mempersiapkannya
Dan sejauh mana persiapan kita untuk menghadap sang khaliq
Sementara banyak waktu kita yang terbuang dengan sia-sia
Dan totalitas ibadahpun masih diragukan
Apa lagi yang bisa kita banggakan dihadapan Allah
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungjawabannya." (Al-Israa': 36)


Ya Allah yang Maha Pengampun
Ampunilah atas kebodohan kami
Hamba yang tidak pandai bersyukur
Tidak merasa puas atas rizki yang Engkau berikan
Tidak merasa puas dengan kenikmatan yang Engkau curahkan
Padahal setiap hembusan nafas adalah kehidupan
Setiap pandangan mata adalah keindahan
Setiap langkah adalah kekuatan
Suami/istri yang amanah adalah anugerah terindah
Anak-anak yang shaleh dan sholehah adalah harta dan kebanggaan

Ya Tuhan kami...!
Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri
Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada Kami
Niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi
(Q.S. Al-‘Araf : 23)

Ya Tuhan kami
Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan
Sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami
Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau
Karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)
(QS. Ali Imran : 8)

Ya Tuhan kami
Hanya kepada Engkaulah Kami bertawakal
Dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat
Dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali
Ya Tuhan Kami
Janganlah Engkau jadikan Kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir
Dan ampunilah Kami Ya Tuhan kami
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
(Q.S. Al Mumtahanah : 4-5)

Ya Tuhan Kami
Ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan
Dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami
Dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir
(Q.S. Ali Imran : 147)

Tidak ada Tuhan selain Engkau
Maha Suci Engkau sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim
(QS. Al Anbiyaa' : 87)

Ya Rabb kami
Beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami
Yang telah beriman lebih dulu dari kami
Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
Terhadap orang-orang yang beriman
Ya Rabb kami...!
Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang
(Q.S. Hasyr : 10)

Ya Tuhan kami
Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
Sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami
Ya Tuhan kami
Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya
Beri ma'aflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami Engkaulah Penolong kami
Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir
(QS. Al Baqarah : 286)

Ya Tuhanku
Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau
Dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya
Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku
Dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku
Niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi
(QS. Huud : 47)

Aku berlidung kepada-Mu
Dari segala kejelekan yang aku perbuat kepada-Mu
Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku
Sementara aku senantiasa berbuat dosa
Maka ampunilah dosa-dosaku
Sebab tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau
(Imam Bukhari dan Muslim)

Ya Allah, Tuhan kami
Sesungguhnya raga ini amat lemah
Tidak sebanding dengan kekuatan adzab-Mu
Maka kami berharap limpahan kasih sayangmu
Yang bisa menyelamatkanku dari nerakamu
Kami hanya bisa menunduk dan bersujud dihadapan-Mu
Hanya berharap pada ampunan-Mu

Ya Allah,
kepada-Mulah aku berserah diri
dan kepada-Mulah aku beriman
terhadap-Mu aku bertawakkal
dan kepada-Mu aku kembali
serta dengan (pertolongan) Engkau aku berperang.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu
tidak ada Tuhan selain Engkau,
agar Engkau tidak menyesatkan aku
Engkaulah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati
sedang jin dan manusia semuanya akan mati".
(Shahih Muslim No.4894)

Ya Allah Ya Rabb....
berilah kebaikan di dunia dan di akhirat
dan hindarkan dari siksa api neraka..

Amin yaa Rabbal Alamin....



Insan Robbani

Kamis, 28 Oktober 2010

Maksud Kebutaan Pada Hari Kiamat

"Dan Kami mengumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan kami dalam keadaan buta, padahal aku dulu (di dunia) dapat melihat." (Thaahaa: 124-125)

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud buta dalam ayat di atas, apakah buta hati atau buta mata? Mereka yang berpendapat bahwa itu adalah buta hati mengambil dalil dari firman Allah SWT,
"Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami." (Maryam: 38)

Dan firman-Nya,
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari hal ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, hingga penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (Qaaf: 22)

"Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa." (al-Furqaan: 22)

"Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'aunul yakin." (at-Takaatsur: 5-7)

Ayat-ayat semisalnya yang menegaskan bahwa pada hari kiamat manusia akan melihat dengan mata kepala adalah,
"Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan duduk karena (merasa) hina. Mereka melihat dengan pandangan lesu." (asy-Syuuraa: 45)

"Pada hari mereka didorong ke neraka dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakaanya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" (ath-Thuur: 13-15)

"Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya." (al-Kahf: 53)

Sedangkan kelompok yang berpendapat bahwa buta yang dimaksud adalah buta mata, mengatakan bahwa susunan kalimat dalam surah Thaahaa ayat 124-125 hanyalah menunjukkan kebutaan mata kepala. Hal ini sebagaimana terlihat dalam kata-kata,

"Dia berkata, 'Ya Tuhan mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulu melihat?'" (Thaahaa: 125)

Jadi orang tersebut tahu bahwa ketika di dunia ia buta dari kebenaran bukannya buta matanya, sehingga ia mengatakan, "Dan sungguh dulu aku melihat." Lalu bagaimana ketika kata-katanya itu dijawab dengan firman-Nya,
"Demikianlah, karena kamu telah didatangi ayat-ayat kami, lalu kamu melupakannya. Maka, demikian pula hari ini kamu dilupakan." (Thaahaa: 126)

Jawaban ini menunjukkan bahwa kebutaan di akhirat tersebut adalah buta mata. Ini adalah balasan baginya yang setimpal dengan perbuatannya. Yaitu, ketika dia enggan mengikuti apa yang diwahyukan kepada Rasul-Nya dan mata hatinya buta, maka pada hari kiamat Allah SWT membutakan matanya. Allah SWT membiarkannya di dalam siksaan karena dia telah meninggalkan petunjuk-Nya di dunia.

Karena itu, Allah membalas kebutaaan hatinya dengan kebutaan matanya pada hari kemudian. Dia membalas keengganannya mengikuti petunjuk dengan membiarkannya tersiksa dalam azab. Ini juga sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunju. Dan barangsiapa yang Dia sesatkan, maka sekali-kali dia tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli." (al-lsraa: 97)

Akan tetapi, kelompok lainnya mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah mereka buta, bisu dan tuli dari petunjuk, bukan buta, bisu, dan tuli yang sesungguhnya. Hal ini juga mereka katakan pada ayat,

"Dan Kami mengumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Thaahaa: 124)

Kelompok ini mengatakan bahwa pada hari kiamat orang-orang tersebut berbicara, mendengar, dan melihat.
Kelompok lainnya lagi berpendapat hahwa kebutaan, kebisuan, dan ketulian tersebut bersifat terbatas tidak mutlak. Artinya, mereka hanya tidak bisa melihat dan mendengar apa yang membahagiakan mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ia berkata, "Mereka tidak melihat sesuatu yang dapat menyenangkan mereka."

Ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang tersebut dikumpulkan dalam keadaan buta ketika para malaikat mencabut nyawa mereka dan ketika mereka dikeluarkan dari kehidupan dunia, serta ketika mereka bangkit dari kubur menuju ke padang mahsyar. Baru setelah itu mereka dapat mendengar dan melihat. Pendapat ini diriwayatkan dari Hasan Bashri.
Pendapat lain mengatakan bahwa kebutaan ini terjadi tatakala mereka memasuki neraka dan berada di dalamnya. Pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bicara dicabut dari mereka tatkala Allah SWT berkata kepada mereka,

"Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (al-MiTminuun: 108)

Ketika itu harapan mereka terputus dan akal mereka tidak berfungsi. Menjadilah mereka semua orang buta, bisu, dan tuli. Mereka tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak berbicara. Tidak ada yang terdengar dari mereka kecuali embusan dan tarikan nafas. Pendapat ini dinukil dari Muqatil bin Sulaiman.

Sedangkan yang dimaksud oleh pendapat yang mengatakan bahwa mereka buta dari argumen, adalah bahwa mereka tidak mempunyai argumentasi sama sekali, bukan maksudnya mereka memiliki argumen dan mereka tidak mampu melihatnya. Akan tetapi, yang dimaksud pendapat ini adalah bahwa mereka buta dari petunjuk sebagaimana keadaan mereka di dunia yang buta dari petunjuk tersebut. Pendapat ini dikuatkan dengan alasan bahwa manusia mati sesuai dengan kondisinya ketika hidup, dan akan dibangkitkan sesuai dengan kondisinya ketika mati.

Dari seluruh paparan di atas, maka tampak bahwa pendapat yang benar adalah kebutaan tersebut kebutaan mata kepala. Pasalnya pada hari kiamat orang kafir mengetahui akan kebenaran dan mengakui apa yang dia dustai ketika di dunia. Oleh karena itu, pada hari kiamat orang kafir tersebut tidak buta dari kebenaran.

Adapun al-hasyr (pengumpulan) terkadang yang dimaksud adalah ketika dikumpulkan pada hari kiamat, seperti sabda Rasulullah saw.,
"Sesungguhnya kalian dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang pakaian, dan tidak dikhitan." (HR Bukhari dan Muslim)

Dan firman Allah SWT,
"Dan ingatlah ketika binatang-binatang buas dihimpun." (at-Takwir: 5)

"Dan Kami kumpulkan mereka dan tidak meninggalkan satu pun juga." (al-Kahfi: 47)

Dalam ayat ini, yang dimaksud dengan al-hasyr adalah bahwa mereka dihimpun, dikumpulkan, dan digiring menuju tempat kediaman yang abadi. Bagi orang-orang yang bertakwa, maka mereka dihimpun dan digiring menuju ke surga. Sedangkan orang-orang kafir dikumpulkan dan digiring menuju neraka. Allah SWT berfirman,

"(Ingatlah) hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat." (Maryam: 85)

"(Kepada para malaikat diperintahkan), 'Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah, maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.'" (ash-Shaffaat: 22-23)

Dalam ayat ini, al-hasyr (pengumpulan) tersebut adalah setelah mereka dikumpulkan di Padang Mahsyar, yaitu ketika mereka dikumpulkan di neraka, karena sebelumnya Allah SWT berfirman,
"Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita, Allah berkata, 'Inilah hah pembalasan. Inilah hah keputusan yang selalu kamu dustakan.'" (ash-Shaffaat: 20-21)

Kemudian Allah SWT berfirman,
"Kepada malaikat diperitahkan, 'Kumpulkanlah orang-orang yangzalim beserta teman sejawat mereka.'" (ash-Shaffaat: 22)

Penghimpunan dalam ayat terakhir ini, adalah penghimpunan yang kedua. Dengan demikian, orang-orang zalim mereka "berada di antara dua al-hasyr (penghimpunan). Pertama, ketika mereka digiring dari kubur menuju Padang Mahsyar. Kedua, dari Padang Mahsyar menuju neraka. Ketika dikumpulkan pertama kali mereka mendengar, melihat, berdebat, dan berbicara. Sedangkan, ketika dikumpulkan kedua kalinya mereka dikumpulkan dan diseret di atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Jadi setiap kondisi mempunyai bentuk penyiksaan yang cocok dan yang sesuai dengan keadilan Tuhan.
Dan ayat-ayat Al-Qur'an saling mendukung satu sama lainnya,

"Seandainya Al-Qur'an ini bukan dari sisi Allah, pasti mereka mendapatkan pertentangan yang banyak." (an-Nisaa: 82)



Senin, 18 Oktober 2010

Taubat Nabi-nabi dalam Al-Qur'an

Al Quran telah menyebutkan kepada kita taubat Nabi-nabi dan orang-orang yang saleh atas perbuatan salah mereka. Mereka segera menyesal, bertaubat dan beristighfar dari kesalahan itu. Dengan berharap agar Allah SWT mengampuni dan meneriman taubat mereka.
Pemimpin orang-orang yang taubat adalah nenek moyang manusia, Adam a.s. Yang telah Allah SWT jadikan dia dengan tangan-Nya dan meniupkan ke dalam dirinya secercah dari ruh-Nya, memerintahkan malaikat untuk sujud kepadanya, mengajarkan kepadanya seluruh nama-nama, serta menampilkan keutamaannya atas malaikat dengan ilmu pengetahuannya. Namun Adam yang selamat dalam ujian ilmu pengetahuan, tidak selamat dalam "term pertama" ujian iradah (mengekang hawa nafsu). Allah SWT mengujinya dengan beban pertama yang ditanggungkan kepadanya. Yaitu melarang untuk memakan suatu pohon. Hanya satu pohon yang dilarang untuk dimakannya, sementara memberikan kebebasan baginya untuk memakan seluruh pohon surga sesuka hatinya, bersama isterinya. Di sini tampak ia tidak dapat menahan keinginan pribadinya, serta melupakan larangan Rabbnya dengan dipengaruhi bujuk rayu syaitan dan tipu dayanya, sehingga dia pun memakannya dan dia pun terjatuh dalam kemaksiatan. Namun secepatnya dia mencuci dan membersihkan dirinya dari bekas-bekas dosa itu, dengan taubat dan istighfar.
"Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." (QS. Thaaha: 121-122)
Al Quran menceritakan kepada kita tentang taubat Musa yang dipilih Allah untuk membawa risalah-Nya dan menerima kalam-Nya. Serta Allah SWT menurunkan taurat kepadanya, menjadikannya sebagai salah satu ulul 'azmi dari sekian rasul, serta membekalinya dengan sembilan ayat-ayat penjelas. Namun ia telah melakukan dosa sebelum mendapatkan risalah. Yaitu karena menuruti permintaan seseorang dari kaumnya yang sedang bertengkar dengan kaum Fir'aun untuk membantunya, maka kemudian Musa memukulnya dan orang itupun tewas seketika.
"Musa berkata: Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan adalah musuh yang menyesatkan, lagi nyata (permusuhannya). Musa mendo'a: Ya Tuhanku, sesungguhya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al Qashash: 15-16)
Beliau juga telah melakukan kesalahan setelah menerima risalah, ketika beliau berkata:
"Berkatalah Musa: Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku melihat kepada Engkau. Tuhan berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sedia kala) niscaya kamu dapat melihatKu. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh, dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman." (QS. al A'raaf: 143)
Di sini, Allah SWT berfirman:
"Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu. Sebab itu berpegan teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. al A'raaf: 144)
Ketika Musa kembali kepada kaumnya setelah beliau melakukan munajat kepada Rabbnya selama empat puluh malam, dan mendapati kaumnya telah menyembah anak sapi yang dibuat oleh Samiri, dan menjadikan anak sapi itu sebagai tuhan yang disembah, maka amarah beliaupun segera meledak. Dan bersabda: "alangkah buruknya perlakuan kalian sepeninggalku". Kemudian beliau melemparkan lembaran-lembaran yang terdapat di dalamnya Taurat kalam Allah. Beliau melemparkan lembaran itu ke tanah, padahal di dalamnya terdapat firman-firman Allah. Kemudian menarik kepala saudaranya, Harun, kepadanya, padahal ia juga adalah rasul sepertinya jua. Dan saudaranya itu berkata kepadanya: "Wahai saudara seibuku, mengapa engkau tarik jenggot dan kepalaku, karena kaum kita itu menganggap aku lemah, dan mereka hampir membunuhku, maka janganlah engkau jadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah jadikan aku dari kelompok orang yang zhalim.
Di sini Musa menyadari kemarahannya itu, meskipun marahnya itu karena Allah SWT.
"Musa berdo'a: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan sauadaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. al A'raaf: 151)
Al Quran juga menceritakan tentang taubat Nabi Yunus a.s. Ketika beliau berdakwah kepada kaumnya untuk menyembah Allah SWT namun mereka tidak menuruti dakwahnya itu. Maka Nabi Yunus tidak merasa sabar menghadapi itu, dan marah terhadap kaumnya, kemudian beliaupun pergi meninggalkan mereka. Kemudian Allah SWT ingin menguji beliau dengan cobaan yang dapat membersihkannya, dan menampakkan sifat aslinya yang bagus. Serta sejauh mana keyakinanya terhadap Rabbnya dan kejujurannya dengan Rabbnya. Beliau kemudian menaiki sebuah kapal laut, di tengah laut kapal itu dihantam angin besar, dan dipermainkan oleh ombak, dan mereka merasa bahwa mereka sedang berada dalam bahaya yang besar. Para anak buah kapal berkata; kita harus mengurangi beban kapal sehingga kapal ini tidak tenggelam. Dan akhirnya mereka harus memilih untuk menceburkan sebagian orang yang berada di atas kapal itu agar para penumpang yang lain selamat dari ancaman tenggelam itu. Hal itu dilakukan dengan sistem undian. Kemudian undian itu jatuh kepada Yunus, dan beliaupun harus mengikuti nasibnya itu. Maka beliaupun dilemparkan ke laut, dan kemudian ditelan oleh seekor ikan paus, sambil mendapatkan kecaman karena ia marah terhadap kaumnya serta meninggalkan mereka, karena putus harapan atas mereka. Tanpa berupaya untuk terus mengulangi usahanya itu. Di dalam perut ikan paus itu, keyakinan Yunus kembali menguat, dan beliau berdo'a dalam kegelapan yang menyelimutinya itu: kegelapan laut, kegelapan malam, dan kegelapan perut ikan paus, dengan kalimat-kalimat yang direkam oleh Al Quran ketika bercerita dengan ringkas tentang Yunus ini:
"Dan (ingatlah) kisah Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya atau menyulitkannya, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan do'anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al Anbiyaa: 87-88)
Tiga kalimat pendek yang dipergunakan oleh Yunus a.s., namun ketiganya mempunyai pengertian yang besar:
Pertama: menunjukkan atas tauhid --tauhid uluhiyah--, yang dengnnya Allah SWT mengutus para Rasul, menurunkan kitab-kitab, dan dengannya pula berdiri surga dan neraka: "La Ilaha Illa Anta" "tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau".
Kedua: menunjukkan pembersihan Allah SWT dari seluruh kekurangan. Ini adalah makna tasbih yang dilakukan langit dan bumi dan seluruh makhluk. Karena segala sesuatu bertasbih dengan memuji-Nya. "Subhaanaka" "Maha Suci Engkau".
Ketiga: Menunjukkan pengakuan atas dosa yang dilakukan. Tidak menjalankan hak Rabbnya dengan sempurna serta menzhalimi diri sendiri karena sikapnya itu. "Inni kuntu minazh zhaalimiin" "sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim " ini adalah tanda sebuah taubat.
Tidak heran jika kata-kata yang pendek namun jujur dan ikhlas itu segera mendapatkan jawabannya di dunia ini, sebelum di akhirat:
"Maka Kami telah memperkenankan do'anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al Anbiya: 88)
Dan kata-kata yang mengandung tiga hal ini: peng-esaan, pembersihan dan pengakuan, menjadi contoh bagi pujian dan do'a ketika terjadi kesulitan. Hingga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia mensahihkannya diriwayatkan:
"Do'a saudaraku Dzun Nun (Nabi Yunus) yang jika dibaca oleh orang yang sedang tertimpa bencana nisaya Allah SWT akan menghilangkan bencana dan kesulitannya itu: "Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang melakukan kezaliman".
Al Quran juga menuturkan kepada kita tentang cerita taubat nabi Daud a.s. seperti diceritakan dalam surah Shaad. Yaitu ketika dua orang yang sedang berselisih datang kepada beliau, dan memasuki mihrab beliau, sehingga beliau terkejut melihat kedua orang itu. Keduanya kemudian berkata:
"Janganlah kamu merasa takut (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain ; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukkilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini, mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku, dan ia mengalahkan aku dalam perdebatan. Daud berkata: Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shaad: 22-25)
Kita lihat, apa kesalahan Nabi Daud dalam kisah ini, yang dia sangka sebagai fitnah, dan cobaan bagi beliau, kemudian beliau beristighfar kepada Rabbnya, serta tunduk sujud dan memohon ampunan.
Yang tampak dalam kisah itu adalah: Nabi Daud a.s. bertindak dengan tergesa-gesa serta tidak meneliti dahulu secara mendalam, sehingga beliau terpengaruhi oleh dorongan emosi ketika mendengar perkataan salah seorang yang sedang berselisih itu. Dan secara tergesa-gesa memutuskan hukum dengan merugikan pihak lain, tanpa terlebih dahulu mendengar alasan-alasannya, dan memberikan kesempatan kepadanya untuk membela dirinya sendiri. Seorang hakim yang adil hendaknya tidak terperdaya oleh ucapan satu pihak yang sedang berselisih atau penampilannya. Hingga ia telah meneliti dan menyelidikinya dengan seksama, dan mendengar dari seluruh pihak yang berselisih dan adanya dalil yang mendukung ucapan masing-masing. Oleh karena itu ada yang mengatakan: Jika salah seorang yang sedang berselisih datang kepadamu dan sambil memperlihatkan satu matanya yang luka, maka tunggullah hingga engkau juga melihat lawan perkaranya, karena barangkali justru lawannya itu kedua matanya luka!
Oleh karena itu, datang perintah Tuhan agar Daud tidak cepat terpengaruh oleh emosinya dalam menetapkan suatu hukum. Dalam firman Allah SWT:
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia denga adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. Shaad: 26)
Apakah kedua orang yang sedang berselisih itu adalah memang manusia, atau dua malaikat yang menyamar sebagai manusia, datang untuk menguji nabi Daud, kemudian keduanya lenyap tanpa bekas?
Apapun kemungkinannya, namun pengertian dan tujuannya adalah sama. Namun itu tidak dapat dijadikan sebagai suatu bentuk metafor, dan sebagai sindiran bagi Daud sendiri, karena ia menginginkan istri tetangganya sendiri, seperti digambarkan oleh kisah-kisah Israiliat yang menampilkan dengan buruk perjalanan para Rasul dan Nabi-nabi. Hingga dalam kisah Israiliat itu para Nabi telah jatuh dalam tindakan-tindakan yang orang biasa saja tidak mau melakukannya, maka bagaimana mungkin terjadi bagi seseorang yang Allah SWT tundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya pada sore dan pagi hari. Tentangnya Allah SWT berfirman:
"Dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan)".
"Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik".
Ayat-ayat yang berkaitan dengan taubat banyak terdapat dalam al Quran, dan dalam halaman selanjutnya ayat-ayat itu akan kami ungkapkan. Insya Allah.


Taubat Yang Tertolak

Para ulama saling berbeda pendapat, apakah di antara berbagai macam dosa, ada dosa yang taubatnya tidak diterima ataukah taubat dari dosa apapun diterima?
Menurut Jumhur, taubat harus dilakukan untuk setiap dosa. Setiap dosa memungkinkan untuk dimintakan ampunan dengan bertaubat. Adapula golongan yang mengatakan, bahwa taubat pembunuh tidak diterima. Ini termasuk pendapat Ibnu Abbas dan salah satu riwayat dari Ahmad. Bahkan Ibnu Abbas harus berdebat dengan rekan-rekannya, yang mengatakan, "Bukankah Allah telah befirman dalam surat Al-Furqan: 68-70,
'Dan, orang-orang yang tidak menyembah sesembahan yang lain beserta Allah dan tidak pula membunuh jiwa yang diharamkan Allah...' sampai, 'kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan? "Ibnu Abbas menyanggah, "Ayat ini berkaitan dengan perbuatan dimasa Jahiliyah. Pasalnya, ada beberapa orang musyrik yang dulu pernah melakukan tindak pembunuhan dan juga pernah berzina. Lalu mereka menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, seraya berkata, 'Apa yang engkau serukan itu benar-benar bagus. Andaikan saja engkau memberitahukan kepada kami tentang suatu tebusan dari apa yang pernah kami lakukan'. Maka turunlah ayat ini. Jadi, ayat ini berkenaan dengan diri mereka. Sementara dalam surat An-Nisa' telah disebutkan firman Allah, 'Dan, barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya'. Jika seseorang mengetahui Islam dan syariatnya, lalu dia membunuh dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam."
Menurut golongan ini, karena membunuh orang Mukmin secara sengaja tidak bisa diterima dan tidak ada cara untuk meminta pembebasan darinya, apalagi mengembalikan nyawanya. Taubat dari hak manusia tidak dianggap sah kecuali dengan salah satu dari dua cara ini. Sementara keduanya tidak bisa lagi dilakukan oleh pembunuh. Berbeda dengan harta, yang sekalipun pemiliknya sudah meninggal dunia, maka orang yang merampasnya masih bisa menyampaikan manfaat harta itu kepada pemiliknya yang sudah meninggal, dengan cara menshadaqahkannya. Mereka juga berkata, "Kami tidak menolak pendapat bahwa syirik itu lebih besar dosanya daripada tindak pembunuhan, dan taubat dari syirik itumasih bisa dilakukan. Tapi taubat dari syirik ini berkait dengan hak Allah, dan memohon ampunan dari-Nya masih memungkinkan. Tapi kaitannya dengan hak manusia, maka taubatnya tergantung pada pengembalian hak itu atau meminta pembebasan darinya.
Jumhur yang berpendapat bahwa taubat dari dosa apa pun bisa diterima, berhujjah dengan firman Allah, "Dan, sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih kemudian tetap di jalan yang benar." (Thaha: 82).
Jika pembunuh itu bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka Allah akan mengampuni dosanya. Juga telah disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tentang orang yang pernah membunuh seratus orang kemudian bertaubat, dan ternyata taubatnya itu diterima. Ada beberapa hadits lain yang menyatakan hal yang sama. Tentang surat An-Nisa': 93, bahwa orang yang membunuh orang Mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahannam, banyak nash lain yang senada dan yang di dalamnya disebutkan ancaman seperti itu, seperti firman-Nya,
"Dan, barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkan-Nya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan." (An-Nisa': 14).
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,"Barangsiapa membunuh dirinya sendiri dengan sepotong besi, maka besi itu akan menghunjam dirinya, dia kekal dan dikekalkan di neraka Jahannam."
Manusia saling berbeda tentang nash semacam ini. Di antara mereka ada yang mengartikannya menurut zhahirnya, bahwa pelakunya akan kekal di dalam neraka. Ini merupakan pendapat golongan Khawarij dan Mu'tazilah. Dalam hal ini pun mereka juga saling berbeda pendapat. Khawarij mengatakan, mereka itu sama dengan orang kafir, karena yang kekal di dalam neraka hanya orang kafir. Mu'tazilah berpendapat, mereka bukan orang-orang kafir, tetapi orang-orang fasik yang juga kekal di dalam neraka, jika mereka tidak bertaubat. Golongan lain berpendapat, siapa yang melakukannya yakin tentang pengharamannya, maka dia tidak mendapat ancaman ini (kekal di dalam neraka), sekalipun dia tetap mendapat ancaman masuk neraka. Kemudian ada perbedaan pendapat tentang pembunuh yang bertaubat dan dia menyerahkan diri untuk dijatuhi hukuman setimpal (qishash). Apakah pada hari kiamat korbannya masih mempunyai hak untuk menuntut atas dirinya?
Satu golongan berpendapat, pembunuh itu tidak lagi mempunyai dosa yang harus ditanggungnya di hadapan korban pada hari kiamat, sebab memang hukum qishashlah yang harus diterapkan kepadanya. Hukuman merupakan tebusan bagi pelakunya. Dengan cara itu seakanakan dia telah memenuhi hak warisan korban terhadap ahli warisnya dengan cara mengorbankan dirinya. Sebab tidak ada bedanya apakah seseorang memenuhi hak orang lain lewat dirinya atau wakilnya. Golongan lain berpendapat, korban telah dizhalimi dan kehilangan hak-haknya. Sementara dia juga tidak tahu apa yang terjadi setelah dia dizhalimi, sekalipun kemarahan ahli warisnya dapat dipadamkan. Tapi manfaat apa yang diperoleh korban? Hak dalam pidana pembunuhan itu ada tiga macam: Hak Allah, hak korban dan hak waris. Hak Allah tidak terpenuhi kecuali dengan taubat. Hak ahli waris bisa terpenuhi dengan meminta pelaksanaan hukuman sehubungan pembunuhan itu. Ada tiga pilihan untuk ini: Pelaksanaan qishash, ampunan tanpa disertai tebusan harta, dan tebusan harta. Sekalipun ahli waris sudah menerima tebusan dari pembunuh, hak korban belum terpenuhi secara total. Sebab bagaimana mungkin haknya sudah terpenuhi, jika ini merupakan salah satu dari tiga cara pemenuhan hak? Andaikata korban dapat berkata, "Jangan-lah kalian membunuhnya, karena aku akan menuntutnya sesuai dengan hakku pada hari kiamat, namun nyatanya mereka membunuhnya, apakah dengan begitu hak korban dianggap gugur? Yang benar dalam masalah ini menurut hemat saya, dan Allah le-bih mengetahui mana yang benar, jika pembunuh bertaubat sebagai pemenuhan terhadap hak Allah, dan dengan suka rela dia menyerahkan dirinya kepada ahli waris, agar dengan begitu dia dapat memenuhi hak korban, maka dua hak telah dia penuhi. Kini tinggal hak korban yang belum terpenuhi, yang tentunya Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Namun ampunan Allah yang diberikan kepada pembunuh sudah dianggap sebagai pengganti dari hak korban, sebab apa yang dialaminya juga tidak bisa dihalangi dengan membunuh pembunuhnya. Taubat yang sebenar-benarnya sudah cukup untuk menghapus dosa di masa lampau dan hal ini menjadi pengganti dari kezhalimannya, sehingga dia tidak dijatuhi hukuman karena kesempurnaan taubatnya. Hal ini seperti orang kafir yang pernah memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membunuh orang Muslim. Namun jika kemudian dia masuk Islam dan Islamnyabagus, maka Allah akan memberikan pengganti kepada korban yang dibunuhnya dan mengampuni orang kafir yang masuk Islam itu, karena keislamannya. Dia tidak dihukum karena pernah membunuh orang Muslim secara zhalim. Taubat yang menghapus dosa sebelumnya, sama seperti Islam yang menghapus dosa seseorang sebelum masuk Islam.

Sabtu, 03 April 2010

Kebebasan Dalam Islam

Di antara nilai-nilai kemanusiaan yang juga sangat diperhatikan oleh Islam adalah "kebebasan," yang dengannya dapat menyelamatkan manusia dari segala bentuk tekanan, paksaan, kediktatoran dan penjajahan. Selain itu juga bisa menjadikan manusia sebagai pemimpin dalam kehidupan ini, tetapi pada saat yang sama ia juga sebagai hamba Allah.

Kebebasan di sini meliputi: kebebasan beragama, kebebasan berfikir, kebebasan berpolitik, kebebasan madaniyah (bertempat tinggal) dan segala bentuk kebebasan yang hakiki dalam kebenaran .

Yang kita maksud dengan kebebasan agama adalah kebebasan dalam beraqidah (berkeyakinan) dan kebebasan melakukan ibadah. Maka tidak diterima keislaman seseorang di saat ia dipaksa untuk meninggalkan agama yang ia cintai dan ia peluk, atau dipaksa untuk memeluk agama yang tidak ia sukai."ash-nash Al Qur'an secara terang-terangan melarang tindakan seperti itu, sebagaimana tersebut dalam ayat Makkiyah:

"Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" (Yunus: 99)

Atau sebagaimana disebutkan di dalam ayat-ayat Madaniyah sebagai berikut:

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat." (Al Baqarah: 256)

Siapa saja dari orang-orang di luar Islam yang berada dalam tanggung jawab kaum Muslimin maka dia telah mendapat hak seperti kaum Muslimin secara umum, dengan beberapa pengecualian yang ditentukan oleh agama. Maka tidak wajib baginya segala sesuatu yang diwajibkan kepada kaum Muslimin, dan tidak terlarang baginya sesuatu yang diharamkan kepada kaum Muslimin. Dengan beberapa pembatasan tertentu sesuai syari'at Islam.

Ada sebagian manusia yang menulis pada zaman ini, ia mengatakan bahwa sesungguhnya warisan Khasanah Arab dan Islam tidak mengenal adanya kebebasan dengan pemahaman modern sebagaimana yang kita dapatkan dari barat, tepatnya setelah revolusi Perancis. Akan tetapi Islam hanya mengenal makna kemerdekaan (kebebasan) itu dalam arti sekedar tidak memperbudak saja, hingga orang yang merdeka adalah orang yang bukan budak. Dan kemerdekaan itu adalah kebalikan dari perbudakan dan penghambaan.

Maka sangat memprihatinkan ketika kita mempercayai adanya kebebasan atau menyerukan kebebasan dengan mengacu pada Perancis, padahal sebelumnya kita tidak mengenalnya! Saya sungguh heran ketika mereka mengatakan seperti itu padahal mereka mengaku atau diakui sebagai intelektual atau ilmuwan.

Karena melihat fenomena seperti ini maka wajib bagi kita untuk menjelaskan beberapa hakikat kebenaran agar menjadi peringatan bagi semua pihak, antara lain sebagai berikut:

Pertama: kita tidak mengingkari bahwa asal mula dan hakikat secara bahasa dalam memberikan arti kata kemerdekaan adalah lawan dari perbudakan, yang berarti menguasai dan mendominasi terhadap seseorang. Sementara kemerdekaan berarti membebaskan dari kekuasaan tersebut dan melepaskan perbudakannya. Tetapi ini bukan arti satu-satunya dalam bahasa.

Kemerdekaan atau kebebasan memiliki arti yang luas yang juga berarti membebaskan manusia dari segala cengkeraman dan kekuasaan tidak benar, dari penguasa yang zhalim atau kekuatan yang diktator.

Makna ini sebagaimana dikatakan oleh Umar Bin Khattab kepada gubernur Mesir 'Amr bin 'Ash, yang kemudian kata-kata itu sempat terlupakan dalam timbunan sejarah. Umar berkata:

"Bilakah engkau memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka!?"

Kata-kata tersebut sekarang telah menjadi undang-undang dan deklarasi hak-hak asasi manusia. Ali bin Abi Thalib juga pernah berpesan kepada puteranya:

"Janganlah kamu menjadi budak orang lain, karena Allah telah menjadikan kamu merdeka."

Para penyair banyak mempergunakan kata-kata "kemerdekaan" dengan arti manusia terhormat, seperti kata seorang penyair sebagai berikut:

"Seorang hamba sahaya dipukul dengan tongkat, sedangkan orang yang mulia cukup dengan celaan."

Dalam pepatah dikatakan:

"Sabar adalah pahit, dan tidak ada yang sanggup menegaknya kecuali orang yang mulia."

Tidak adanya kata-kata atau istilah tertentu yang menunjukkan satu pengertian atau kandungan makna yang kita ketahui sekarang itu bukan berarti tidak adanya arti atau kandungan tersebut. Karena kadang-kadang arti itu kita dapatkan pada kata-kata atau istilah yang lain, kadang-kadang juga banyak digunakan dalam kata-kata atau istilah-istilah yang lainnya.

Misalnya, seorang peneliti tidak mendapatkan dalam khasanah kata kalimat "Al Musaawaat" (emansipasi) digunakan sebagaimana kita pergunakan sekarang ini.

Tetapi dengan pembahasan yang sederhana ia akan mendapatkan maknanya banyak tersebar di dalam ayat-ayat Al Qur'an Al Karim dan hadits-hadits Rasulullah SAW dan dalam berbagai ibadah dalam Islam. Seperti dalam shalat, puasa, haji dan umrah, dan di dalam hukum-hukum Islam dan sanksi-sanksinya yang tidak membedakan antara orang bangsawan atau orang rendahan, serta di dalam prinsip-prinsip Islam yang menghilangkan perbedaan antar jenis kelamin, warna kulit dan status sosial ekonomi, dan menjadikan manusia sama rata seperti samanya gigi sisir, kecuali oleh taqwanya.

Contoh dari hal tersebut di atas adalah kata-kata "Al Hurriyah" yang kadang-kadang diartikan dengan "karamah" (kemuliaan), seperti dalam firman Allah SWT:

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam." (Al Isra': 70)

Atau terkadang diartikan dengan 'izzah (kekuatan), seperti dalam firman Allah SWT:

"Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin." (Al Munafiqun: 7)

Atau dengan arti diharamkannya memaksa dan menghardik (membentak), seperti dalam firman Allah SWT:

"Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya." (Adh-Dhuha: 9-10)

Atau dengan arti menteror dan menakut-nakuti, seperti sabda Rasul SAW:

"Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti Muslim lainnya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Atau dengan arti diharamkannya memukul dan menyiksa, seperti sabda Rasulullah SAW:

"Barangsiapa mencambuk punggung seorang Muslim dengan tanpa kebenaran maka ia akan bertemu dengan Allah, sedang Allah murka kepadanya." (HR. Thabrani)

Atau dengan selain itu semuanya.

Lebih dari itu Islam menyeru kepada kita untuk berperang dan mengumumkan peperangan dalam rangka untuk membebaskan orang-orang yang tertindas di bumi ini dari cengkeraman para penindas, penjajah dan orang-orang yang diktator. Allah SWT berfirman:

"Mengapa kamu tidak rnau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik dari laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau." (An-Nisa': 75)

Apabila manusia tidak mampu untuk memberantas tekanan dan penindasan, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bisa hijrah dari kampung halaman mereka, dan tidak alasan atas diri mereka untuk menerima kehinaan dan tetap di bawah cengkeraman kezhaliman dan penindasan. Al Qur'an telah memberi ancaman yang keras bagi orang yang rela untuk hidup terhina dan menyerah, di mana ia tidak termasuk orang yang memerangi, dan tidak pula termasuk orang yang berhijrah bersama Muhajirin. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah)." Para Malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan õidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaaf lagi Maha Pengampun." (An-Nisa': 97-99)

Sesungguhnya orang yang memberikan haknya kepada Islam berupa pemahaman dan merenungkannya akan mendapatkan bahwa sesungguhnva inti dari semuanya adalah tauhid. Taubid adalah "ruh eksistensi Islam," tauhid merupakan asas pemikiran dan asas fiIsafat yang merealisasikan prinsip kebebasan, persaudaraan dan persamaan secara keseluruhan.

Kalimat tauhid adalah kalimat "Laa ilaaha illallah" yang berarti menggugurkan orang-orang yang mengaku tuhan dan yang diktator di bumi dan menurunkan mereka dari singgasana rubbubiyah yang palsu dan kesombongan (merasa tinggi) di atas makhluk sesamanya menuju persamaan hak antar manusia seluruhnya dalam beribadah kepada Allah.

Oleh karena itu surat-surat Nabi SAW dikirimkan kepada kaisar dan para pemimpin kaum Nasrani serta raja-raja mereka di Mesir, Habasyah (Ethiopia) dan lainnya ditutup dengan seruan firman Allah SWT:

Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (letetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lainnya sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Ali Imran: 64)

Sesungguhnya sesuatu yang paling besar perannya dalam menghancurkan kebebasan manusia dan yang datang untuk merusak bangunannya adalah penghambaan antar manusia satu dengan yang lainnya dari selain Allah. Kita dituntut agar dapat mengembalikan kemerdekaan dan kehormatan mereka, oleh karenanya kita harus menghancurkan tuhan-tuhan palsu yang mereka yakini, terutama di dalam jiwa orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai tuhan, padahal mereka adalah makhluk sebagaimana makhluk yang lain. Yang tidak bisa mendatangkan bahaya atau manfaat, yang tidak bisa mematikan dan menghidupkan serta tidak bisa membangkitkan.

Orang-orang musyrik Arab memahami akan hakikat tersebut sejak Rasulullah SAW pertama kali mendakwahkan tauhid dan syahadah bahwa tidak ada llah selain Allah. Mereka mengetahui bahwa di balik kalimat syahadah itu terdapat perombakan dalam kehidupan sosial masyarakat, dan sesungguhnya kalimat itu menginginkan kelahiran baru bagi anak manusia, terutama orang-orang fakir dan kaum yang tertindas. Maka tidak heran jika orang-orang musyrik itu berdiri di hadapan kalimat ini dan memobilisasi segala kekuatan mereka untuk memerangi setiap orang yang beriman terhadap kalimat ini dan memenuhi seruannya.


 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes